Oleh: subuki | Juli 26, 2010

Sholat Qoshor dan Jama’

I. Pendahuluan

Pada makalah ini, akan dipaparkan tentang shalat qashar dan shalat jama’. Shalat qashar adalah shalat yang disingkatkan. Qashar itu artinya singkat atau pendek yaitu shalat diantara shalat fardhu yang lima, yang mestinya empat rakaat dijadikan dua rakaat saja. Shalat yang boleh diqashar hanya shalat zuhur, ashar dan isya. Adapun magrib dan subuh tetap sebagai biasa.[1]

Sedangkan shalat jama’ adalah shalat yang dikumpulkan. Yang dimaksudkan adalah dikumpulkannya dua shalat wajib dalam waktu yang sama, misal: shalat zuhur dengan shalat ashar, shalat magrib dengan shalat isya. Shalat subuh tidak boleh dikumpulkan dengan shalat lain.[2]

Shalat qashar dan shalat jama’ adalah sama-sama dilakukan oleh orang yang sedang bepergian kesuatu tempat yang jauh (musafir), dan juga dibolehkan untuk mengqashar dan menjama’ shalatnya sekaligus (zuhur dengan ashar, masing-masing dua rakaat). Mengerjakannya boleh dengan jama’ taqdim (shalat zuhur dengan shalat ashar dikerjakan pada waktu zuhur dan shalat magrib dengan shalat isya dikerjakan pada waktu magrib) dan jama takhir (shalat zuhur dengan shalat ashar dikerjakan pada waktu ashar dan shalat magrib dengan shalat isya dikerjakan pada waktu isya).[3] Berikut ini beberapa contoh niat shalat jama’ dan qashar sekaligus, baik secara jama’ taqdim maupun jama’ takhir:

Niat shalat zuhur dan ashar dengan qashar sekaligus jama’ taqdim:

Ushalli fardhadh zuhri rak’ataini qashran majmuu’an bil ashri lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat zuhur dua rakaat qashar dan jama’ dengan ashar karena Allah ta’aala”.

Niat shalat ashar dengan zuhur sekaligus dengan qashar sekaligus jama’ takhir:

Ushalli fardhadh zuhri rak’ataini qashran majmuu’an bil ashri lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat zuhur dua rakaat qashar dan jama’ dengan ashar secara jama’ takhir karena Allah ta’aala”.

Niat shalat isya dan magrib dengan qashar sekaligus jama’ takhir:

Ushalli fardhadh ‘isyaa-i rak’ataini qashran majmuu’an bil maghribi lillahi ta’aalaa

Artinya: Aku niat shalat isya dua rakaat qashar dan jama’ dengan magrib karena Allah ta’aala”.[4]

Pelaksanaan shalat dengan cara jama’ taqdim harus memenuhi syarat:

1. Tartib, yakni melakukan kedua shalat itu sesuai dengan urutan waktunya. Waktu yang digunakan untuk jama’ taqdim adalah waktu shalat pertama, sedangkan shalat kedua merupakan turutan. Jadi, shalat pertama itulah semestinya yang didahulukan.

2. Niat shalat jama’ ketika takbiratul ihram shalat pertama atau setidaknya sebelum selesai shalat tersebut.

3. Wala’, artinya pelaksanaan secara beruntun, shalat kedua tidak berselang lama dari shalat pertama.

4. Keadaan sebagai musafir masih berlanjut ketika ia memulai shalat kedua.[5]

Apabila mengerjakan dengan jama’ takhir maka shalat zuhur dulu yang dikerjakan 2 rakaat baru shalat ashar 2 rakaat, begitu pula halnya dengan shalat magrib dan isya maka shalat magrib dulu yang dikerjakan 3 rakaat baru shalat isya 2 rakaat. Ini berdasarkan ijtihad dari para ulama yang berpedoman kepada hadits nabi, yang artinya ‘mulailah olehmu darimana Allah memulai”, maka yang mula datang menurut urutan adalah zuhur sebelum ashar dan magrib sebelum isya. Walaupun jama’ takhir, maka mulailah mengerjakan menurut asal datangnya.

Untuk jama’ takhir hanya dua syarat, yaitu:

a. Berniat pada waktu shalat pertama, akan menjama’kan shalat tersebut ke shalat kedua. Dengan demikian penundaan shalat tersebut tidak dianggap sebagai pelanggaran atau kelalaian.

b. Pelaksanaan kedua shalat itu dalam keadaan musafir. Bila safarnya putus sebelum kedua shalat itu selesai dilaksanakan maka shalat pertama menjadi shalat qadha.[6]

Shalat jama’ boleh juga dilakukan oleh orang yang tidak bepergian (mukim) pada waktu hujan atau ada hal-hal yang memaksakan kita untuk melakukan itu, sehingga kalau tidak dilaksanakan yang demikian, besar kemungkinan bisa menyebabkan tertinggalnya shalat. Misalnya kita sudah tidak tidur beberapa malam, karena menjaga orang yang sakit. Maka untuk lebih pulasnya tidur itu dibolehkan untuk menjama’ shalat. Nabi juga pernah menjama’ shalat tanpa ada suatu yang mencemaskan dan bukan pula karena hari hujan. Memang tidak dijelaskan dalam hadits itu, apa sebabnya nabi menjama’ tapi besar dugaan tentu ada yang menjadi penyebanya.[7]

Apabila mengerjakan shalat jama’ pada waktu mukim (menetap) maka harus dikerjakan pada waktu pertama dari kedua shalat tersebut (jama’ taqdim), bila mengerjakan shalat zuhur dan ashar maka harus diwaktu zuhur dan bila menjama’ shalat isya harus pada waktu magrib.

Demikianlah penjelasan singkat tentang shalat qashar dan shalat jama’. Pembahasan lebih lengkap akan dibahas pada bagian selanjutnya dari makalah ini.

II. Sumber Hadits

Adapun hadits yang dipaparkan adalah yang terdapat dalam kitab Lu’luul Marjan no. 401 dan 410, sebagai berikut:

Artinya:

Hadits Anas, dimana ia berkata: “kami keluar dari Madinah menuju ke Mekkah bersama-sama dengan Nabi saw, lalu beliau mengerjakan shalat dua rakaat sehingga kami kembali ke Madinah” Yahya bin Ishaq ditanya: “Berapa lama kamu bermukim (tinggal) di Mekkah?” Ia menjawab: “Kami bermukim selama sepuluh hari”.[8]

Al Bukhari mentakhrijkan hadits ini dalam “kitab mengqashar shalat” bab tentang menqashar dan berapa lama ia bisa mengqashar .

Artinya:

Hadits Anas bin Malik, dimana ia berkata: “Rasulullah saw apabila berangkat sebelum matahari tergelincir (ke barat), maka beliau mengakhirkan shalat dhuhur sampai waktu ashar, kemudian beliau turun lalu menjama’ kedua shalat itu. Apabila matahari sudah tergelincir sebelum berangkat, maka beliau mengerjakan shalat dhuhur, kemudian beliau naik kendaraan.[9]

Al Bukhari mentakhrijkan hadits ini dalam “kitab mengqashar shalat” bab tentang apabila seorang berangkat sesudah matahari tergelincir maka ia harus mengerjakan shalat zuhur kemudian naik kendaraan.

III. Dalil-Dalil Penguat

Adapun dalil-dalil yang dapat dijadikan penguat dari permasalahan shalat qashar dan shalat jama’ ini, diantaranya:

  • Firman Allah dalam Al-qur’an surah An-Nisa: 101 ( 101: النسء )

Artinya:

Dan apabila kamu di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (An-Nisa: 101).[10]

Umar, Aisyah dan Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah telah mewajibkan shalat dalam perjalanan, melalui nabinya sebanyak dua rakaat. Allah, Rasulullah, dan ijma’ kaum muslimin tidak mengkhususkan perjalanan yang bagaimana, kecuali dengan nash atau ijma’ yang diyakini kebenarannya.

  • Hadits nabi yang menjabarkan tentang firman Allah diatas:

Artinya:

“Dari Ya’la bin Umayah, ia berkata: “Aku berkata kepada Umar bin Khattab (yaitu ayat yang mempunyai arti) tidak ada dosa atasmu, bahwa kamu memendekkan (mengqashar) shalat, jika kamu khawatir akan bahaya dari orang-orang kafir, maka sesungguhnya sekarang manusia berada dalam keamanan. “Berkata Umar: “Memang aku merasa heran diantara hal yang mengherankan ku”. Maka aku tanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW dari hal yang demikian lalu beliau menjawab: “Itu adalah sedekah yang disedekahkan Allah kepadamu, maka terimalah sedekahnya itu” (HR. Jamaah, kecuali Bukhari).[11]

Deengan keterangan hadits diatas nyatalah bahwa mengqashar shalat dalam perjalanan adalah sebagai sunnah dan sebagai sedekah yang harus kita terima dengan segala senang hati dan tangan terbuka. Orang yang tidak mau atau menolak sedekah yang diberikan orang lain kepadanya, dianggap sebagai orang yang sombong, apalagi sedekah yang diberikan Allah.

Sebagai alasan bahwa Nabi dan sahabat-sahabatnya tidak pernah melaksanakan shalat secukupnya menurut shalat yang biasa dalam perjalanan ialah hadits yang tertera dibawah ini:

Artinya:

Terdapat dalam buku shahih Muslim, dari Ibnu Umar: “Aku telah menyertai (menemani) Nabi SAW dalam perjalanan, maka beliau tidak pernah melebihi shalatnya dari dua rakaat sampai beliau meninggal, aku telah menyertai Abu Bakar dalam perjalanan, maka tidak pernah ia melebihi shalatnya dari dua rakaat, sampai ia meninggal, aku telah menyertai Umar dalam perjalanan, maka tidak pernah ia melebihi shalatnya dari dua rakaat, sampai ia meninggal, aku telah menyertai Utsman dalam perjalanan, maka tidak pernah ia melebihi shalatnya dari dua rakaat sampai ia meninggal”.[12]

Ada pula hadits yang berasal dari Aisyah menurut riwayat yang menyatakan bahwa orang yang bepergian mengqashar shalatnya.

Artinya:

“Hadits Aisyah Ummul Mukminin, dimana ia berkata: “Allah mewajibkan shalat ketika mulai pertama diwajibkannya dua rakaat baik ditempat tinggalnya sendiri maupun dalam bepergian, kemudian shalat dalam bepergian itu ditetapkan (dua rakaat) dan shalat dalam tempat tinggalnya sendiri ditambah”.[13]

Al Bukhari mentakhrijkan hadits ini dalam “Kitab Shalat” bab tentang bagaimana shalat-shalat itu diwajibkan dalam Isra’ dan Mi’raj.

IV. Pendapat-Pendapat Para Ulama

Didalam pelaksanaan shalat Qashar dan shalat Jama’ ini terdapat berbagai macam pendapat yang dikemukakan oleh para ulama, diantaranya yaitu:

1. Tentang shalat qashar

a) Ibnul Qaiyim

Pendapat yang beliau kemukakan adalah bahwa:

“Jikalau bepergian, Rasulullah SAW selalu mengqashar shalat yang empat rakaat dan mengerjakannya hanya dua-dua rakaat, sampai beliau kembali ke Madinah, tidak ditemukan keterangan yang kuat bahwa beliau tetap melakukannya empat rakaat. Hal ini tidak menjadi perselisihan lagi bagi imam-imam walau mereka berlainan pendapat tentang hukum mengqashar. Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir menetapkan bahwa hukumnya wajib.[14]

b) Abu Hanifah (Mazhab Hanafi)

Berpendapat bahwa hukum mengqashar shalat adalah wajib, musafir yang tidak meringkas shalat yang empat rakaat, jika ia duduk pada rakaat kedua setelah tasyahud, maka shalatnya sah, hanya hukumnya makruh karena ia mengundurkan salam, sedang dua rakaat selanjutnya dianggap shalat. Tapi bila ia tidak duduk pada rakaat kedua itu maka shalatnya tidak sah. Dan jika berniat mukim 15 hari maka boleh mengqashar shalatnya. Pendapat ini juga sama dengan Al-Laits bin Sa’ad, Umar, Abdullah bin Umar, dan Ibnu Abbas. Ada juga riwayat yang menyatakan pendapat Said Ibnul Musaiyab juga sama dengan mazhab Hanafi ini.

c) Maliki (Mazhab Maliki)

Berpendapat bahwa hukum mengqashar shalat adalah sunat muakkad dan lebih ta’kid lagi dari shalat berjamaah, sehingga apabila musafir tidak mendapatkan kawan sesama musafir untuk berjamaah, hendaklah ia bershalat secara perseorangan dengan mengqashar, dan makruh baginya mencukupkan empat rakaat dan bermakmum kepada orang yang mukim. Dan jika seseorang berniat hendak mukim lebih dari empat hari, harus mencukupkan shalat dan kalau kurang boleh mengqashar.

d) Ahmad bin Hambal (Mazhab Hanbali)

Berpendapat bahwa hukum mengqashar shalat adalah jaiz atau boleh saja, hanya lebih baik daripada menyempurnakan.

e) Imam Syafi’i (Mazhab Syafi’i)

Berpendapat bahwa hukum mengqashar shalat adalah jaiz atau boleh saja, hanya lebih baik daripada menyempurnakannya. Kalau memang sudah mencapai jarak boleh mengqashar.[15]

Mengenai jarak bolehnya mengqashar shalat dapat diberi penjelasan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri, katanya:

Artinya:

“Apabila Rasulullah SAW bepergian sejauh satu farsakh, maka beliau mengqashar shalat (diriwayatkan oleh Sa’id bin Mashur dan disebutkan oleh Hafizh dalam At-Takhlis, dan ia mendiamkan hadits ini sebagai tanda pengakuannya.[16]

Satu farsakh itu sama dengan tiga mil atau 5541 meter sedang 1 mil sama dengan 1748 meter.

Tempat dibolehkannya memulai mengqashar shalat adalah setelah keluar dari rumah tempat kita tinggal (berdomisili). Dan bila seseorang telah kembali ke tempat tinggal asalnya atau telah berniat untuk menetap di tempat yang dituju itu, maka habislah baginya hukum qashar.

2. Tentang shalat jama’

Para ulama sependapat bahwa menjama’ shalat zuhur dan ashar secar taqdim pada waktu zuhur di Arafah, begitupun antara shalat magrib dan isya secara takhir diwaktu isya di mudzalifah, hukumnya sunnat, berpedoman kepada apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

Artinya: “Demi zat yang tiada tuhan selain Dia, Rasulullah tidak pernah mengerjakan satu shalat pun kecuali pada tepat waktunya selain shalat yang beliau jamak (gabung), yakni zuhur dengan ashar di Arafah dan magrib dengan Isya di Mudzalifah. (Diriwayatkan oleh Syaikhan)

Dan menjama’ dua shalat ketika bepergian, pada salah satu waktu dari kedua shalat itu, menurut sebagian besar para ahli hukumnya boleh, tanpa ada perbedaan, apakah dilakukannya itu sewktu berhenti ataukah selagi dalam perjalanan.

Dalam kitab Al-Muwaththa’ Malik meriwayatkan dari Mu’adz bahwa:

Artinya:

“Pada suatu hari nabi saw mengundurkan shalat diwaktu perang Tabuk dan pergi keluar, lalu mengerjakan shalat zuhur dan ashar secara jama’, setelah itu beliau masuk dan kemudian beliau pergi lagi dan mengerjakan shalat magrib dan isya secara jama’ pula.[17]

Berkata Syafi’i: “Kata-kata pergi dan masuk itu menunjukkan bahwa Nabi saw sedang berhenti. Lalu Imam Syafi’i juga berkata: “Jika seseorang bershalat magrib dirumahnya dengan niat menjama’, kemudian ia pergi ke mesjid melakukan shalat isya juga boleh”. Dikatakan bahwa Imam Ahmad juga berpendapat seperti itu.

Ada pula hadits dari Ibnu Umar yang membolehkan menjama’ dua shalat dalam bepergian.

Artinya:

“Hadits Ibnu Umar ra, dimana ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw, jika tergesa-gesa dalam berangkat, beliau mengakhirkan shalat magrib sehingga beliau menjama’ (mengumpulkan) shalat magrib dan shalat isya.[18]

Kemudian tentang menjama’ diwaktu hujan. Dalam sunnahnya Al-Atsram meriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman, katanya: “Termasuk sunnah Nabi saw. menjama’ shalat magrib dengan isya, apabila hari hujan lebat. Dan Bukhari meriwayatkan pula bahwa.

Artinya:

“Nabi saw menjama’ shalat magrib dan isya disuatu malam yang berhujan lebat”.[19]

  • Kesimpulan pendapat mazhab-mazhab mengenai soal ini ialah sebagai berikut: Golongan Syafi’i membolehkan seorang mukmin menjama’ shalat zuhur dengan ashar dan magrib dengan isya secara taqdim saja, dengan syarat adanya hujan ketika membaca takbiratul ihram dalam shalat yang pertama sampai selesai, dan hujan masih Turun ketika memulai shalat yang kedua.
  • Menurut Maliki, boleh menjama’ taqdim dalam mesjid antara magrib dengan isya disebabkan adanya hujan yang telah akan turun, juga boleh dikerjakan karena banyak lumpur ditengah jalan dan malam sangat gelap hingga menyukarkan orang untuk memakai sandal. Menjama’ shalat zuhur dengan ashar ini, dimakruhkan.
  • Menurut golongan Hanbali berpendapat bahwa boleh menjama’ magrib dengan isya saja, baik secara taqdim atau secara takhir, disebabkan adanya salju, lumpur, dingin yang amat sangat serta hujan yang membasahkan pakaian, dan khusus bagi orang yang tempatnya jauh dari mesjid.

Menjama’ sebab sakit atau uzur, menurut Imam Ahmad.,Imam Malik, Qadhie Husien, Al-Khaththabi dan Al Mutawali dari golongan Syafi’i membolehkan menjama’ baik taqdim atau taqdim dengan alasan karena kesukaran waktu itu lebih besar daripada kesukaran diwaktu hujan. Berkata Nawawi: “Dari segi alasan pendapat ini adalah kuat. Akan tetapi Syafi’i tidak mebenarkan jama’ karena sakit sebab menurutnya, illat yang menjadi alasan bolehnya jama’ itu adalah safar, jadi hanya terdapat dan berlaku bagi musafir.

Menurut ulama Hanbali boleh pula menjama’ baik taqdim atau takhir karena berbagai macam halangan dan juga sedang dalam ketakutan. Mereka membolehkan orang yang sedang menyusui bila sukar untuknya buat mencuci kain setiap hendak bershalat.

Kemudian menjama’ sebab ada keperluan tapi tidak karena sakit atau sebab-sebab lainnya, dan asal saja hal itu tidak dijadikannya kebiasaan, ada beberapa imam yang membolehkannya antara lain Ibnu Sirin dan Asy-hab dari golongan Maliki, dan menurut Al-Khaththabi, Qaffal dan Asy-Syasil Kabir dari golongan Syafi’i, Ishal Marwazi, jema’ah ahli hadits, Ibnul Mundzir, Ibnu Abbas.

V. Analisis Pendapat Sendiri

Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah dikemukakan para ulama, maka penulis mempunyai pendapatnya sendiri, yaitu:

Bagi orang yang sedang bepergian (musafir) boleh mengqashar shalat (menyingkat shalat fardhu yang empat rakaat menjadi dua rakaat) dengan beberapa syarat:

1. Kepergiannya bukan dalam rangka kemaksiatan

Jadi, qashar hanya dapat dilakukan pada safar yang dibenarkan oleh syari’at, meliputi:

a) Safar yang wajib, seperti safar haji.

b) Safar yang mandub, seperti menziarahi makam Rasulullah.

c) Safar yang mubah seperti perjalanan niaga.

2. jarak kepergiannya harus mencapai 16 farsakh (80 Km, lebih 640 m) atau 48 mil yang sama dengan 76, 80 Km.

3. Shalat yang diqashar itu harus shalat yang rakaatnya 4, dan bukan shalat qadha’.

4. Berniat qashar bersamaan dengan mengucapkan takbiratul ihram.

5. Tidak boleh bermakmum kepada orang yang menetap (mukim).[20]

6. Perjalanan itu dilakukan menuju ke suatu tempat tertentu, orang yang berjalan tanpa tujuan, sekalipun jarak yang ditempuhnya jauh tidak dibenarkan mengqashar shalat.

7. Shalat itu dilakukan setelah musafir melampaui batas kota atau desa yang menjadi awal safarnya. Diriwayatkan dari Anas, katanya:

Artinya: “Saya shalat zuhur bersama Rasulullah di Madinah empat rakaat dan Zul Hulaifah dua rakaat” (Hadits Jama’ah)[21]

8. Shalat tersebut dilakukan sepenuhya dalam keadaan musafir. Bila safarnya putus, misalnya ditengah pelaksanaan shalat itu ia sampai ketujuan, maka ia harus menyempurnakannya menjadi empat rakaat.

Artinya: “Rasulullah bermukim di Mekkah selama delapan belas hari dan selama itu pula beliau mengerjakan shalat hanya dua rakaat-dua rakaat, dan sabdanya: “wahai penduduk negeri ini, shalat lah empat rakaat, karena kami adalah musafir”. (Hadits Abu Daud)[22]

9. mengetahui bahwa ia boleh mengqashar shalat tersebut.[23]

Bagi orang musafir boleh menjama’ antara shalat zuhur dengan ashar diwaktu mana saja ia kehendaki dengan jama’ taqdim atau jama’ takhir, dan begitu pula halnya antara menjama’ antara shalat magrib dengan isya.

Orang yang tidak sedang bepergian atau mukim diperbolehkan menjama’ antara dua shalat (zuhur dengan ashar, magrib dengan isya), akan tetapi harus dikerjakan pada waktu pertama dari kedua shalat tersebut dan boleh pula menjama’ pada waktu hari hujan, karena sakit karena ada suatu keperluan.

Dari penjelasan diatas, dan berdasarkan pendapat para ulama, maka penulis menyimpulkan bahwa orang yang sedang bepergian (musafir) diharuskan mengqashar dan menjama’ shalatnya. karena itu merupakan sedekah dan keringanan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya. Sesuai dengan firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 101.

VI. Penutup

Kesimpulan

Dari Uraian yang telah disampaikan diatas dapat disimpulkan bahwa:

Shalat qashar adalah menyingkat shalat fardhu yang empat rakaat (zuhur, ashar, dan isya) menjadi dua rakaat, dan ini dikerjakan oleh orang yang sedang dalam perjalanan (musafir).

Shalat jama’ adalah mengumpulkan dua shalat wajib dalam waktu yang sama, misal: shalat zuhur dengan ashar, dan shalat magrib dengan shalat isya bisa dengan jama’ takhir.

Shalat jama’ juga boleh dikerjakan oleh orang yang tidak sedang bepergian (mukim), karena hari hujan, karena sakit, atau karena sebab-sebab atau keperluan lain yang mendesak.

Hukum shalat qashar apabila dalam perjalanan adalah wajib, akan tetapi adapula ulama yang berpendapat hukumnya sunnat muakkad, jaiz (boleh), sedangkan shalat jama’ juga boleh. Dan mengqashar shalat itu merupakan sedekah yang dikaruniakan Allah kepada mu semua, maka terimalah sedekah-Nya itu.

Jarak bolehnya mengqashar adalah 1 farsakh yang sama dengan 3 mil dan memulai mengqashar adalah apabila telah keluar dari rumah tempat tinggal.

Demikianlah yang dapat disimpulkan semoga kita dapat mengerjakan shalat qashar dan shalat jama’ ini apabila kita bepergian kesuatu tempat (musafir) karena ini merupakan sebuah keringanan dari Allah bagi hamba-Nya.

Dalam penulisan makalah ini, tentunya masih banyak terdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

- Abdul Baqi, Muhammad. 1993. Al-Lu’Lu wal Marjan. Semarang: Al-Ridha

- Abdussalam, Muhammad. 2006. Bid’ah-Bid’ah yang dianggap sunnah. Jakarta: Qisthi Press

- Ahmad, Abu Syuja’. 2000. Ringkasan Fiqih Islam. Surabaya: Al-Miftah

- Ahnan, Maftuh. 1998. Kumpulan Hadits Terpilih Shahih Bukhari. Surabaya: Terbit Terang

- Anwar, Muhammad. 1973. Fiqih Islam Tarjamah Matan Taqrib. Bandung: Al-Ma’arif.

- Ar-Rahbawi, Abdul Qadir. 1994. Shalat Empat Mazhab. Jakarta: PT. Intermasa

- Djamaris, Zainal Arifin. 1996. Menyempurnakan shalat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

- Effendi, Mochtar. 2000. Ensiklopedi Agama dan Filsafat. Palembang: Universitas Sriwijaya

- Nasution, Lahmudin. t. th. Fiqih 1. Jakarta: Logos

- Rifa’i. t. th. Pedoman Ibadah. Jombang: Lintas Media

- Sabiq, Sayyid. 1976. Fiqih Sunnah 2. Bandung: PT. Al-Ma’arif


[1] Mochtar Effendy, Ensiklopedi Agama dan Filsafat (Palembang, Universitas Sriwijaya, 2000) buku 5, h. 31

[2] Ibid, buku 3, h. 17-18

[3] Zainal Arifin Djamaris, Menyempurnakan Shalat (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 232

[4] Rifa’i. Pedoman Ibadah (Jombang ; Lintas Media, t. th) h. 43

[5] Lahmuddin Nasution, Fiqih I (Jakarta, Logos, t. th) h. 126

[6] Ibid, h.127

[7] Ibid, h. 237

[8] M. Fuad Abdul Baqi, Al Lu’lu Wal Marjan (Semarang, Al-Ridha, 1993) h. 397

[9] Ibid, h. 403-404

[10] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah 2 (Bandung, PT. Al Ma’arif, 1976) h. 264

[11] Zainal Arifin Djamaris, Menyempurnakan Shalat (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1996) h. 227-228

[12] Ibid, h. 229-230

[13] M. Fuad Abdul Baqi, Al-LU’Lu Wal Marjan (Semarang, Al-Ridha, 1993) h. 395

[14] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 2 (Bandung, PT. Al Ma’arif, 1976) h. 266

[15] Ibid, h. 267

[16] Zainal Arifin Djamaris, Menyempurnakan Shalat (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1996) h. 235

[17] Opcit, 279-280

[18] M. Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’Lu WAl Marjan (Semarang, Al-Ridha, 1993) h. 402-403

[19] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah 2 (Bandung, PT. Al-Ma’arif, 1976) h. 266

[20] Moch. Anwar, Fiqih Islam Tarjamah Matan Taqrib (Bandung, Al-Ma’arif, 1973)h. 62-63

[21] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah 2 (Bandung, PT. Al-Ma’arif, 1976) h. 264

[22] Abdul Qadir Ar-Rahbawi, Shalat Empat Mazhab (Jakarta, Pt. Intermasa, 1994)

[23] Lahmudin Nasution, Fiqih 1 (Jakarta, Logos t. th) h. 125


Responses

  1. assalamualaikum,,
    saya ingin bertanya,adakah terdapat khilaf ulama’ dalam jamak ta’khir tentang
    solat yang mana satu perlu didahulukan.
    contohnya,solat maghrib dan isya’,manakah yang perlu didahulukan ?(jamak takhir)
    syukran

    • wa’alaikumussalam , yang perlu didahulukan adalah sholat yang akan kita kerjakan pada waktunya, contoh : kita belum sholat magrib karena berda diperjalan maka sholat magrib kita jama’ dg sholat isya . maka yg kita kerjkan sholat isya dl baru magri”
      tapi pada hakekatnya dilakukan yang mana pulu diperbolehkan
      wasalam

    • para ulama sepakat yang didahulukan adalah pada saat kita melakukan sholat pada waktu itu.

      tapi yang lebh penting kita tdk meninggalkan sholat …… ya tidak …..?????

    • wa’alaikumussalam
      Berikut pendapat empat mazhab terkait shalat jamak.
      Pendapat Malikiyah
      Mereka berpendapat bahwa sebab-sebab shalat Jama’ itu sebagai berikut:
      1. Safar (melakukan perjalanan)
      2. Sakit
      3. Hujan
      4. Tanah berlumpur (becek) serta gelap pada akhir bulan.
      5. Ada di Arafah atau di Muzdalifah bagi yang menunaikan ibadah haji.
      Sebab pertam adalah “safar”. Yang dimaksud adalah semua perjalanan, mencapai jarak qashar ataupun tidak; dan disyaratkan perjalanan itu tidak haraam dan tidak pula makruh. Maka bagi orang yang melakukan safar yang hukumnya mubah, boleh menjamak antara shalat dzuhur dan ashar dengan jamak taqdim dengan dua syarat:
      a. Matahari telah tergelincir ket6ika sesorang musafir berhenti I suatu tempat untuk istirahat.
      b. Ia berniat untuk pergi sebelum waktu ashar masuk, dan akan berhenti untuk beristirahat lagi setelah terbenam matahari.
      Jika ia berniat berhenti sebelum matahari menguning, maka sebelum pergi hendaklah melaksanakan shalat Zhuhur terlebih dahulu dan wajib mengakhirkan shalat Ashar sehingga ia berhenti, karena berhentinya itu tepat pada waktunya yang iklntiyari (luas), maka tidak ada alasan baginya untuk menjama’ taqdim shalat tersebut. Jika ia jama’ toqdim dengan shalat Zhuhur, maka shalat sah, akan tetapi ia berdosa, dan disunnatkan baginya untuk mengulang shalat Ashar itu pada waktunya yang ikhtiyari tadi setelah ia berhenti. Sedang apabila ia berniat berhenti setelah matahari menguning (sebelum Maghrib), maka hendaklah ia melaksanakan shalat Zhuhurnya sebelum pergi, dan mengenai shalat Asharnya, boleh memilih, boleh di-taqdim, dan boleh juga di-ta’khir hingga ia berhenti, karena shalat Ashar itu – bagaimanapun juga – masih dilaksanakan pada waktu dharuri. Sebab bila Ashar itu di-taqdim tetap dilaksanakan pada waktu dharuri yang didahulukan karena alasan safar, dan bila di-ta’khir juga tetap dilaksanakan pada waktu dharuri yang disyari’atkan.
      Bila waktu Zhuhur telah masuk – yang ditandai dengan tergelincirnya matahari – sedangkan ia dalam perjalanan, maka bila ia berniat untuk berhenti ketika matahari menguning atau sebelum menguning, ia boleh men-ta’khir Zhtihur sehingga menjama’nya dengan Ashar setelah berhenti. Dan jika berniat untuk berhenti setelah matahari terbenam, maka ia tidak boleh men-ta’khir Ashar hingga berhenti, karena yang demikian itu dapat menyebabkan kehiarnya kedua shalat tersebut dari waktunya. Akan tetapi antara kedua shalat itu hendaklah dijama’ secara simbolis, yaitu dengan melaksanakan shalat Zhuhur pada akhir waktunya yang ikhtiyari dan melaksanakan Ashar pada awal waktunya yang ikhtiyari. Sedangkan shalat Maghrib dan Isya’ hukumnya sama dengan Zhuhur dan Ashar dalam semua rincian ini.
      Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa awal waktu shalat Maghrib, yaitu terbenamnya matahari, sama dengan kedudukan tergelincirnya matahari dibandingkan dengan shalat Zhuhur; dan sepertiga malam pertama sama kedudukannya dengan menguningnya matahari setelah Ashar. Sedangkan terbitnya fajar sama dengan terbenamnya matahari seperti yang telah dikemukakan tadi.
      Apabila ia memasuki waktu Maghrib sedang ia dalam keadaan berhenti, maka apabila ia berniat berangkat sebelum memasuki waktu Isya’ dan berherti sebelum terbit fajar, hendaklah ia men-jama’ taqdim shalat Isya’ dengan Maghribnya sebelum berangkat; dan apabila ia berniat berhenti sebelum sepertiga malam pertama, maka hendaklah ia men-ta’khir lsya’nya sehingga berhenti. Sedang apabila ia berniat berhenti setelah sepertiga malam pertama maka hendaklah ia melaksanakan shalat Maghribnya sebelum berangkat, dan mengenai shalat Isya’nya ia boleh memilih. Berdasarkan hal ini Anda dapat mengqiyaskan (mengambil perbandingan).
      Hukum shalat jama’ bagi seorang musafir adalah boleh, dalam artian khilaf al-Aula (menyalahi ketentuan yang lebih utama). Maka yang paling utama adalah meninggalkan jama’. Shalat jama’ itu hanya boleh dilaksanakan bila ia melakukan perjalanan darat. Sedang untuk perjalanan laut, maka tidak boleh menjama’ shalat, karena dispensasi (kebolehan) jama’ itu hanya berlaku unttik perjalanan darat, tidak untuk perjalanan lainnya.
      Sebab kedua, adalah sakit. bagi orang sakit yang susah untuk berdiri pada setiap kali shalat atau ia susah untuk wudhu’, seperti orang yang sakit perut, maka ia boleh menjama’ antara Zhuhur dan Ashar, dan antara Maghrib dan Isya’ secara simbolis, misalnya dengan cara melaksanakan Zhuhur pada akhir waktunya yang ikhtiyari dan melaksanakan Ashar pada awal waktunya yang ikhtiyari, serta melaksanakan shalat Maghrib sesaat sebelum hilangnya mega (merah) dan melaksanakan shalat Isya’ pada awal hilangnya mega (merah). Ini bukanlah jama’ hakiki, karena masing-masing shalat itu tetap dilaksanakan pada waktunya. Yang demikian itu hulnrmnya boleh, tidak makruh. Dan bagi orang yang melakukannya itu memperoleh keutamaan awal waktu. Berbeda halnya dengan orang yang tidak ada uzdur, sekalipun ia boleh melaksanakan shalat jama’ secara simbolis, akan tetapi ia telah kehilangan fadilah (keutamaan) awal waktu.
      Sedangkan orang sehat yang khawatir akan mengalami pusing kepala yang dapat menghalanginya melaksanakan shalat sesuai dengan cara yang semestinya, atau khawatir pingsan yang dapat menghalanginya melaksanakan shafat ketika memasuki waktu shalat yang kedua, seperti (waktu) Ashar bagi Zhuhur, dan (waktu) Isya’ bagi Maghrib, maka dibolehkan baginya men-taqdim shalat yang kedua bersama shalat yang pertama. Jika ia men-taqdim shalat tersebut sementara apa yang dikhawatirkannya itu tidak terjadi, maka sebaiknya ia mengulang Pada waktu itu juga, sekalipun pada waktu dharuri.
      Sebab ketiga dan keempat, yaitu hujan, berlumpur dan gelap. Apabila ada hujan lebat yang sampai menyebabkan seseorang menutup kepalanya, atau menyebabkan tanah sangat berlumpur yang sampai menyebabkan seseorang melepas sepatunya disertai gelap, maka dibolehkan menjama’ taq~lim lsya’ dengan Maghrib untuk tetap menjaga (pelaksanaan) shalat lsya’ dengan berjama’ah tanpa ada kesulitan. Maka ia berangkat ke masjid pada waktu Maghrib dan melaksanakan kedua shalat itu (Maghrib dan Isya’) sekaligus. Sholat jama’ semacam ini boleh dalam arti khilaf al-Aula (menyalahi ketentuan yang lebih utama). Yang demikian itu khusus dilaksanakan di dalam masjid; maka tidak boleh dilaksanakan di rumah-rumah.
      Mengenai sifat shalat jama’ ini, hendaknya dikumandangkan adzan Maghrib terlebih dahulu dengan suara keras sebagaimana biasanya, kemudian disunnatkan menunda shalat Maghrib itu setelah adzan sebatas lama kurang lebih melaksanakan tiga rakaat, baru kemudian melaksanakan shalat Maghrib. Lalu disunnatkan beradzan untuk shalat Isya’ di masjid, bukan di atas menara, agar tidak orang-orang tidak menduga telah masuk waktu Isya’ yang biasa. Adzan itu hendaklah dikumandangkan dengan suara rendah, kemudian shalat Isya’ itu dilaksanakan. Antara adzan dan Isya’ jangan sampai dipisah dengan shalat nafilah; demikian juga dimakruhkan melalcsanakan shalat nafilah antara setiap dua shalat yang dijama’. Bila dilaksanakan (shalat nafilah), itu tidak berarti menghalangi dilaksanakannya nafilah setelah Isya’ yang dijama’ karena hujan; dan hendaklah ia menunda shalat Witirnya sehingga mega merah hilang, karena shalat Witir itu tidak sah dilaksanakan kecuali setelah hilangnya mega merah. Bagi orang yang shalat sendirian tidak boleh melaksanakan shalat jama’ di masjid kecuali ia imam tetap yang mempunyai rumah tempat pulang, maka ia boleh menjama’ sendirian dengan niat jama’ sekaligus imamah, karena shalat jama’ itu (baginya) berfungsi sebagai shalat jama’ah. Bagi orang yang ber-i’tikaf di masjid boleh menjama’ mengikuti orang yang menjama’ di masjid tersebut, bila ada.
      Apabila hujan reda setelah memulai shalat pertama, maka ia (tetap) boleh menjama’, lain halnya bila hujan itu reda sebelum memulai shalat.
      Sebab kelima, ada di Arafat. Bagi yang menunaikan ibadah haji disunnatkan menjama’ antara shalat Zhuhur dan Ashar dengan jama’ taqdim di Arafat, baik ia penduduk Arafat atau salah seorang penduduk dari daerah tempat ibadah haji lainnya, seperti Mina dan Muzdalifah, atau salah seorang Penduduk daerah jauh. Dan disunnatkan bagi yang bukan penduduk Arafat untuk mengqashar, sekalipun jaraknya tidak mencapai jarak qashar.
      Sebab keenam, orang yang menunaikan ibadah haji itu ada di Muzdalifah. Bagi orang yang menunaikan ibadah haji, setelah bertolak dari Arafat disunnatkan men-ta’khir shalat Maghribnya hingga ia sampai di Muzdalifah, maka shalat Maghrib itu di-jama’ ta’khir dengan shalat Isya’nya. Shalat jama’ ini hanya disunnatkan bagi seseorang yang wuquf di Arafat bersama imam. Jika tidak, maka hendaklah ia melaksanakan masing-masing shalat itu pada waktunya. Dan disunnakan mengqashar shalat Isya’ bagi selain penddatang Muzdalifah , karena qaidah (yang mereka pakai) bahwa menjama’ itu hukumnya sunnat bagi setiap jama’ah haji, sedangkan qashar adalah khusus bagi selain penduduk yang tinggal di tempat itu, yakni Arafat dan Muzdalifah.
      Pendapat Syafi’iyah
      Mereka berpendapat bahwa seorang musafir yang melakukan perjalanan qashar yang telah dikemukakan terdahulu dengan memenuhi syarat-syarat safar dibolehkan men-jama’ taqdim atau ta’khir antara dua shalat yang tetah disebutkan tadi; dan dibolehkan men-jama’ taqdim saja disebabkan hujan. Dalam jama’ taqdim terdapat enam syarat, yaitu:
      1. Tertib, yaitu dengan memulai shalat yang mempunyai wakrii tersebut. Bila musafir itu berada pada waktu Zhuhur dan hendak melaksanakan shalat Ashar bersama Zhuhur pada waktu Zhuhur, maka ia harus memulai dengan shalat Zhuhur. Jika dibalik, maka shalat Zhuhur itu sah, sehagai yang mempunyai waktu; sedangkan shalat yang sebelum Zhuhur (yaitu Asharf tidak sah sebagai shalat fardhu dan tidak pula sebagai nafilal, (yaitui) bila ia tidak mempunyai tanggungan shalat fardhu (Ashar) yang sama. Bila mempunyai tanggungan itu, maka shalat tersebut berfungsi sebagat. penggantinya. Jika ia lakukan hal tersebut karena lupa atau tidak tahu, maka shalat tersebut sah sebagai nafilah.
      2. Niat shalat jama’ itu dilakukan dalam shalat pertama, yaitu dengan berniat dalam hatinya bahwa ia akan melaksanakan shalat Ashar setelah shalat Zhuhur. Niat tersebut disyaratkan agar dilakukan dalam shalat pertama sekalipun bersamaan dengan salamnya. Maka niat itu tidak cukup dilakukan sebelum takbiratul ihram (shalat kedua) dan tidak pula setelah salam (shalat pertama).
      3. Menyegerakan antara kedua shalat tersebut, dalam arti jarak antara keduanya tidak boleh lama sebatas cukup melaksanakan dua raka’at yang sesederhana mungkin. Maka ia tidak boleh melaksanakan shalat sunnat rawatib di antara kedua shalat tersebut. Antara kedua shalat itu boleh dipisah dengan adzan, iqamah dan bersuci. Jika ia melaksanakan shalat Zhuhur dengan tayamum, kemudian hendak menjama’ shalat Ashar hersamanya, maka tidak batal memisah (kedua shalat itu) dengan tayamum yang kedua kalinya untuk shalat Ashar, karena menjama’ antara dua shalat tidak boleh dengan satu tayamum, sebagaimana terdahulu.
      4. Perjalanan tersebut tetap berlangsung hingga ia memulai shalat kedua yang ditandai dengan takbiratul ihram, sekalipun setelah itu perjalanan tersebut terputus ketika sedang melaksanakan shalat. Sedang apabila perjalanannya itu terputus sebelum memulai shalat, maka jama’nya itu tidak sah karena hilangnya sebab.
      5. Waktu shalat yang pertama diyakini masih ada hingga ia melaksanakan shalat yang kedua.
      6. Shalat yang pertama diduga kuat sah. Jika shalat yang pertama adalah shalat Jum’at yang didirikan di suatu tempat yang terdapat banyak masjid tanpa ada suatu kebutuhan sementara ia ragu-ragu apakah shalat Jum’at yang ia laksanakan itu lebih dulu selesai atau bersamaan? maka shalat Ashar itu tidak sah dijama’ taqdim dengan shalat Jum’at yang lebih utama adalah meninggalkan Jama’, karena tentang kebolehannya masih diperselisihkan dalam pendapat berbagai madzhab. Akan tetapi shalat jama’ itu hukumnya sunnat apabila seorang yang melakukan ibadah haji itu melakukan perjalanan, sedang ia tinggal di Arafat atau di Muzdalifah. Yang afdhal bagi yang pertama (yang tinggal di Arafat) adalah men-jama’ taqdim Ashar dengan Zhuhur. Sedangkan bagi yang kedua (yang tinggal di Muzdalifah) adalah men-jama’ ta’kmir Maghrib dengan Isya’, karena para madzhab sepakat dengan bolehnya menjama’ keduanya.
      Dan ketahuilah bahwa jama’ itu terkadang juga hukumnya wajib dan terkadang mandub. Apabila waktu shalat yang pertama itu tidak cukup untuk melakukan thaharah (bersuci) dan shalat, maka ia wajib men-jama’ ta’khir. Dan disunnatkan menjama’ bagi yang menunaikan haji yang bepergian seperti yang telah dijelaskan terdahulu, sebagaimana juga disunnatkan apabila dengan jama’ tersebut dapat menyebabkan sempurnanya shalat, misalnya ia berjama’ah ketika menjama’ sebagai pengganti shalatnya yang sendirian ketika ia tidak menjama’.
      Untuk menjama’ ta’khir shalat ketika bepergian disyaratkan dua hal:
      1. Berniat ta’khir pada waktu shalat yang pertama selama sisa waktunya itu masih cukup untuk melaksanakan shalat dengan sempurna atau qashar, Bila ia tidak berniat ta’khir, atau berniat ta’khir akan tetapi sisa waktunya tidak cukup untuk melaksanakan shalat, berarti ia telah berdosa. Dan shalat itu menjadi shalat qadha’ bila ia tidak sempat melaksanakan satu raka’at dari shalat tersebut pada waktunya. Bila sempat, berarti shalat itu dihukumi sebagai shalat ada’ (shalat tunai) namun hukumnya tetap haram.
      2. Perjalanan itu tetap berlangsung hingga kedua shalat tersebut sempur. Jika sebelum itu ia mukim, maka shalat yang diniatkan ta’khir itu memjadi shalat qadha’. Sedangkan menertibkan dan menyegerakan antara shalat itu – dalam jama’ ta’khir – hukumnya sunnat, bukan syarat.
      Bila salah satu dari syarat-syarat di atas tidak terpenuhi, maka tidak boleh bagi yang mukim menjama’ shalat. Gelap gulita, angin, takut, tanah berlumpur (becek) dan sakit bukanlah termasuk sebab-sebab yang membolehkan jama bagi seorang yang mukim, berdasarkan pendapat yang masyhur; sedang pendapat yang rajih membolehkan jama’ taqdim dan ta’khir dengan alasan sakit.
      Pendapat Hanafiyah
      Mereka berpendapat bahwa menjama’ antara dua shalat dalam satu waktu tidak boleh, baik dalam safar ataupun pada saat hadhar (ada di kampung halaman) dengan alasan apapun, kecuali dalam dua hal, yaitu:
      Pertama: Boleh men-jama’ taqdim Zhuhur dan Ashar pada waktu Zhuhur dengan empat syarat:
      1. Shalat jama’ itu dilakukan pada hari Arafah (bagi jama’ah haji).
      2. Orang tersebut sedang dalam ihram haji.
      3. Berjama’ah di belakang imam kaum muslimin atau wakilnya.
      4. Shalat Zhuhur yang ia laksanakan itu sah. Bila ternyata shalat Zhuhur itu ketahuan batal, maka ia wajib mengulangnya, dan dalam hal ini ia tidak boleh menjama’ shalat Zhuhur itu dengan Ashar, melainkan ia wajib melaksanakan Ashar itu bila waktunya telah masuk.
      Kedua, Boleh men-jama’ ta’khur Maghrib dan Isya’ pada waktu Isya’ dengan dua syarat:
      1. Orang tersebut ada di Muzdalifah.
      2. Ia sedang dalam ihram haji.
      Kedua shalat itu dijama’ tanpa diadzankan kecuali sekali, sekalipun masing-masing dari kedua shalat tersebut menggunakan iqamah tersendiri. Abdullah bin Mas’ud berkata:
      “Demi Dzat Yang tiada Tuhan selain Dia, Rasulullah SAW belum pernah melaksanakan shalat kecuali pada waktunya, selain dua shalat, yaitu jama’ antara Zhuhur dan Ashar di Arafat dan jama’ antara Maghrib dan Isya’ di Muzdilifah.” (H.R. Imam Bukhari dan Muslim).
      Pendapat Hanabilah
      Mereka berpendapat bahwa menjama’ taqdim atau ta’khir antara 2huhur dan Ashar, atau antara Maghrib dan Isya’ itu hukumnya mubah (boleh), sedangkan meninggalkan jama’ hukumnya afdhal. Men-jama’ taqdim antara 2huhur dan Ashar hanya sunnat dilaksanakan di Arafat. Dan men-jama’ ta’khir antara Maghrib dan Isya’ hanya sunnat dilaksanakan di Muzdalifah.
      Menjama’ shalat itu boleh dengan syarat ia musafir yang perjalanannya mencapai jarak qashar, atau ia sakit di mana akan menyusahkannya dengan tidak menjama, atau ia seorang wanita yang sedang menyusui atau sedang mengalami darah istihadhah, maka ia boleh menjama’, untuk menghndari kesulitan dalam bersuci pada setiap kali akan melaksanakan shalat. Yang semisal dengan wanita udzur yang sedang mengalami istihadhah adalah orang yang terkena penyakit beser (sering kencing). Begitu pula jama’ itu boleh bagi yang tidak mampu bersuci dengan air dan tayamum pada setiap kali shalat. Dan boleh juga dilakukan oleh seseorang yang tidak mampu mengetahui waktu shalat, seperti orang buta dan orang yang tinggal di bawah tanah. Demikian juga dibolehkan menjama’ bagi orang yang mengkhawatirkan (keselamatan dirinya, hartanya atau kehormatannya; serta bagi orang yang mengkhawatirkan suatu bahaya yang dapat mengancam dirinya dalam hidupnya dengan meninggalkan jama’ tersebut. Juga bagi para pekerja yang tidak mungkin untuk meninggalkan pekerjaannya diberi keluasan (keringanan) untuk melakukan shalat jama’.
      Semua hal tadi membolehkan jama’ antara Zhuhur dan ‘Ashar atau antara Maghrib dan Isya’ dengan jama’ taqdim dan ta’khir. Dan boleh menjama’ antara Maghrib dan Isya’ secara khusus karena salju, dingin, air membeku, tanah berlumpur, angin kencang yang dingin dan hujen yang dapat membasahi pakaian dan dapat menimbulkan kesusahan. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara shalat di rumah atau di masjid, sekalipun jalannya beratap. Yang afdhal adalah hendaknya ia memilih yang lebih mudah dalam menjama’ antara taqdim” atau ta’khir. Jika antara keduanya itu seimbang, maka yang afdhal adalah men-jama’ ta’khir. Dan untuk sahnya jama’ taqdim dan ta’khir itu disyaratkan hendaklah ia tetap menjaga tertibnya shalat antara shalat-shalat tersebut. Dalam hal ini shalat jama’ tidaklah gugur karena lupa, sebagaimana ia gugur ketika mengqadha shalat yang tertinggal, yang akan dijelaskan nanti.
      Untuk sahnya jama’ taqdim itu sendiri disyaratkan empat hal:
      1. Berniat jama’ ketika takbiratul ihram dalam shalat yang pertama.
      2. Antara kedua shalat itu tidak boleh terpisah kecuali sebatas iqamah dan benuudhu sekedarnya. Jika melaksanakan shalat sunnat rawatib di antara kedua shalat tersebut, maka jama’ itu tidak sah
      3. Ada udzur yang membolehkan jama’ ketika memulai kedua shalat tersebut ketika mengucapkan salam dalam shalat yang pertama.
      4. Udzur tersebut tetap berlangsung hingga selesai melaksanakan shalat yang kedua.
      Untuk jama’ ta’khir itu sendiri disyaratkan dua hal:
      1. Berniat menjama’ pada waktu shalat yang pertama, kecuali apabila kedua shalat waktunya sempit untuk melakukan niat tersebut, maka pada saat itu ia tidak boleh menjama’ dengan shalat yang kedua.
      2. Udzur yang membolehkan jama’ itu tetap berlangsung sejak menentukan niat jama’ pada waktu shalat pertama hingga memasuki waktu shalat yang kedua


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: