Oleh: subuki | Oktober 6, 2012

PENGANTAR UMUN PSIKOLOGI

  • 1. PENGANTAR UMUN PSIKOLOGI 

     

  • 2. BAB I PENDAHULUAN Psikiatri adalah cabang (Spesialisme) dari ilmu kedokteran. Karena itu bidangnya yang utama juga mengenai penyakit- penyakit, dalam hal ini penyakit yang menyangkut jiwa seseorang. Dipihak lain, psikologi mempelajari tingkah laku pada umumnya, jadi tidak begitu mementingkan penyakit- penyakit. Meskipun demikian memang sering terjadi pertautan karena akhir- akhir ini tidak berorientasi medis saja, tetapi sudah memperhatikan faktor- faktor sosial. Sebaliknya psikologi pun dikenal bidang psikologi klinis atau psikologi abnormal.
  • 3. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dengan lingkungannya. Sedangkan psikiatri adalah cabang dari ilmu kedokteran mengenai penyakit- penyakit jiwa seseorang. Perbedaan antara psikologi klinis dengan psikiatrer adalah pada metode pendekatan. Teknik yang dipergunakan dalam psikologi adalah pemeriksaan psikologis, wawancara, observasi, dan pemberian nasihat. Sedangkan teknik yang dipergunakan oleh psikiater adalah teknik- teknik kedokteran, yaitu dengan obat- obatan.
  • 4. BAB II MANUSIA CIRI- CIRI TINGKAH LAKU MANUSIA Ciri- ciri tingkah laku manusia yang membedakannya dari mahluk- mahluk lain : Kepekaan sosial Kelangsungan tingkahlaku Orientasi pada tugas Usaha dan perjuangan Tiap- tiap individu manusia adalah unik PERKEMBANGAN MANUSIA Tahap- tahap perkembangan manusia : Masa Kanak- kanak Masa remaja Masa Dewasa Masa Tua
  • 5. Manusia selain merupakan makhluk biologis yang sama dengan makhluk hidup lainnya juga merupakan makhluk yang mempunyai sifat- sifat tersendiri yang berbeda dari segala makhluk lainnya. Manusia tidak semata- mata tunduk pada kodratnya dan secara pasif menerima keadaannya, tetapi ia selalu aktif menjadikan dirinya sesuatu. Proses perkembangan manusia sebagian besar ditnetukan oleh kehendaknya sendiri, berbeda dengan makhluk- makhluk lainnya yang sepenuhnya tergantung pada alam.
  • 6. BAB III FUNGSI PSIKIS BERPIKIR DAN BELAJAR Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar : Waktu istirahat. Pengetahuan tentang materi yang dipelajari secara menyeluruh. Pengertian terhadap materi yang dipelajari. Pengetahuan akan prestasi sendiri. INGATAN Beberapa cara untuk mengingat kembali hal- hal yang sudah pernah diketahui sebelumnya : Rekoleksi Pembaruan ingatan Memanggil kembali ingatan Rekognisi Mempelajari kembali
  • 7. EMOSI Perubahan- perubahan pada tubuh kita pada saat terjadi emosi, antara lain :  Reaksi elektris pada kulit  Peredaran darah  Denyut jantung  Pernafasan  Pupil mata MOTIF Penggolongan motif menurut W.I.Thomas, yaitu : Motif rasa aman Motif respons Motif pengalaman baru Motif Pengenalan diri
  • 8. Jadi, belajar adalah suatu proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi atas situasi yang terjadi. Mengingat adalah perbuatan menyimpan hal- hal yang sudah pernah diketahui untuk pada suatu saat dikeluarkan atau digunakan kembali. Emosi adalah perasaan senang atau perasaan tidak senang yang selalu menyertai perbuatan- perbuatan kita sehari- hari. Motif adalah rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu tingkahlaku.
  • 9. BAB IV KEKHUSUSAN INDIVIDUAL INTELEGENSI PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN Karakteristik- karakteristik untuk mengenali kepribadian : Penampilan fisik. Temperamen. Kecerdasan dan kemampuan. Arah minat dan pendangan mengenai nilai- nilai. Sikap Sosial. Kecendrungan- kecendrungan dalam motivasinya. Cara- cara pembawaan diri. Kecendrungan patologis.
  • 10. FAKTOR PEMBAWAAN DAN LINGKUNGAN Beberapa aliran mengenai perkembangan manusia :  Aliran Nativisme  Aliran Empirisme  Aliran Konvergensi JENIS KEPRIBADIAN Penggolongan menurut Kretschmer yang mendasarkan pada ciri- ciri fisik dan berorientasi kepada penyakit- penyakit kejiwaan : Jenis Asthenis Jenis Atletis Jenis Piknis Jenis Displastis
  • 11. Tiap individu mempunyai kekhususan sendiri yang membedakan dengan individu- individu lainnya. Kalau kita pandangi orang- orang yang berada disekitar kita, maka secara sepintas saja akan nampak bahwa mereka itu berlainan satu sama lainnya. Ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang cantik, ada juga yang kurang menarik wajahnya, ada yang kuat, ada yang lemah dan sebagainya.
  • 12. BAB V INTERAKSI SOSIAL KOMUNIKASI Komunikasi adalah proses pengiriman berita dari seseorang kepada orang lain. Dalam tiap bentuk komunikasi selalu terdapat 4 unsur yaitu : Adanya pengirim dan penerima berita. Adanya berita yang dikirim. Ada media atau alat pengiriman berita. Ada sistem simbol yang digunakan untuk menyatakan berita. SIKAP Sikap dapat terbentuk atau berubah melalui 4 macam cara yaitu : Adopsi Diferensiasi Integrasi Trauma
  • 13. TINGKAHLAKU KELOMPOK Ada 2 teori yang menerangkan tingkahlaku kelompok yaitu : ~ Teori yang dikemukakan oleh tokoh- tokoh psikologi dari aliran- aliran klasik. ~ Teori yang dikemukakan oleh psikologi dari Perancis bernama Gustave Le Bon. NORMA SOSIAL Pengaruh norma sosial terhadap kepribadian individu anggota kelompok adalah : Norma sosial merupakan faktor yang mendorong motivasi. Norma sosial selalu menimbulkan tekanan psikis. Norma- norma yang saling bertentangan memaksa individu untuk memilih salah satu norma saja untuk diikutinya.
  • 14. Sebagaimana diketahui. Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupan sehari- hari. Oleh karena itu tidak dapat dihindari bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hubungan manusia dengan manusia lainnya, atau hubungan manusia dengan kelompok, atau hubungan kelompok dengan kelompoknya inilah yang disebut sebagai interaksi sosial. Beberapa aspek yang mendasari interaksi sosial tersebut, yaitu komunikasi, sikap. Tingkahlaku kelompok, dan norma- norma sosial.
  • 15. BAB VI KELAINAN PSIKIS KETERBELAKANGAN MENTAL Berdasarkan taraf intelegensinya, orang terbelakang dapat dibagi- bagi yaitu : Idiot Imbesil Debil atau moron KELAINAN SEKSUAL Ada 2 macam kelainan pada tingkahlaku, yaitu : Kelainan pada obyeknya Kelainan pada caranya PSIKONEUROSIS Neurosis kekuatiran Histeria Neurosis obsesif – kompulsif
  • 16. PSIKOSIS Jenis- jenis psikosis adalah sebagai berikut : ~ Skizofreni ~ Paranoia dan kondisi paranoid ~ Psikis manis – Depresif PSIKOPATI Beberapa jenis psikopati antara lain : Jenis yang simpatik tetapi tidak bertanggung jawab. Jenis yang memusuhi dan memberontak terhadap semua hal yang tidak disukainya. Jenis Hipokondris. Jenis yang anti sosial.
  • 17. Didalam psikologi dikenal tingkahlaku- tingkahlaku yang menyimpang dari tingkahlaku yang normal. Penyimpangan tingkahlaku ini desebabkan oleh adanya kelainan psikis pada orang yang bersangkutan. Kelainan- kelainan psikis seringkali disebabkan oleh penyakit- penyakit badaniah. Disampaing itu, kelainan psikis dapat juga dianggap sebagai penyakit kejiwan. Oleh karena itu, kelainan psikis dipelajari juga oleh ilmu kedokteran, khusus dalam bidang psikiatri.

     

  • 18. DAFTAR PUSTAKA Crow L.D. , Crow A : Reading in Abnormal Psichology, Littkefield, Adams Paterson, New Jersey, 1960. Noyes A.P. , Kolb L.C. Modern Clinical Psychiatry, W.B. Saunders Co, Philadelphia, 1954.
Oleh: subuki | Oktober 6, 2012

Materi Mata Kuliah Psikologi Umum

Materi Mata Kuliah Psikologi Umum

A. Definisi psikologi :
Pengertian psikologi, menurut asal katanya psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Psyche dan Logos. Psyche berarti jiwa, sukma dan roh, sedangkan logos berarti ilmu pengetahuan atau studi. Jadi pengertian psikologi secara harfiah adalah ilmu tentang jiwa. 
Woodwoth dan Marquis mengemukakan “psychology is the scientific study of the individual activities in relation to environment”. (Psikologi adalah ilmupengetahuan yang mempelajari perilaku. dalam hubungan dengan lingkungannya).
Istilah psikologi digunakan pertama kali oleh seorang ahli berkebangsan Jerman yang bernama Philip Melancchton pada tahun 1530.
Psikologi sebagai ilmu, Istilah psikologi sebagai ilmu jiwa tidak digunakan lagi sejak tahun 1878 yang dipelapori oleh J.B Watson sebagai ilmu yang mempelajari perilaku karena ilmu pengetahuan menghendaki objeknya dapat diamati, dicatat dan diukur, jiwa dipandang terlalu abstrak, dan jiwa hanyalah salah satu aspek kehidupan individu. 
Psikologi dapat disebut sebagai ilmu yang mandiri karena memenuhi syarat berikut: 1) secara sistematis psikologi dipelajari melalui penelitian-penelitian ilmiah dengan menggunakan metode ilmiah, 2) memiliki struktur kelimuan yang jelas, 3) memiliki objek formal dan material, 4) menggunakan metode ilmiah seperti eksperimen, observasi, case history, test and measurement, 4) memliki terminologi khusus seperti bakat, motivasi, inteligensi, kepribadian, dan 5) dapat diaplikasikan dalam berbagai adegan kehidupan.
Objek kajian psikologi :
Berdasar batasan ilmu, obyek psikologi adalah tingkah laku manusia, normal maupun tidak (sakit).
Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung.
Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

B. Tujuan Dan Faedah Dalam Mempelajari Materi Psikologi Umum
Tujuan mempelajari psikologi dapat memiliki tiga kemampuan dasar:
a) Understanding : memiliki pengetahuan tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip psikilogi yang umumnya mendasari tingkah laku.
b) Predicting: Berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya, diharapkan mampu mendeteksi permasalahan-permasalahan psikologis yang terjadi di lapangan pendidikan.
c) Controlling : mampu menguasai dirinya dan terampil mengatasi permasalahan kependidikan dengan Psikologis.

C. Metode-Metode Ilmiah Dalam Mempelajari Psikologi Umum :
a) Metode yang bersifat filosofis
1) Metode intuitip : dilakukan dengan cara sengaja untuk mengadakan suatu penyelidikan atau dengan cara tidak sengaja dalam pergaulan sehari-hari. 
2) Metode kontemplatif : dilakukan dengan jalan merenungkan obyek yang akan diketahui dengan mempergunakan kemampuan berpikir kita. Alat utama yang dipergunakan adalah pikiran yang benar-benar sudah dalam keadaan obyektif.
3) Metode filosofis religius : digunakan dengan mempergunakan materi-materi agama, sebagai alat utama untuk meneliti pribadi manusia. Nilai-nilai yang terdapat dalam agama itu merupakan kebenaran-kebenaran absolut dan pasti benar.
b) Metode yang bersifat empiris
1) Metode observasi : metode untuk mempelajari kejiwaan dengan sengaja mengamati secara langsung, teliti, dan sistematis.
a. Metode introspeksi (retrospeksi): retrospeksi artinya melihat kembali. Penyelidik melihat kembali peristiwa-peristiwa kejiwaan yang telah terjadi dalam dirinya sendiri, dan bukan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. 
b. Metode introspeksi instrumental: suatu metode introspeksi yang dilaksanakan dengan mengadakan eksperimen-eksperimen secara sengaja dan dalam suasana yang dibuat. Merupakan penggabungan dari metode introspeksi dan eksperimen, sebagai upaya untuk mengatasi sifat subyektifitas dari metode introspeksi. Pada introspeksi murni, hanya diri penyelidik yanng menjadi obyek, akan tetapi pada introspeksi eksperimen, jumlah subyek terdiri dari beberapa orang yang dieksperimentasi. Sehingga hasil penyelidikan lebih bersifat obyektif.
c. Metode ekstrospeksi (melihat keluar): suatu metode dalam ilmu jiwa yang berusaha untuk menyelidiki atau mempelajari dengan sengaja dan teratur gejala-gejala jiwa sendiri dengan membandingkan gejala jiwa orang lain dan mencoba mengambil kesimpulan dengan melihat gejala-gejala jiwa yang ditunjukkan dari mimik dan pantomimik orang lain.
2) Metode pengumpulan data
Suatu penyelidikan yang dilakukan dengan mengolah data-data yang didapat dari kumpulan daftar pertanyaan dan jawaban (angket), bahan-bahan riwayat hidup ataupun bahan-bahan lain yang berhubungan dengan apa yang diselidiki.
a) Metode angket-interview : metode angket ialah suatu penyelidikan yang dilaksanakan dengan menggunakan daftar pertanyaan mengenai gejala-gejala kejiwaan yang harus dijawab oleh orang banyak, sehingga berdasarkan jawaban yang diperolehnya itu, dapat diketahui keadaan jiwa seseorang. 
b) Metode biografi : lukisan atau tulisan perihal kehidupan seseorang, baik sewaktu ia masih hidup maupun sesudah meninggal. Kelemahan: sifat subyektifitas.
c) Metode pengumpulan bahan : suatu metode yang dilaksanakan dengan jalan mengumpulkan bahan-bahan terutama pengumpulan gambar-gambar yang dibuat oleh anak-anak. Kelemahan : si penyelidik tidak berhadapan secara langsung, dan kadang-kadang tidak tahu situasinya pada waktu membuat hasil karya tersebut, menginterpretasi gambaran, tulisan (graphologi) dan hasil-hasil karya yang lain dari seseorang tidaklah mudah dan juga bersifat subyektif. 
3) Metode eksperimen : pengamatan secara teliti terhadap gejala-gejala jiwa yang kita timbulkan dengan sengaja. Hal ini dimaksudkan untuk menguji hipotesa pembuat eksperimen tentang reaksi-reaksi individu atau kelompok dalam suatu situasi tertentu. Tujuan eksperimen ialah untuk mengetahui sifat-sifat umum dari gejala-gejala kejiwaan, misalnya pikiran, perasaan, kemauan, ingatan, fantasi dll. Kelemahan: eksperimen biasanya dilaksanakan pada benda mati yang mempunyai hukum-hukum tetap , sedang jiwa adalah sesuatu yang hidup; tidak semua gejala kejiwaan dapat diselidiki secara eksperimen; dalam laboratorium tidak wajar; gejala-gejala kejiwaan sukar untuk diukur secara eksak.
4) Metode klinis ialah nasihat dan bantuan kedokteran, yang diberikan kepada para pasien, oleh ahli kesehatan. Metode klinis dalam psikologi ialah kombinasi dari bantuan klinis- medis dengan metode pendidikan, untuk melakukan observasi terhadap para pasien. Observasi dilakukan dalam ruang-ruang klinik dengan fasilitas yang cukup, untuk meneliti segala tingkah laku pasien.

D. Hubungan psikologi dengan berbagai ilmu, antara lain sebagai berikut:
a) Hubungan Antara Psikologi Umum Dengan Biologi :
Biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan. Baik psikologi maupun biologi sama-sama membicarakan manusia. Ada hal yang sama-sama dipelajari oleh kedua ilmu tersebut yaitu soal keturunan. Soal keturuna ditinjau dari segi biologi adalah hal-hal yang berhubungan dengann aspek-aspek kehidupan yang turun temurun dari suatu generasi ke generasi lain, misalnya hukum Mendel. Soal keturunan yang dipelajari psikologi antar alin misalnya sifat, inteligensi, bakat. Ilmu biologi (antropobiologi maupun fisiologi) membantu dalam orang mempelajari psikologi.
b) Hubungan psikologi dengan sosiologi :
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia, mempelajari manusia di dalam hidup bermasyarakat. Karena itu psikologi dan sosiologi sama-sama membicarakan manusia. Titik pertemuan di dalam meninjau manusia itu, misalnya soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi ialah bahwa tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan, yang didorong oleh motif tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat. 
c) Hubungan psikologi dengan Ilmu pengetahuan Alam
Dengan memisahkan diri dari filsafat, ilmu pengetahuan alam mengalami kemajuan yang pesat hingga IPA mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu lain, termasuk psikologi. Khususnya metode IPA mempengaruhi perkembangan metode dalam psikologi. Metode yang ditempuh oleh fechner yang dikenal dengan metode psikofisik, suatu metode yang tertua dalam lapangan psikologi eksperimental, banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam. Dan merupakan suatu kenyataan karena pengaruh ilmu pengetahuan alam, psikologi dapat diakui sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri terlepas dari filsafat, walaupun akhirnya ternyata bahwa metode ilmu pengetahuan alam kurang digunakan seluruhnya terhadap psikologi, disebabkan karena perbedaan dalam obyeknya. Ilmu pengetahuan alam berobyekkan benda-benda mati, sedangkan psikologi berobyekkan manusia yang hidup.
d) Hubungan psikologi dengan filsafat
Sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari filsafat, karena metode yang ditempuh sebagai salah satu sebabnya, tetapi psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat. bahkan sebetulnya dapat dikemukakan bahwa ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itupun tetap masih ada hubungan dengan filsafat terutama mengnai hal-hal yang menyangkut sifat hakiki serta tujuan dari ilmu pengetahuan itu.
e) Hubungan psikologi dengan Ilmu Pendidikan
Pedagogiek sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati tidak akan sukses, bilamana tidak mendasarkan diri kepada psikologi, yang tugasnya memang menunjukkan perkembangan hidup manusia sepanjang masa, bahkan ciri dan wataknya serta kepribadiannyapun ditunjukkan oleh psikologi. Dengan demikian, paedagogiek baru akan tepat mengenai sasaran, apabila dapat memahami langkah-langkahnya sesuai denagn petunjuk-petunjuk psikologi.
E. Teori Perkembangan Manusia
Teori perkembangan manusia tersebut ialah :
a) Teori Nativisme
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia itu akan ditentukan oleh faktor-faktor nativus, yaitu faktor-faktor keturunan yang merupakan faktor-faktor yang dibawa oleh individu pada waktu dilahirkan. Menurut teori ini sewaktu individu dilahirkan telah membawa sifat-sifat tertentu, dan sifat-sifat inilah yang akan menentukan keadaan individu yang bersangkutan, sedangkan faktor lain yaitu lingkungan, termasuk di dalamnya pendidikan dapat dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan individu itu. Teori ini dikemukakan oleh Schopenhouer. Teori ini menimbulkan pandangan bahwa seakan-akan manusia telah ditentukan oleh sifat-sifat sebelumnya, yang tidak dapat diubah, sehingga individu sangat tergantung kepada sifa-sifat yang diturunkan oleh orang tuanya.
b) Teori Empirisme
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan seseorang individu akan ditentukan oleh empirinya atau pengalaman-pengalamannya yang diperoleh selama perkembangan individu itu. Termasuk pendidikan yang diterima oleh individu itu. Teori ini dikemukakan oleh John Locke, juga dikenal dengan teori tabularasa, yag memandang keturunan atau pembawaan tidak mempunyai peranan. 
c) Teori Konvergensi
Teori ini merupakan teori gabungan (konvergensi) dari kedua teori tersebut di atas, yaitu suatu teori yang dikemukakan oleh William Stern baik pembawaan maupun pengalaman atau lingkungan mempunyai peranan yang penting di dalam perkembangan individu. Perkembangan individu akan ditentukan baik oleh faktor yang dibawa sejak lahir (faktor endogen) maupun faktor lingkungan (termasuk pengalaman dan pendidikan) yang merupakan faktor eksogen. Penelitian dari W. Stern memberikan bukti tentang kebenaran dari teorinya. W. Stern mengadakan penelitian dengan anak-anak kembar di Hamburg. Dilihat dari segi faktor endogen atau faktor genetik anak yang kembar mempunyai sifat-sifat keturunan yang dapat dikatakan sama. Anak-anak tersebut dipisahkan dari pasangannya dan ditempatkan pada pengaruh lingkungan yang berbeda satu dengan yang lain.
F. Karakteristik Perasaan
a) Bersangkut paut dengan gejala pengenalan. Perasaan yang berhubungan dengan peristiwa persepsi, merupakan reaksi kejiwaan terhadap stimulus yang mengenainya. Ada yang mengalami keadaan sangat menyenangkan, tetapi sebaliknya juga ada yang biasa saja, dan bahkan mungkin ada yang mengalami perasaan yang kurang senang. Dengan demikian, sekalipun stimulusnya sama, tetapi perasaan yang ditimbulkan oleh stimulus tersebut dapat berlain-lainan.
b) Perasaan bersifat subjektif, lebih subjektif bila dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa kejiwaan yang lain. Sekalipun stimulusnya sama, perasaan yang ditimbulkan dapat bermacam-macam sifatnya sesuai dengan keadaan masing-masing individu.
c) Perasaan dialami sebagai rasa senang atau tidak senang yang tingkatannya tidak sama. Walaupun demikian ada sementara ahli yang mengemukakan bahwa perasaan senang dan tidak senang hanyalah merupakan salah satu demensi saja dari perasaan.

G. Karakteristik Konasi
Konasi, kehendak, hasrat, kemauan yaitu suatu tenaga, suatu kekuatan yang mendorong kita supaya bergerak dan berbuat sesuatu. Ciri-ciri hasrat:
1. Hasrat merupakan “motor” penggerak perbuatan dan kelakuan manusia.
2. Hasrat berhubungan erat dengan tujuan tertentu, baik positif atau negative. Positif berarti mencapai barang sesuatu yang dianggap berharga dan berguna baginya. Sedang negative berarti menghindri sesuatu yang tidak mempunyai harga/berguna baginya.
3. Hasrat selamanya tidak berpisah dari gejala mengenal (kognisi) dan perasaan (emosi). Dengan kata lain : hasrat tidak dapat di pisah-pisahkan dengan pekerjaan jiwa yang lain.
4. Hasrat diarahkan kepada penyelenggaraan suatu tujuan, maka didalam hasrat terdapat bibit-bibit penjelmaan kegiatan.
Ciri-ciri kemauan :
• Gejala Kemauan merupakan doromgan dari dalam yang khusus dimiliki oleh manusia.
• Gejala Kemauan berhubungan erat dengan satu tujuan. Kemauan mendorong timbulnya perhatian dan minat, serta merndorong gerak aktifitas kearah tercapainya tujuan.
• Gejala Kemauan sebagai pendorong timbulnya perbuatan kemauan yang didasarkan atas pertimbangan, baik pertimbangan akal atau pikiran, yang menentukan benar salahnya perbuatan kemauan maupun pertimbangan perasaan yang menentukan baik buruknya atau halus tidaknya perbuatan kemauan. 
• Dalam Kemauan tidak hanya terdapat pertimbangan pikir dan perasaan saja, melainkan seluruh pribadi memberikan pertimbangan, memberikan pengaruh dan memberikan corak pada perbuatan kemauan. 
• Pada perbuatan kemauan bukanlah tindakan yang bersifat kebetulan, melinkan tindakan yang di sengaja dan terarah pada tercapainya suatu tujuan.
• Kemauan menjadi pemersatu dari semua tingkah laku manusia dan mengkoordinasikan segenap fungsi kejiwaan menjadi bentuk kerjasama yang supel harmonis.
H. Jiwa diartikan sebagai:
a) Kekuatan yang menyebabkan hidupnya manusia
b) Serta menyebabkan manusia dapat berpikir, berperasaan dan berkehendak (budi)
c) Lagi pula menyebabkan orang mengerti atau insyaf akan segala gerak jiwanya. (Ki Hadjar Dewantara, 1962:425)
Pengertian jiwa atau psyche sebagai unsur kehidupan (the principle of life) juga dikemukakan leh Drever (1960). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian jiwa itu adalah sebagai unsur kehidupan, yang oleh Ki Hadjar Dewantara dibatasi pada unsur kehidupan pada manusia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata jiwa memiliki arti roh manusia (yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup); nyawa.
Kata jiwa ditilik dari akar kata bahasa Arab, yaitu kata al-nafs.Al-nafs (nun-fa-sin) menunjukkan arti keluarnya angin lembut bagaimana pun adanya.Al-nafs juga diartikan darah, atau hati (qalb) dan sanubari (damir), padanya ada rahasia yang tersembunyi.
Ruh (Ar-Ruh)
Ruh mempunyai dua arah pengertian, yaitu sebagai nyawa dan sebagai suatu yang halus dari manusia (pemberi energi bagi jiwa).

I. Simpati dan empati
Adalah merupakan suasana hati yang berhubungan dengan orang lain. Simpati adalah perasaan ketertarikan terhadap orang lain yaitu kecenderungan untuk ikut serta merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain karena adanya daya tarik terhadap orang lain tersebut (feeling with another person). Simpati dapat timbul karena persamaan cita-cita, penderitaan yang sama dan sebagainya. Sedangkan perasaan kebencian terhadap orang lain adalah disebut sebagai antipati dan gejalanya sama dengan simpati berupa tindakan yang tidak berdasar sesuatu yang logis. Antipati yaitu merupakan penolakan atau bersifat negatif. 
Empati adalah kecenderungan untuk merasakan sesuatu yang dilakukan oarng lain andaikata dia dalam situasi orang lain. Faktor yang menyebabkannya karena didorong oleh emosi yang seolah-olah ikut mengambil bagian dari apa yang dirasakan orang lain (feeling into a person thing).

J. Kelelahan 
Kelelahan dapat diartikan sebagai suatu kondisi menurunnya efisiensi, performa kerja, dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan.
Kelelahan fisik adalah kelelahan yang disebabkan karena ketegangan organ. Adapun yang mengartikan kelelahan fisik yaitu kelelahan yang disebabkan oleh kelelahan jasmani.
Sedangkan kelelahan psikis adalah kelelahan yang disebabkan oleh kelelahan rohani.
Kelelahan psikis adalah kelelahan psikologis yang disebabkan oleh faktor psikologis, kerja yang monoton atau lingkungan kerja yang menjemukan dan pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk. 

K. Sugesti
Yang dimaksud dengan sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri, maupun yang datang dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari individu yang bersangkutan. Karena itu segesti dapat dibedakan (1) auto sugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri, sugesti yang datang dari dalam diri individu yang bersangkutan, dan (2) hetero sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain.
Sugesti merupakan kata pungut dalam Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris suggestion. Sugesti adalah proses psikologis dimana seseorang membimbing pikiran, perasaan, atau perilaku orang lain.

L. Hipnotis 
Hipnotis adalah cabang ilmu psikologi yang mempelajari pengaruh sugesti terhadap pikiran manusia. Dalam literatur barat, hipnotis disebut “hypnosis” atau “hypnotism” yang berasal kata “hypnos”, nama dewa tidur dalam mitologi Yunani Kuno. Dulu ilmu hipnotis tidak ada namanya, sampai pada tahun 1940-an seorang dokter inggris, James Braid, memberi nama “hypnotism” karena ia mengira kondisi trance itu sama dengan tidur. Pengertian hipnotis menurut Wikipedia adalah “suatu kondisi pikiran di mana fungsi analitis logis pikiran direduksi sehingga memungkinkan individu masuk ke dalam kondisi bawah sadar (sub-conscious/unconcious), di mana tersimpan beragam potensi internal yang dapat dimanfaatkan untuk lebih meningkatkan kualitas hidup. Individu yang berada pada kondisi “hypnotic trance” lebih terbuka terhadap sugesti dan dapat dinetralkan dari berbagai rasa takut berlebih (phobia), trauma ataupun rasa sakit.”
Hipnotis atau yang sering juga disebut dengan hipnoterapi merupakan kondisi pikiran dalam keadaan setengah sadar. Kondisi ini biasanya bisa dicapai dengan bantuan hipnoterapis. Saat berada dalam pengaruh hipnotis, perhatian Anda akan lebih fokus, Anda merasa nyaman dan relaks, Anda lebih terbuka terhadap saran serta kurang kritis. Karena begitu, hipnoterapis bisa membantu Anda mengendalikan tingkah laku, emosi dan kondisi fisik Anda.

 

Oleh: subuki | Oktober 2, 2012

makna Aqiqah Secara Islam

1-MAKNA AQIQAH

Aqiqah adalah, menyembelih kambing untuk anak yang baru lahir, dicukur dan diberi nama akan anak itu, pada hari ketujuh setelah kelahirannya. sembelihan yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang bayi, baik bagi bayi laki-laki maupun bayi perempuan.

2-HUKUM AQIQAH

A. Hukum aqiqah adalah Sunnah Muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan) yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w. baik bagi bayi laki-laki maupun bayi perempuan. 

B. Dalil Aqiqah didasarkan kepada Hadits-hadits yang shahih sebagai berikut:

Dari Salman bin ‘Amir al-Dhobbi r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w., bersabda: “Anak itu tergadai dengan ‘aqiqah. Karena itu adakanlah sembelihan untuknya, dan bersihkanlah ia dari segala kotoran”. Diriwayatkan dia oleh Abu Dawud dan disahkan dia oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnul-Jarud dan ‘Abdul-Haq, tetapi Abu Hatim tarjihkan kemursalannya. Hadis Shahih Bukhari (HSB). No.1637

Dari ‘Aisyah bahwasanya Rasulullah s.a.w. perintahkan mereka (sahabat-sahabat) supaya di-aqiqahkan buat anak laki-laki dua kambing yang bersamaan (umurnya) dan buat anak perempuan satu kambing. Diriwayatkan dia oleh Tirmizi dan ia sahkan dia. Hadits Bulughul Maram. (HBM).No.1383 

Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Nabi s.a.w. ‘aqiqahkan buat Hasan dan Husain, masing-masing satu kibasy. Hadis Bulughul Maram (HBM). No.1381

Dari Samurah, bahwasanya Rasulullah s.a.w., telah bersabda: “Tiap-tiap seorang anak laki-laki tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih (‘aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan cukur dia dan dinamakan dia”. Diriwayatkan dia oleh Ahmad dan “Empat”, dan disahkan dia oleh Tirmizi. Hadits Bulughul Maram (HBM).No. 1385 

Hadits dari Ali r.a.Rasulullah s.a.w.menyembelih ‘aqiqah Hasan se-ekor domba dan bersabda: “Hai Fatimah, cukurlah rambut kepalanya dan bersedekahlah seberat rambutnya, maka timbangannya sama dengan satu dirham atau setengah dirham”.

KETERANGAN:Dari Hadis HBM.No.1383 dan Hadits-hadits lain-lainnya bisa difahami bahwa ‘aqiqah buat anak yang baru dilahirkan itu, satu perintah sunnah muakkad lantaran:

(a)-Ada Hadits yang Rasulullh s.a.w., bersabda padanya: “Barangsiapa mau ‘aqiqahkan anaknya, bolehlah ia berbuat” berarti ‘aqiqah itu diserahkan kepada kemauan seseorang; jadi tidak wajib. (Sunnah muakkad hukumnya).

(b)-Ada Hadis yang menerangkan bahwa ketika seorang bertanya: Adakah lain dari zakat itu sesuatu kewajiban harta atas saya? Rasulullah s.a.w. jawab: “Tidak ada”; ini berarti bahwa ‘aqiqah itu jika wajib tentu Rasulullah s.a.w. terangkan kepadanya. Berarti hukumnya Sunnah.

C. SIAPAKAH AQIQAH ITU?

Kewajiban mengaqiqahi bagi si anak yang baru lahir adalah tanggung jawab orang tua bayi yang baru dilahirkan, yang memikul nafkah si anak. Namun demikian dapat ditunaikan oleh orang lain atas kehendaknya sendiri. (Kakeknya, atau neneknya, atau pamannya, atau buliknya, atau keluarga yang terdekat dengan dasar atas kemauan sendiri dan ikhlas). 

DASAR HUKUMNYA MENGACU KEPADA:“Rasulullah s.a.w. menyembelih ‘aqiqah untuk Hasan dan Husen (cucunya Rasulullah s.a.w.), masing-masing dua ekor Kibasy / Domba”. Hadits Riwayat Nasa’i.

4.-KAPAN PELAKSANAANNYA AQIQAH?

Pelaksanaannya dilakukan pada hari ke tujuh dari kelahiran bayi. 

Dari Samurah, bahwasanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Tiap-tiap seorang anak laki-laki tergadai dengan aqiqahnya. Disembelih (Aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan cukur dia dan dinamakan dia”. Diriwatkan dia oleh Ahmad dan “Empat” dan disahkan dia oleh Tirmidzi. Hadits Bulughul Maram No.1385

Pelaksanaannya sebaiknya, sunnahnya, utamanya dilakukan sendiri oleh orang tua si bayi, apabila mampu.. 

5-JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN ‘AQIQAH.

Syarat hewan yang boleh disembelih sebagai Aqiqah sama dengan syarat hewan qurban. Jelasnya jika hewan tersebut boleh dan sah dijadikan Qurban maka sah pulalah dijadikan Aqiqah; syarat itu adalah bahwa tidak boleh disembelih hewan cacat, yang kurus, yang sakit, dan yang patah kakinya atau yang cacat.. 

Mengenai jenisnya apakah jantan ataukah betina? . . .jangan memberatkan apakah domba itu jantan atau betina”. Hadits Riwayat Ahmad.

6-AQIQAH TIDAK BOLEH DIGANTIKAN DENGAN UANG.

Aqiqah atau qurban, yang menjadi tujuan utamanya adalah ibadah sembelihan itu sendiri dan menumpahkan darahnya, bukan membagi-bagikan daging tersebut kepada fakir-miskin. Karena hampir dalam setiap agama ada yang namanya ibadah sembelihan.

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Setiap milah atau agama memiliki ibadah shalat dan sesembelihan tersendiri, yang tidak dapat digantikan dengan hal-hal lainnya. Oleh karena itu kalau seseorang membayar Dam haji Tamattu’ atau Haji Qiran dengan nilai uang yang berlipat-lipat jumlahnya, hal tersebut tidak akan dapat menggantikannya. Demikian pula halnya sembelihan yang lainnya seperti Qurban dan Aqiqah” (Ath-Thiflu Wa Ahkamuhu 193).

7.-PENYEMBELIHAN DAN JUMLAH KAMBING YANG AKAN DISEMBELIH.

Aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan. Yang lebih utama adalah menyembelih dua ekor kambing yang berdekatan umurnya bagi bayi laki-laki dan seekor kambing bagi bayi perempuan.

Dari Ummi Kurz Al-Ka’biyyah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang berdekatan umurnya dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.” (HR. Ahmad 6/422 dan At-Tirmidzi 1516)

Catatan: 
Seandainya tidak sanggup menyembelih dua ekor domba / kambing untuk anak laki-laki (benar-benar tidak sanggup), maka dibolehkan menyembelih ‘aqiqah dengan seekor domba / kambing saja.

8.-DOA YANG HARUS DIUCAPKAN KETIKA MENYEMBELIH KAMBING UNTUK AQIQAH.

Dalam riwayat Imam Baihaqy disebutkan bahwa orang yang akan melaksanakan aqiqah disunakan membaca do’a ketika akan menyembelih kambing aqiqah. Adapun lafadz do’anya adalah: “Allahumma minka wa ilaika aqiiqoh fulan bin fulan” artinya “Ya Allah dari-Mu dan kembali pada-Mu aqiqah si fulan bin fulan (sebutkan nama anak yang di-aqiqahi).

Dan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA, bahwasanya Nabi SAW pernah melaksanakan aqiqah bagi Hasan dab Husain. Dan beliau pun bersabda: “katakanlah oleh kalian “Bismillahi Allahumma laka wa ilaika ‘aqiiqatu fullan bin fulan”

9-PEMBAGIAN DAGING AQIQAH.

Daging aqiqah itu dapat dibagi tiga: (1)-Dimakan sendiri, (2)-Disedekahkan kepada fakir miskin, (3)-Dihadiahkan kepada jiran / tetangga, kerabat, sanak saudara dan sebagainya.

Catatan:
Sebaiknya daging aqiqah / kambing dipotong-potong, dimasak dahulu, setelah masak dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin, anak-anak yatim, kaum kerabat, tetangga terdekat yang muslim, dimasak dahulu dengan maksud untuk mempermudah membagi-bagikannya.

Mengirim daging aqiqah yang sudah dimasak kepada fakir miskin itu, lebih baik daripada kita mengundang mereka datang makan dan minum ke rumah kita, karena lebih menjaga kehormatan mereka, dan tidak menimbulkan unsur Riya’. Kecuali kita undang mereka dengan tujuan supaya mereka mendengarkan nasehat ceramah agama.

Akan tetapi, sebagaimana sunah Rasulullah SAW, hendaklah daging tersebut dibagikan kepada para tetanga baik itu yang miskin maupun kaya, sebagai ungkapan rasa syukur orang yang melaksanakannya, serta mudah-mudahan mereka yang menerima akan tergerak hatinya untuk mendoakan kebaikan bagi anak tersebut.. (At-thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad bin Ahmad Al-‘Isawiy, hal 197). 

Secara ketentuan, daging aqiqah disunnah dibagikan dalam bentuk makanan matang siap santap. Sedangkan daging hewan qurban disunnahkan untuk dibagikan dalam keadaan mentah.

10.-MENCUKUR RAMBUT

Mencukur rambut bayi merupakan sunnah, baik untuk bayi laki-laki maupun bayi perempuan yang pelaksanaannya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran dan alangkah lebih baik jika dilaksanakan berbarengan dengan aqiqah. Hal tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama.” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan) 

Dari Salman bin ‘Amir al-Dhobbi r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w., bersabda: “Anak itu dengan ‘aqiqah. Karena itu adakanlah sembelihan untuknya, dan bersihkanlah ia dari segala kotoran”. Diriwayatkan dia oleh Abu Dawud dan disahkan dia oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnul-Jarud dan ‘Abdul-Haq, tetapi Abu Hatim tarjihkan kemursalannya. Hadis Shahih Bukhary (HSB). No.1637

Mengenai faedah dari mencukur rambut bayi tersebut, Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Mencukur rambut adalah pelaksanaan perintah Rasulullah SAW untuk menghilangkan kotoran. Dengan hal tersebut kita membuang rambut yang jelek/lemah dengan rambut yang kuat dan lebih bermanfaat bagi kepala dan lebih meringankan untuk si bayi. Dan hal tersebut berguna untuk membuka lubang pori-pori yang ada di kepala supaya gelombang panas bisa keluar melaluinya dengan mudah dimana hal tersebut sangat bermanfaat untuk menguatkan indera penglihatan, penciuman dan pendengaran si bayi” (Athiflu Wa Ahkamuhu, hal 203-204)

Kemudian rambut yang telah dipotong tersebut ditimbang dan kita disunahkan untuk bersedekah dengan perak (seharga emas atau perak, seberat timbangan rambut si bayi). sesuai dengan berat timbangan rambut bayi tersebut. Ini sesuai dengan perintah Rasulullah SAW kepada puterinya Fatimah RA: “Hai Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak sesuai dengan berat timbangan rambutnya kepada fakir miskin.” (HR Tirmidzi 1519 dan Al-Hakim 4/237)

Dalam pelaksanaan mencukur rambut, perlu diperhatikan larangan Rasulullah SAW untuk melakukan Al-Qaz’u, yaitu mecukur sebagian rambut dan membiarkan yang lainnya (HR. Bukhari Muslim). Ada sejumlah gaya mencukur rambut yang termasuk Al-Qaz’u tersebut:

(a)-Mencukur rambut secara acak di sana-sini tak beraturan. (b)-Mencukur rambut bagian tengahnya saja dan membiarkan rambut di sisi kepalanya. (c-Mencukur rambut bagian sisi kepala dan membiarkan bagian tengahnya (d)-Mencukur rambut bagian depan dan membiarkan bagian belakan atau sebaliknya. 

Untuk pencukuran disunahkan sampai habis / botak, kalau sulit dikhawatirkan melukai kulit si bayi yang masih lembut, boleh ditipiskan saja. Disunahkan mencukurnya dimulai dari sisi kanan, karena setiap pekerjaan baik hendaknya dimulai dari kanan.

11.- PEMBERIAN NAMA

Kapan pemberian nama yang tepat kepada si bayi?

Berkaitan dengan kapan sa’at yang tepat untuk pemberian nama bagi bari yang baru lahir, para ulama menyatakan hal tersebut sebaiknya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran berbarengan dengan pelaksanaan aqiqah dan pencukuran rambut. Namun juga pemberian nama tersebut boleh dilakukan sebelumnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan) 

Nama bagi seseorang sangatlah penting. Ia bukan hanya merupakan indentitas pribadi dirinya di dalam sebuah masyarakat, namun juga merupakan cerminan dari karakter seseorang. RasulullAh SAW menegaskan bahwa suatu nama (al-ism) sangatlah identik dengan orang yang diberinama (al-musamma) 

Dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya” (HR. Bukhari 3323, 3324 dan Muslim 617) 

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunnah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya. Dan jika anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadis di bawah ini:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu?” Aku jawab: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merubah nama pemberian bapakku” Ibnu Al-Musayyib berkata: “Orang tersebut senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya” (HR. Bukhari 5836) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-‘Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, Rasulullah SAW memberikan petunjuk nama apa saja yang sebaiknya diberikan kepada anak-anak kita. Antara lain:

Dari Ibnu Umar r.a ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman” (HR. Muslim 2132)

Dari Jabir r.a dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku.” (HR. Bukhari 2014 dan Muslim 2133)

Anak hendaknya diberi nama yang baik sesuai sabda Rasulullah s.a.w. Memberikan nama yang baik diharapkan akan mempengaruhi kepada yang punya nama. “Sesungguhnya kamu akan dipanggil nanti” di hari kiamat dengan namamu dan nama bapakmu, sebab itu baguskanlah namanya. HR.Ahmad dan Abu Daud.

Contoh nama yang baik seperti nama-nama yang mempunyai hubungan dengan Allah, seperti Abdul Malik, Abdul Latif, dsb. Baik juga mengambil nama-nama dari Al Qur’an yang sesuai dengan kebaikan yang kita inginkan.

Perlu dicatat, Nama menjadi indentitas diri, karena itu gunakan nama yang mencerminkan indentitas Islam dengan jelas. Karena diharapkan dengan mengenal namanya saja, orang sudah mengetahui dan maklum bahwa orang itu adalah muslim / muslimah.. 

Sebaiknya jangan memberi nama dengan nama asing, aneh dan tidak dikenal dengan pasti apakah muslim atau non muslim.

Pemberian nama sebelum domba aqiqah disembelih, karena dalam penyembelihan namanya akan disebut.

12 Syukuran 40 hari / aqiqah dilaksanakan pada hari ke 40

Aqiqah dilaksanakan pada hari ke 40hanya mengikuti adat. Tidak mengikuti Sunnah Rasul.

Berkaitan dengan perayaan 40 hari setelah kelahirann jabang bayi, kami berpendapat bahwa hal tersebut bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW sebagaimana diatas. Kalau memang ingin memperkenalkan bayi kepada para tetangga, kenapa hal tersebut tidak dilakukan berbarengan dengan pelaksanaan aqiqah? Berarti tidak mengikuti sunnah Rasul, berarti tidak ada nilai ibadahnya (amal salehnya). 

Kami kira, adat atau kebiasaan perayaan tersebut merupakan “warisan masa lalu” yang masih banyak dipercayai dan dilaksanakan oleh masyarakat kita. Tentunya ini adalah tugas kita untuk menyampaikan yang sebenarnya kepada mereka berkaitan dengan tuntunan Rasulullah SAW dalam pelaksanaan aqiqah.

Anda dapat menyampaikan kepada mereka yang masih mengikuti adat bahwa pelaksanaan aqiqah merupakan ungkapan syukur kita kepada Allah atas kelahiran bayi. Disamping itu, dalam pelaksanaannya kita juga bisa mengundang para tetangga dalam syukuran aqiqahan ini atau membagi-bagikan daging aqiqah yang sudah masak kepada mereka. Dengan sendirinya ini juga merupakan proses memperkenalkan jabang bayi yang baru lahir kepada tetangga.

Ikutilah agama Allah, tinggalkan adat kebiasaan, atau akan diahzab dan dibinasakan oleh Allah. Qs. 26:135-139

Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan di “azab”. Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Qs.Asy Syu’araa (26): 135 s/d 139

13.-FAEDAHNYA AQIQAH

(a)-Sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang anak dengan melaksanakan salah-satu syi’ar agama. 
(b)-Aqiqah merupakan wasilah untuk taqorrub kepada Allah SWT khususnya bagi si anak yang baru lahir ke dunia.

14.-TIDAK BOLEH MENGAQIQAHI DIRI SENDIRI.

Pertanyaan: Saya sewaktu kecil orang tua tidak mampu, sekarang saya sudah bekerja dan mampu mengaqiqahi diri sendiri apa bisa? 

Namun demikian Imam Malik dalam At-Tamhid menyatakan bahwa: “Tidak dilaksanakan aqiqah bagi mereka yang sudah dewasa dan tidak dilaksanakan aqiqah bagi bayi yang dilahirkan kecuali pada hari ke tujuh dan jika melebihi hari ketujuh maka tidak perlu dilaksanakan aqiqah” (At-Tamhid 4/312)

Pelaksanaan aqiqah menjadi tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat tentang disunnahkan atau tidaknya pelaksanaan aqiqah oleh diri sendiri bagi mereka yang belum sempat diaqiqahi oleh orang tuanya.. 

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny menyatakan: Jika seseorang belum diaqiqahi, kemudian tumbuh dewasa dan mencari nafkah sendiri maka tidak ada aqiqah baginya. 

Imam Ahmad ketika ditanya tentang aqiqah untuk diri sendiri, beliau menjawab: Aqiqah itu kewajiban orang tua dan tidak dibolehkan mengaqiqahi diri sendiri karena sunnahnya dilakukan oleh orang lain. 

Sewaktu kecil orang tua tidak mampu meng-aqiqahi anaknya, setelah dewasa anak itu dan sudah mampu meng-aqiqahi dirinya sendiri, maka sunnah muakkad aqiqah gugur, karena orang tua tidak mampu. Sekarang anak itu mampu, hukumnya bukan aqiqah lagi, melainkan disunnahkan “Berqurban”, memotong hewan qurban pada Hari Raya Idhul Adha (Hari Raya Kurban).

15-TIDAK BOLEH MENJUAL DAGING AQIQAH.

Hukum daging aqiqah sama dengan daging qurban, yakni tidak boleh menjual kepada orang lain. Karena syariatnya adalah dengan dibagikan.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” Qs.Al Fushshilat (41): 33

Oleh: subuki | September 5, 2012

Kata Mutiara

“Berusahalah dengan ikhlas tanpa memikirkan balasan semata-mata, kerana semakin tinggi keikhlasan di dalam diri, semakin tinggilah balasan baik yang akan diperolehi dalam keadaan sedar atau tidak”
“Orang yang terlalu cepat berputus asa adalah orang yang putus harapan seumpama dia telah menyediakan dirinya untuk mati sebelum mati”

“Kesusahan tidak semuanya seksaan dan yang paling pahit itu bukan semuanya racun. Tetapi adakalanya lebih berguna daripada kesenangan yang terus-menerus”
“Orang yang sebenarnya berani ialah mereka yang tak lekas patah hati, tetapi bertahan dengan menghadapi setiap dugaan dan cabaran”

“Jangan lihat apa yang telah kamu usahakan, tetapi lihatlah apa yang belum kamu selesaikan”

“Tiada siapa yang paling pandai dan paling bodoh di dunia ini kerana setiap yang pandai itu boleh menjadi bodoh dan setiap yang bodoh itu boleh menjadi pandai”
“Setiap jiwa yang dilahirkan telah tertanam dengan benih untuk mencapai keunggulan hidup.Tetapi benih itu tidak akan tumbuh seandainya tidak dibajai dengan keberanian”

“Benarlah usaha itu tangga kejayaan. Tetapi jika tiada kesungguhan dan niat bukan kerana Allah, samalah seperti anda menggunakan tangga untuk turun ke bawah”

“Orang yang cemerlang melihat setiap halangan sebagai peluang untuk mengasah potensi, manakala orang yang tidak cemerlang menganggap setiap halangan sebagai alasan yang menyebabkan kemundurannya”
“Tidak semua yang kita ingin mampu kita perolehi sebagaimana tidak semua yang kita perolehi adalah yang kita inginkan”

“Kejayaan adalah tangga yang tidak dapat anda panjat dengan tangan di dalam poket”
“Orang yang selalu bersedih akan sukar mencapai apa yang dicita-citakan”

“Merasakan diri lemah adalah titik untuk memajukan diri”

“Janganlah kamu berkawan dengan orang yang suka melakukan maksiat, nanti hilang kebencian kamu terhadap maksiat”
“Tiada sesuatu yang lebih bahaya kepada seseorang selain daripada kawan yang elok percakapannya tetapi buruk perbuatannya”

“Orang yang sangat dibenci oleh Allah ialah orang yang suka bermusuh-musuhan”

“Jangan dilupa pada yang putih. Ianya suci, bersih sudi juga mengingatkan kita pada usia”
“Hidup yang berguna adalah hidup yang ketika petang membawa suluh untuk menghadapi malam yang akan sampai”

“Jadikanlah masa yang berlalu itu pengalaman dan pengajaran, masa yang sedang berjalan kita isi dengan amalan dan masa hadapan jangan terlalu diangan-angankan”
“Suatu hari nanti kita pasti berhenti bekerja dengan manusia, tetapi tiada istilah berhenti bekerja dengan Allah melainkan perjuangan berakhir bersama nafas terakhir”

“Kekayaan yang hilang dapat dikejar kembali dengan kerajinan dan jimat cermat. Kesihatan yang hilang boleh direbut kembali dengan ubat-ubatan. Akan tetapi waktu yang hilang pasti tidak akan kembali”
“Bila anda dapat bangun dari tidur pada suatu pagi, bermakna anda harus menjadikan hidup anda lebih bermakna sebagai tanda kesyukuranmu kepada Ilahi”

“Bersedekah dengan senyuman lebih baik daripada bersedekah dengan harta kerana bersedekah dengan senyum, manusia tidak terasa terhutang apa-apa dan tidak pula terasa dihina”
“Janganlah engkau pandang ringan perbuatan baik, sekalipun hanya dengan menunjukkan muka manis ketika engkau bertemu dengan saudaramu”

“Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan. Dilempar orang dengan batu tetapi dibalas dengan buah”

“Manusia tidak dapat mengubah rupa bentuk mukanya, tetapi jika dia mahu, dia boleh mempercantikkan budinya”
“Perkataan yang baik tidak akan muncul dalam jiwa yang kotor seperti biji benih yang tidak akan tumbuh pada tanah yang gersang”

“Kekayaan yang paling kaya ialah akal, kemiskinan yang paling besar ialah bodoh, keburukan yang paling buruk ialah terpesona pada diri sendiri, dan semulia-mulia kelakuan ialah akhlak yang baik”

“Yang menentukan masa depan anda bukan kekayaan, kedudukan dan kebahagiaan yang anda capai, tetapi ke arah mana akan anda bawa semua itu”
“Orang yang sibuk mengejar kepentingan dirinya sendiri akan mencipta banyak lawan”

“Jika kita bukan pelita yang menerangi malam, memadailah kita menjadi kunang-kunang yang akan menemani malam”

“Hidup adalah komedi bagi sesiapa yang hidupnya dengan akal. Dan merupakan tragedi bagi sesiapa yang hidup dengan emosi”
“Berfikir sebelum berbuat adalah satu kebijaksanaan, berfikir selepas berbuat adalah satu kebodohan, berbuat tanpa berfikir adalah seribu kebodohan”

“Sesiapa yang dapat menahan marahnya, padahal dia berkuasa untuk melepaskan marahnya itu maka Allah memenuhi hatinya dengan iman dan rasa aman ketenangan”
“Yang bernama perwira bukanlah yang banyak menjatuhkan lawan, tetapi perwira sejati ialah orang yang sanggup menguasai dirinya ketika marah”
“Ilmu dan kepandaian itu adalah sahabat yang setia dalam hidup sampai kepada penghabisan umur”

“Ilmu itu didapati dengan lidah yang gemar bertanya dan akal yang suka berfikir”
“Kita menilai diri sendiri berdasarkan apa yang kita mampu buat, orang lain menilai berdasarkan apa yang telah kita buat”

“Seorang guru yang jujur harus berniat agar muridnya lebih pintar daripadanya, manakala seorang murid yang jujur harus pula mengakui kepintaran gurunya”
“Cintailah yang memberi nikmat dan jangan engkau cintai nikmat yang diberikan”

“Dengan hatilah seseorang itu melihat dengan betul, apa yang penting tidak dapat dilihat dengan mata” Antoine de Saint-Exupery The Little Prince.
“Kerana anda dapat mengawal kehidupan anda. Jangan sesekali lupa bahawa anda adalah diri anda setelah pilihan yang anda buat secara sedar atau tidak sedar” Barbara Hall.

“Cara yang paling cepat melakukan banyak perkara ialah dengan melakukan satu perkara dalam satu masa” Samuel Smiles
“Sokong mereka yang kuat, galakkan mereka yang pemalu, ingatkan mereka yang cuai, dan beri amaran kepada mereka yang menentang” Whitney W Young

“Ramai orang yang boleh memiliki jam tangan yang tinggi harganya tetapi tidak ramai boleh menetapi masa yang berharga” Dr. Mahathir Mohamad.
“Manusia berharap terlalu banyak tetapi berbuat terlalu sedikit” Allen Tate

“Kegagalan hari Ini beerti pendorong, namun kejayaan semalam bukan beerti kemegahan, oleh itu gantungkanlah cita-citamu setinggi-tinggi bintang di langit, dan rendahkanlah dirimu serendah-rendah rumput di bumi”

“Manusia yang berhati suci adalah manusia yang banyak menangis daripada ketawa. Didiklah hati dengan keihklasan dan kesucian agar liku-liku kehidupan ini menjadi lebih bermakna dan mengikuti arus perubahan kedewasaan”
“Tugas pertama seorang lelaki ialah menjadi dirinya sendiri”

“Pilihlah seseorang untuk dicintai & cintalah pilihan anda itu”

“Cinta tidak berbalas sama seperti soalan tanpa jawapan”
“Lelaki yang tidak berharta biasanya memiliki lidah bermadu”

“Lelaki pendiam ibarat air tenang dalam & bahaya”

“Lelaki pendiam ibarat air tenang dalam & bahaya”
“Orang yang bijak mempelajari banyak perkara daripada musuhnya sendiri”

“Terdapat banyak kemungkinan untuk gagal kerana kejayaan hanya boleh dicapai dengan satu perkara iaitu USAHA”

“Ketika ditimpa bencana, kita akan mengenali yang mana satu lawan & yang mana satu kawan”
“Membaca menjadikan diri anda sebagai seorang lelaki, menghadiri persidangan sebagai persediaan menjadi lelaki yang sebenar & menulis menjadikan anda lelaki sejati”

“Karektor seseorang lebih mudah disembunyikan daripada dikesani oleh orang lain”

“Pemimpin yang baik akan memikul kesalahan & tidak mengejar nama”
“Lelaki berani mungkin akan kalah tetapi tidak akan mengalah”

“Jika anda hanya berbuat baik kepada diri sendiri maka anda sebenarnya tidak pernah membuat kebaikan”

“Pengalaman ialah gelaran yang diberikan oleh setiap orang terhadap kesilapan mereka”
“Kebocoran yang kecil masih boleh menenggelamkan sebuah kapal yang besar”

“Tiada hadiah yang lebih berharga daripada nasihat yang baik”

“Anak lelaki tetap menjadi anak lelaki sehinggalah beliau beristeri. Anak perempuan kekal menjadi anak perempuan seumur hidupnya”
“Kebodohan ialah kesilapan bagi seseorang yang mempunyai peluang untuk menjadi pandai”

“Gunakan akal anda seolah-olah nyawa anda bergantung kepadanya”
“Anda tidak akan berjaya menjadi penulis sekiranya anda tidak menjadi pembaca terlebih dahulu”

“Gunakan akal anda seolah-olah nyawa anda bergantung kepadanya”
“Nyanyian ibu untuk menidurkan anaknya ketika kecil adalah suara yang paling merdu di dunia”

“Orang miskin memakan makanan nyang lebih enak daripada orang kaya kerana makanan mereka adalah berkat kepada kemiskinan mereka”

 

“Anda tidak akan berasa penat sekiranya melakukan perkara yang anda suka”
“Lebih baik seseorang wanita mengahwini lelaki yang mencintainya daripada lelaki yang beliau cintai”

“Jika anda berhasrat untuk berjaya, jangan hanya memandang ke tangga tetapi belajarlah untuk menaiki tangga tersebut”

“Di mana anda berdiri, di situlah perlumbaan kehidupan anda dan lupakan masa silam”
“Berhati-hatilah dengan kemarahan seorang yang sedang bersabar”

“Tanpa permulaan, anda tidak akan sampai ke mana-mana”

“Adalah lebih baik untuk mengetahui kelemahan & kegagalan sendiri daripada menuding kesalahan kepada pihak lain”

“Setiap malam sebelum tidur,anda perlu menetapkan satu matlamat di dalam minda & menguatkannya dari hari ke hari”
“Jika anda hilang segala-galanya, jangan lupa, kerana anda masih mempunyai masa depan”

“Sesiapa yang tidak pernah merasai kepahitan tidak akan mengenal kemanisan……… ”

“Masyarakat abad dahulu menggunakan tenaga manusia untuk membina sebuah monumen yang indah sekali. Masyarakat abad kini menggunakan jentera hanya untuk membina sebuah kedai………”
“Tidak pernah wujud orang malas. Orang yang dianggap malas ialah orang yang tidak dapat mencari pekerjaan yang sesuai dengan minatnya”

“Jika poket anda penuh, anda tidak akan kekurangan sahabat”

“Semua perkara adalah sukar sebelum ia menjadi mudah”
“Seorang lelaki boleh dikalahkan tetapi tidak boleh dimusnahkan”

“Kemenangan terhadap diri sendiri adalah lebih baik daripada kemenangan terhadap orang lain”

“Orang pengecut ialah orang yang melihat sesuatu yang benar tetapi tidak melakukannya”
“Kemenangan hanya untuk orang yang berhak mendapatkannya”

”Lebih mudah untuk memenuhi impian kita yang pertama daripada cuba untuk mengejar impian-impian lain selepasnya”

”Tidak ketawa walaupun sehari amat merugikan”
”Anda tidak boleh mengubah masa lepas anda. Tetapi anda boleh memusnahkan diri anda kini sekiranya terlalu memikirkan masa depan anda’

“Tidak penting sama ada berapa lama kita hidup. Yang penting bagaimana keadaan kita semasa hidup”

‘Berdoa dan meminta bukannya perkara yang sama”

”Berterima kasihlah kepada pokok yang memberi anda perlindungan dengan tidak memusnahkannya”
”Sembahyang adalah prinsip utama dalam hidup. Memberi alasan tidak cukup masa untuk melakukannya adalah hinaan kepada Allah”

”Jangan tinggalkan hingga esok apa yang boleh disiapkan hari ini”

”Tiada hiburan yang lebih murah daripada membaca”
”Apabila semua benda kelihatan semakin hilang, ingatlah bahawa masa depan masih ada”

”Rasuah akan sentiasa wujud selagi masih ada perasaan tamak pada diri manusia”

”Jangan sangka diri kita adalah yang terbaik kerana kita belum kecapi kejayaan yang orang lain capai”

”Tidak semestinya orang yang berjaya terus berjaya dan orang yang gagal terus gagal”

“Orang yang serba kekurangan kurang mengetahui kelemahan dirinya sebaliknya sentiasa menyalahkan orang lain atas apa yang berlaku”
”Dalam dunia ini lebih ramai yang berlidah buaya daripada yang berlidah manusia”

”Dunia bukanlah tempat menunjukkan kekuatan tetapi untuk kita rasai nikmatnya”

”Orang yang sentiasa berusaha ialah seorang yang takutkan kegagalan”

”Seseorang yang cepat mendaki ke puncak akan cepat pula jatuh ke bumi”

”Kepakaran seseorang tidak akan ke mana selagi dia tidak membuktikannya melalui perlaksanaan”
“Sewaktu senang kita lebih menghargai kekayaan tetapi sewaktu susah kita akan lebih menghargai kesihatan”

”Penipu yang mahir sekalipun tidak akan menyedari sekiranya dirinya ditipu”

”Kegagalan adalah permulaan kepada kejayaan”

“Harta boleh menjadikan seseorang yang tamak sebagai hambanya”
”Kecantikan dan kebaikan tidak wujud bersama”

“Peperangan hanya boleh menjanjikan kemenangan selepas kemusnahan dan kematian”

“Setiap manusia hanya mempunyai dua matlamat iaitu cita-cita & kejayaan”
“Harta menjamin dunia. Iman menjaminkan akhirat”

“Penghalang kepada kejayaan adalah fikiran sendiri, bukannya kecacatan atau kekurangan”

”Seorang anak tidak akan mengetahui kasih sayang ibu bapanya terhadapnya sehinggalah dia mempunyai anak sendiri”

“Kawan yang sebenar ialah seorang yang dapat menerima diri kita yang sebenar”
“Masa adalah sekolah di mana kita belajar. Masa adalah api di dalamnya kita terbakar”

“Manusia mesti menamatkan peperangan, jika tidak peperangan akan menamatkan manusia”

“Arus masa depan telah tiba & tiada cara melawannya”

”Kisah cinta yang sebenarnya tiada akhirnya”
“Bukti terbaik cinta ialah kepercayaan”

“Kita lebih banyak berusaha untuk menegakkan benang basah daripada berusaha memperbaiki kelemahan diri”

“Jika kita melakukan sesuatu dengan keikhlasan, nescaya ganjaran yang kita terima juga setanding dengan apa yang kita usahakan”
“Semangat yang kuat mampu mengatasi apa sahaja cabaran yang datang”

“Selagi kita mencuba dan berusaha, selagi itulah kita akan beroleh apa yang kita hajati”

”Dendam adalah manis. Balasannya adalah pahit”
”Fikiran membawa kepada pekerjaan. Pekerjaan membawa kepada kejayaan. Kejayaan membawa kepada impian”

 

 

”Sungguhpun bertanya itu memalukan, tetapi disitulah kebenaran yang mudah diperolehi. Malu bertanya sesat jalan. Bertanyalah pada mereka yang arif”
”Perkara yang paling manis dalam dunia ini ialah pujian seorang kekasih daripada perasaan cintanya. Ia lebih manis daripada madu yang paling enak di dunia ini”

”Pemimpin yang paling berkuasa ialah yang disegani oleh rakyatnya, manakala seorang pemimpin yang tidak baik akan menipu rakyatnya”

”Anak yang soleh sentiasa bermanis muka ketika bercakap, tidak berwajah garang atau bermasam muka kepada orang lain”
”Ilmu yang tidak dimenafaatkan umpama pohon yang tidak berbuah”

”Tiap-tiap perkara yang tidak dimulai dengan BISMILLAH, maka akan terputus keberkatannya”

”Janganlah kita bersikap sombong dan bermegah-megah dengan kelebihan yang ada pada diri kita. Orang yang sombong selalunya akan dibenci”
”Bercakaplah yang benar walaupun ianya pahit”

”Sesungguhnya Allah s.w.t itu tidak melihat kepada tubuhmu, tidak pula melihat bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hatimu”

”Janganlah takut mencuba sesuatu yang baru, asalkan kalau kita yakin dengan kebaikan yang akan diperolehinya

”Janganlah mudah kita melemparkan kata-kata nista kepada orang lain sebab mungkin orang yang dinista itu lebih baik daripada kita. Orang yang baik juga sentiasa menjaga lidahnya daripada menyakiti hati orang lain”
Fikirkanlah dosa dan pahala…lalu laksanakanlah yang berpahala dan tinggalkan yang berdosa”

‘Orang Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada orang Mukmin yang lemah”

”Berbuat baiklah, sesungguhnya Allah s.w.t menyukai orang-orang yang berbuat baik”

”Jadikanlah hari ini lebih baik dari hari semalam”

”Tidak akan masuk syurga bagi orang yang memutuskan silaturrahim’.

”Tunaikanlah amanah yang dipertanggungjawabkan kepada kita dengan jujur”

”Berusahalah untuk menjadi kawan yang setia….kita tetap bersama walaupun dalam keadaan yang susah”

”Ingatlah, kita tidak akan menjadi miskin atau susah hanya kerana kita berkongsi sedikit daripada harta kita dengan orang lain”

”Tidak kira betapa kecil atau besar sumbangan yang boleh kita berikan, yang penting kita berusaha sebaik mungkin dengan keupayaan yang ada pada diri kita”

”Sesuatu kejayaan adalah lebih bermakna apabila ia disertai usaha yang bersungguh-sungguh…orang yang mudah berputus asa tidak mungkin beroleh kejayaan yang cemerlang. Biarlah bersusah dahulu, asalkan senang kemudian”

”Pentingkan yang lebih penting kerana yang lebih penting itu lebih penting dari yang penting”

”Jangan terlalu memandang tinggi kepada orang lain sehingga memandang rendah kepada diri sendiri”

”Janganlah kita mudah lupa diri apabila mendengar puji-pujian sebab tidak semua puji-pujian itu dapat memberi kebaikan kepada kita”

“Berusahalah dengan ikhlas tanpa memikirkan balasan semata-mata, kerana semakin tinggi keikhlasan di dalam diri, semakin tinggilah balasan baik yang akan diperolehi dalam keadaan sedar atau tidak”

“Jalan terbaik untuk keluar dari suatu kesulitan ialah menghadapi dan mengatasi kesulitan itu”

“Apabila kita mendengar sesuatu berita , kita selalu harus menunggu keputusannya”

“Memberi contoh dengan perbuatan adalah lebih baik daripada memberi contoh dengan perkataan”

“Manusia yang dapat membina dunia serta kemajuannya adalah manusia yang dapat memuji dan mengkritik”

“Perancangan yang teliti memainkan peranan yang penting dalam hidup manusia, jika anda mempunyai matlamat atau tujuan hidup jelas, anda harus merancangnya dengan teliti agar dapat menuju kearah sasaran dengan tepat”

“Keadilan adalah timbangan kebenaran, kesederhanaan adalah timbangan keberanian”

“Jika kita tidak mampu bertindak seperti yang kita harapkan maka kita harus bertindak apa yang kita mampu”

“Angan-angan, harapan, keinginan, kehendak dan cita-cita dapat diubah sehingga menjadi kenyataan, setelah melalui pengalaman pahit dan kegagalan dan tetap bertekad untuk berjalan terus maju terus tanpa mengenal lelah dan putus asa sekalipun orang lain sudah menghalangnya”

“Tidak sekali-kali panjang fikiran seseorang selain ia telah berilmu. Dan tidak sekali-kali berilmu seseorang itu selain ia beramal”

“Keyakinan yang mendalam akan membuat seseorang itu kebal terhadap ejekkan dan hinaan”

“Untuk mencapai cita-cita yang anda idam-idamkan, anda harus ada kemahuan , kebolehan, kesanggupan dan penentuan yang teguh”

“Modal paling baik dari seorang ialah kerajinannya”

“Jangan melepaskan apa yang berada berhampiran kita dengan bermimpi tentang apa yang jauh daripada kita”
“Barang siapa yang menjadikan dirinya pemimpin maka hendaklah ia mulai memimpin dirinya sebelum ia memimpin orang lain”

“Kalau kamu melihat seseorang berbudi luhur, berusahalah menyamai kebaikannya dan kalau kamu bertemu dengan seorang berbudi rendah, periksalah dirimu sendiri”

“Hargailah diri sendiri, peliharalah maruah dan martabat demi menjadi insan yang sempurna”

“Waktu sangat berharga, maka itu janganlah engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang berharga”

“Tidak ada yang lebih mencelakakan daripada bekerja tanpa menggunakan pengetahuan.”
“Orang yang terlalu cepat berputus asa adalah orang yang putus harapan seumpama dia telah menyediakan dirinya untuk mati sebelum mati”

“Kesusahan tidak semuanya seksaan dan yang paling pahit itu bukan semuanya racun. Tetapi adakalanya lebih berguna daripada kesenangan yang terus-menerus”

“Benarlah usaha itu tangga kejayaan. Tetapi jika tiada kesungguhan dan niat bukan kerana Allah, samalah seperti anda menggunakan tangga untuk turun ke bawah”

“Orang yang cemerlang melihat setiap halangan sebagai peluang untuk mengasah potensi, manakala orang yang tidak cemerlang menganggap setiap halangan sebagai alasan yang menyebabkan kemundurannya”

“Tidak semua yang kita ingin mampu kita perolehi sebagaimana tidak semua yang kita perolehi adalah yang kita inginkan”

“Kejayaan adalah tangga yang tidak dapat anda panjat dengan tangan di dalam poket”

“Orang yang selalu bersedih akan sukar mencapai apa yang dicita-citakan”

“Manusia yang berjaya akan memperolehi keuntungan daripada kesilapannya, dan mencuba lagi dengan cara yang lain”

“Kegagalan bermakna bahawa anda belum berjaya lagi”

“Ingatlah bahawa anda boleh gagal dalam apa sahaja dalam hidup asalkan tidak menjadi seorang yang gagal”
“Kegagalan bukan bermakna anda tidak mencapai apa-apa.Ia bermakna anda telah mempelajari sesuatu”

“Wang bukanlah segala-galanya, namun ia pasti menjadi penghubung dengan anak-anak anda”

“Ramai orang yang masih bergantung kepada kerja-kerja yang bergaji rendah kerana mereka takut gagal jika mencuba kerja lain”
“Nafsu mengatakan wanita cantik atas dasar rupanya, akal mengatakan wanita cantik atas dasar ilmu dan kepandaiannya, dan hati mengatakan wanita cantik atas dasar akhlaknya”

“Sahabat yang beriman ibarat mentari yang menyinar. Sahabat yang setia bagai pewangi yang mengharumkan. Sahabat sejati menjadi pendorong impian. Sahabat berhati mulia membawa kita ke jalan Allah”

 
“Perkara yang paling manis dalam dunia ini ialah pujian seorang kekasih daripada perasaan cintanya. Ia lebih manis daripada madu yang paling enak di dunia ini”

 

HUKUM BUNGA BANK/ RIBA’ DAN ANCAMAN BAGI PENGGUNANYA

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM

Segala Puji bagi Alloh Ta’ala, Tuhan semesta alam yang maha memberi rezeki dan maha bijaksana. Sholawat dan salam kami hanturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya yang disucikan dan para Shohabat yang dicintai.

Saudara-saudaraku se-Iman, Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad SAW dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Beliau SAW, memberikan kabar gembira (Basyiran), menyampaikan peringatan (Nadhiiran), menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati umat serta memberikan petunjuk yang terang benderang kepada umat manusia. Seorang yang mengaku dirinya beriman kepada Alloh Ta’ala dan RasulNya, wajib menerima, tunduk dan patuh kepada Syariat yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam kesempatan ini, alfaqir akan menguraikan mengenai hukum dan bahaya RIBA’/ BUNGA BANK yang sudah tidak asing lagi bagi mayoritas umat Islam. Tentunya sebagai Muslim yang baik dan taat selayaknya berhati hati dalam urusan dunianya, sehingga, apa-apa yang telah kita hasilkan menjadi pendapatan yang halal dan berkah. Tidak sedikit umat Islam yang terlibat dalam praktik RIBA’. Hal ini sangat menyedihkan.

Alhamdulillah, saat ini sudah banyak kita jumpai Bank-bank Syraiah, hal tersebut merupakan kemajuan umat Islam, harapannya Bank Syariah berjalan semaksimal mungkin sesuai hukum syar’i yang berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan fatwa Ijma’ Ulama’. Bila ada penyimpangan/ pengelabuan maka hal tersebut adalah salah satu bentuk pembohongan dan pembodohan terhadap umat Islam. Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi.

Sebelum kita mengupas persoalan RIBA’/ BUNGA BANK, sebaiknya kita terlebih dulu memahami apa yang di dimaksud dengan“RIBA’ “. Yaitu: RIBA’ secara bahasa berarti “ziadah/ tambahan”.

RIBA’ secara Syariat, “Penyerahan pergantian sesuatu dengan sesuatu yang lain yang tidak dapat terlihat wujud kesetaraannya menurut timbangan Syara’ ketika Aqad, atau disertai kelebihan pada akhir proses tukar menukar, atau hanya salah satunya”.

Secara garis besar RIBA’ dikelompokkan menjadi dua. Yaitu RIBA’ hutang-piutang dan RIBA’ jual-beli. RIBA’ hutang-piutang terbagi lagi menjadi RIBA’ qardh dan RIBA’ jahiliyyah. Sedangkan RIBA’ jual-beli terbagi atas RIBA’ fadhl dan RIBA’ nasi’ah.

RIBA’ Qardh: Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh).

RIBA’ Jahiliyyah: Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.

RIBA’ Fadhl: Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang RIBAWI.

RIBA’ Nasi’ah: Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang RIBAWI yang dipertukarkan dengan jenis barang RIBAWI lainnya. RIBA’ dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.

RIBA’ ITU HARAM DALAM HAL MENGERJAKAN-NYA, MEMAKAN-NYA, MENCATATKAN-NYA, MENYAKSIKAN-NYA & MEMPERMAINKAN-NYA (Memperdayakan aqad RIBA’ Agar Tidak Dianggap RIBA’)

Banyak sekali orang yang menganggap proses BUNGA BANK itu sesuatu yang sama saja dengan jual beli, anggapan ini dikarenakan seseorang yang mungkin tidak memahami hakikat RIBA’ dengan benar, akhirnya mereka tersesat akibat tidak ada rasa ingin tahu hukum syari’at dalam perdagangan secara syar’i. Bisa jadi, mereka memilih tidak mau tahu atau pura-pura tidak tahu dan tidak mau bertanya kepada para Ulama’, sebab dianggap akan merepotkan dirinya sendiri. Orang Muslim yang seperti ini tidak akan ada ketenangan dalam hatinya dan Alloh Ta’ala, murka padanya.

Berikut ini, lampirkan beberapa firman Alloh Ta’ala, dan hadits-hadits Nabi SAW, yang tentunya cukup dengan terjemahan/ maksud dari pada ayat dan hadits. Semoga para pembaca dapat memakluminya.

Beberapa maksud firman Alloh Ta’ala:

Maksud ayat: “Orang-orang yang makan (mengambil) RIBA’ tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan RIBA’, padahal Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan RIBA’. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil RIBA’), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Alloh. Orang yang kembali (mengambil RIBA’), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Al-Baqarah : 275).

Maksud ayat: “Alloh memusnahkan RIBA’ dan menyuburkan (berkat) sedekah. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran lagi berbuat dosa” (Albaqarah :276)

Ayat di atas menerangkan keadaan mereka di dunia sama dengan keadaan mereka nanti di akhirat, dalam hal tidak adanya ketenteraman bagi mereka. Orang-orang yang memakan RIBA’ (Mengambil RIBA’), yaitu saat di dunia jiwa mereka tidak tenteram, pikiran mereka tidak menentu selalu gelisah tak ubahnya seperti orang GILA serta bertingkah layaknya orang kerasukan SETAN walau pun kelihatannya normal. Demikian pula nanti di akhirat mereka akan dibangkitkan melainkan seperti orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila. Mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan bingung, sempoyongan, dan mengalami kegoncangan. Mereka khawatir dan penuh kecemasan akan datangnya siksaan yang besar dan kesulitan sebagai akibat perbuatan mereka.  “…..Dan pemakan RIBA’, barang siapa yang makan RIBA’ ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila lagi kemasukan (setan)”. Alhadits.

Ayat ayat berikutnya :

Maksud ayat: “Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan tinggalkanlah sisa sisa (dari berbagai jenis) RIBA’, jika kamu orang orang yang beriman” “Maka jika kamu tidak memperbuatnya (meninggalkan sisa-sisa RIBA’) maka ketahuilah Alloh dan Rasul-nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (tidak memperbuat RIBA’ lagi) maka bagi kamu pokok hartamu (modal), kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya” (Al-Baqarah :  278 -279).

“Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu memakan RIBA’ dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Alloh agar kamu mendapat kemenangan” (Ali Imran :130).

Ayat ayat diatas adalah dasar-dasar hukum Qoth’i/ nash Alqur’an (PENGHARAMAN RIBA’/ BUNGA BANK) yang tidak dapat dikompromikan lagi oleh siapa pun, begitu juga para Ulama’ dan Mufassirin, semua sepakat atas haramnya RIBA’/ BUNGA BANK, Ulama-ulama besar dunia sepakat memutuskan hukum dengan tegas terhadap BUNGA BANK sebagai RIBA’. Ditetapkan bahwa tidak ada keraguan atas keharaman praktik pembungaan uang seperti yang dilakukan bank-bank konvensional. Kecuali ulama-ulama GADUNGAN atau bisa disebut Ulama JAHAT yang mencoba mengutak-atik ayat ayat tersebut, mereka berusaha memutar-balikkan hukum Alloh dengan berfatwa sesuai DENGKULNYA.

Beda antara seorang ulama yang HAQ dengan ulama GADUNGAN adalah pada prioritas mengatakan kebenaran. Ulama yang HAQ tetap mengatakan bahwa yang HARAM itu HARAM, meski moncong meriam ditujukan ke arah kepalanya. Sekali haq tetap haq, apa pun yang terjadi. Sedangkan ulama GADUNGAN, mereka adalah orang yang berani mengubah-ubah hukum syariah sesuai dengan kemashlahatan pribadi.  Ulama semacam ini, itulah yang disebut ulama SUU’/ JAHAT yang akan mendapat azab sebelum Alloh mengazab para penyembah patung.

Maksud hadits: “Diantara tanda mendekatnya kiamat adalah berjubelnya para khatib di mimbar-mimbar dan banyaknya ulama yang menempel pada penguasa kalian. Lalu mereka menghalalkan yang haram demi penguasa itu dan mengharamkan yang halal demi mereka. Mereka memberi fatwa sesuai dengan syahwatnya. Ulama-ulama kalian mengajar agar mereka mendapatkan dinar dan dirham dan mereka jadikan Al-Qur’an sebagai komoditas pembicaraan mereka” Alhadits.

Maksud hadits: ”Ulama’ itu adalah kepercayaannya Rosul selama dia itu tidak bercampur dengan Sulthan/ Penguasa dan dia tidak dimasukkan ke dalam urusan dunia. Maka tatkala dia bercampur dengan Sulthan/ Penguasa dan memasuki urusan duniawi, maka sungguh-sungguh dia itu adalah khianat kepada Rosul. Maka hati-hatilah terhadap mereka”. Alhadits.

Dipahami di sini, BERGAUL dengan PENGUASA itu, bahwa Ulama itu hanya bergaul dengan penguasa. Dia bisa diperalat penguasa, yang haram disuruh memfatwakan halal dan yang halal disuruh memfatwakan haram. Mereka mencari dalil-dalil Qur’an dan Hadits demi kepuasan Penguasa.

Salah seorang Sholeh Alim, Amil dan Wara’ (Minal Arifin) berkata :

“ULAMA’ SUU’ ATAS AGAMA MUHAMMAD (ISLAM), LEBIH BAHAYA DARI PADA IBLIS..!!”

Tugas dan kewajiban Ulama, para Ustad agama yang Ikhlas dan jujur, yaitu: wajib menyampaikan hukum haramnya BUNGA BANK/RIBA’ kepada semua umat Islam tanpa terkecuali, apa lagi disaat ini sedang semaraknya “KARTU KREDIT” yang disebarkan dan ditawarkan dari BANK-BANK konvensional/ non Islam ke seluruh pelosok negeri ini yang mayoritas Muslim, sungguh sangat memprihatinkan. Umat Islam berebut ingin mendapatkan “KARTU KREDIT”/ hutangan dengan cara cara rubuwiyah dan terkesan ada indikasi untuk mengebiri generasi Islam dalam urusan akhirat, sehingga umat ISLAM disibuk-kan dalam urusan hutang piutang/duniawi, bahkan yang lebih menyedihkan lagi, banyak USTAD-USTAD agama dan MUBALLIGH yang ikut menerima “KARTU KREDIT” apa bila ditawarkan pada mereka atau menabung di BANK-BANK non Islam yang berarti ikut membantu dan mendukung sistem perputaran uang yang jelas-jelas dilaknat oleh Alloh Ta’ala, sekalipun mereka tidak mengambil hasil RIBA’/ bunganya. Padahal mereka mengerti, apa-apa yang mereka lakukan itu adalah hal hal yang DIHARAMKA dan termasuk DOSA-DOSA BESAR.

Hadits yang diriwayatkan oleh Shohabat Salim Maula Abi Hudaifah ra, Rasululloh SAW, bersabda, Maksud Hadits:

“Sungguh akan datang di hari Qiamat, sekelompok orang yang membawa amalan kebaikan seperti gunung-gunung Tihamah (isyarat besarnya amalan mereka), sehingga saat amal-amal itu datang pada mereka, dijadikan oleh Alloh Ta’ala amal-amal mereka hilang melayang, kemudian mereka dimasukan ke dalam Neraka”, lalu Shohabat Salim berkata: wahai Rasululloh…“Demi Ayahku, engkau dan Ibuku..! beri tahu kami sifat-sifat mereka sehingga kami mengenalinya, demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sesungguhnya aku khawatir termasuk golongan mereka”, lalu Nabi SAW’ bersabda, Maksud Hadist: “Wahai Salim, sesungguhnya mereka itu dulu (di dunia) orang-orang yang tekun Ibadah puasa dan Sholat, akan tetapi saat ditawarkan pada mereka sesuatu yang haram, mereka bergegas berebut menerimanya, maka Alloh melenyapkan amal-amal baik mereka”. Alhadits.

Maksud hadits: “…Akan datang suatu zaman pada manusia, pada saat itu seseorang sudah tidak akan memperdulikan lagi apa-apa yang ia dapati, apakah dari yang halal atau dari yang haram…” Alhadits.

Maksud hadits: “Setiap daging yang ditumbuhkan dari makanan haram, maka api neraka lebih berhak (membakar) atas daging itu” Alhadits.

RIBA’ merupakan salah satu dosa dari DOSA-DOSA BESAR. Penghasilan dari RIBA’ (makan BUNGA BANK) akan mempengaruhi proses pertumbuhan daging tubuh seseorang dan keluarganya, yang berdampak tidak didengar DO’ANYA oleh Alloh Ta’ala, malas beribadah, tertolak IBADAHNYA, tersiksa saat SAKARATUL MAUT dan menjadi sebab mati SUU’UL KHATIMAH. Darah yang mengalir di badan-nya menjadi panas walau pun tidak dirasakan panas secara dhohiriyah. Hakikatnya uang RIBA’/ BUNGA BANK itu adalah api yang akan membakar tubuhnya kelak di hari pembalasan/kiamat.

Maksud hadits: “Ada seorang yang menengadahkan tangannya ke langit berdo’a, “Ya Rabbi, Ya Rabbi, sementara makanannya haram, pakaiannya haram, dan daging yang tumbuh (dikenyangkan) dari hasil yang haram, maka bagaimana mungkin do’anya dikabulkan”. Alhadits.

Ibnu Abbas ra berkata: “Tidak diterima dari pemakan RIBA’ sedekahnya, hajinya, jihadnya dan persaudaraannya.”(Al-Jami’ li Ahkamil Quran, Al-Qurtubi)

Orang Islam dilarang keras bekerja di BANK-BANK yang menjalankan praktik RIBA’ atau  tempat yang bertransaksi dengan RIBA’ meski pun persentase transaksinya minim sekali sebab pegawai pada instansi dan tempat yang bertransaksi dengan RIBA’ berarti telah bekerja sama dalam KRMAKSIATAN kepada Alloh dan RasulNya, gaji yang diterima pun HARAM, mereka sama-sama TERLAKNAT sebagaimana sabda Rasululloh SAW, maksud hadits: “Alloh telah melaknat pemakan RIBA’, orang yang memberi makan dengan (hasil) RIBA’, pencatatnya serta kedua saksinya”. Beliau bersabda lagi, “Mereka itu semua sama saja.” (dalam andil menjalankan RIBA’). Alhadist.

Maksud hadits: “Apabila zina dan RIBA’ telah merajalela dalam suatu negeri, maka sesunggguhnya mereka telah menghalalkan azab Alloh diturunkan kepada mereka”. Alhadits.

Maksud hadits: “Alloh melaknat orang yang makan RIBA’ (menerimanya), yang mewakilinya (memberinya), yang mencatatkan-nya dan yang menyaksikan-nya”.  “Dosa RIBA’ memiliki 72 pintu/ cara, dan yang paling ringan adalah seperti (dosa) seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” Alhadits.

Memakan RIBA’ menjadi sebab utama SUU’UL KHATIMAH, RIBA’ merupakan bentuk KEDZALIMAN yang menyengsarakan orang lain, dengan cara menghisap “darah dan keringat” pihak peminjam, itulah yang disebut RENTENIR atau LINTAH DARAT. Akibat dari dosa RIBA’ ini telah dirasakan oleh banyak kalangan baik muslim mau pun non muslim, karena RIBA’ merupakan KEDZALIMAN yang sangat jelas dan nyata.

TANYA JAWAB SEPUTAR RIBA’/ BUNGA BANK

Di zaman ini, seorang yang menghindar dari urusan RIBA’ karena takut kepada Alloh Ta’ala, tetap saja akan terkena debunya, namun atas niatnya yang baik untuk menghindar dari bahaya RIBA’, maka Alloh Ta’ala tidak mencatat dosa baginya, karena mereka adalah orang-orang baik/ shaleh. Persoalan ini tentu merupakan tantangan cukup berat bagi umat Islam. Mari kita simak soal jawab singkat terkait BUNGA BANK/ RIBA’, sebagai berikut:

  • Soal : “Apa hukumnya menabung di BANK-BANK non Islam ?”.
  • Jawab : “Hukumnya haram, apa bila sudah ada BANK-BANK Syariah, jika belum ada bank Syariah, menurut fatwa Ulama’ diperbolehkan dengan alasan masa darurat”.
  • Soal : “Bagaimana hukumnya menabung di bank konvensional, tetapi tidak mengambil bunganya?”.
  • Jawab: “hukumnya tetap haram, sebab sama juga bekerja sama dalam kemaksiatan dan membantu praktik RIBA’, mendukung cara perputaran uang yang tidak dibenarkan secara Syariah dan itu pasti dosa”.
  • Soal : “Setahu saya, perputaran uang di BANK-BANK Syariah dikelola oleh BI dengan cara konvensional, apakah itu tidak berarti sama saja ujung-ujungnya RIBA’ ?”.
  • Jawab : “Tidak sama, sebab ketika nasabah menyetorkan uangnya diawali dengan cara aqad secara Syar’i dan aqad inilah yang menjadi penentuan/ patokan sah atau tidak, ada pun dibalik itu bila ada pengelolaan uang nasabah secara konvevsional di BI maka nasabah tidak ikut berdosa dan Alhamdulillah, sekarang uang yang masuk dari semua bank Syariah ke BI dikelola secara Syariah juga”.
  • Soal : “Bagaimana di zaman ini, kami sangat sulit mu’amalah (berbisnis) dengan cara Syariah mengingat hampir semua yang berhubungan kerja dengan kami adalah orang-orang yang menggunakan BANK-BANK non Islam, terpaksa pada sistem pembayaran, kami mengikuti mereka dengan menggunakan bank non Islam?”.
  • Jawab : “Dalam kondisi seperti itu, anda diperbolehkan melakukan transaksi via bank konvensional dikarenakan darurat (tidak ada cara lain), akan tetapi, jika ada cara dan memungkinkan transaksi via bank Syariah maka hal itu tetap diharamkan”.
  • Soal : “Uang BUNGA BANK yang tidak diambil oleh umat Islam, akan digunakan untuk kepentingan musuh Islam/ kristenisasi, apa sebaiknya kita ambil saja untuk kepentingan sosial ?”.
  • Jawab: “Jika umat Islam sudah tahu akan hal tersebut, kenapa masih saja menyimpan uang mereka di BANK-BANK non Islam? simpan saja uang umat Islam di BANK-BANK Syariah”. Dan perlu difahami, bahwa uang BUNGA BANK yang boleh diambil untuk kepentingan sosial adalah yang didalamnya tidak ada unsur kesengajaan, tetapi jika ada kesengajaan seperti sudah tahu menyimpan uang di bank non Islam itu ada bunganya, namun masih saja menyimpannya di bank tersebut, maka hukumnya haram, bila bunganya diambil, dosanya berlipat ganda.
  • Soal : “Hampir semua BANK-BANK Syariah pemiliknya non muslim, bagaimanakah hal itu?
  • Jawab: “Tidak jadi masalah walau pun para pemilik bank Syariah adalah non muslim atau katakan saja pemiliknya seorang Yahudi, selama mereka menerapkan cara-cara Syariah dalam mu’amalah maka tidak ada larangan bagi umat Islam bekerja sama dengan non muslim, mereka juga berhak menerima hasil kerjanya selama tidak bertentangan dengan Syariah. Seperti halnya seorang Islam berbelanja sembako di toko milik orang non Islam, itu diperbolehkan dan halal selama tidak ada hal-hal yang menggugurkan syarat-syarat jual beli. Terkecuali kita tahu dengan jelas bahwa, hasil kerjasama mereka dengan orang Islam KEUNTUNGANNYA akan digunakan untuk melemahkan Islam atau menghancurkan Islam, maka hal tersebut wajib DIHINDARI.  Justru kita umat Islam yang harus sadar, mengapa mereka (non Islam) yang menguasai perekonomian dan mejadi pemilik BANK Syariah?, mengapa bukan orang Islam?.

Alhasil, kita harus menyadari dan mendukung bank Syariah yang sedang berkembang dengan segala kekurangannya, jangan kita mengkritik kecuali yang sifatnya membangun. Sangat tidak layak, orang Islam bergandengan tangan bekerjasama dengan bank konvensional secara damai, tetapi menjadi tukang kritik bagi BANK-BANK Syariah yang justru mematahkan semangat dan tidak membangun.

Saudara-saudaraku se-Iman, apa-apa yang telah alfaqir sampaikan hanya semata karena Alloh Ta’ala, hal itu merupakan kewajiban sesama muslim saling memberikan nasehat. Ingatlah bahwa kita semua akan mati. Apa bekal kita ? tentunya IMAN dan amal-amal baik yang akan menyelamatkan kita dari siksa KUBUR dan kobaran API NERAKA kelak. Ingat! Malaikat Maut akan datang secara tiba-tiba pada setiap orang, kita hanya menunggu waktu, entah kapan gilirannya. Semua akan merasakan dahsatnya SAKARATUL MAUTsementara kita masih banyak yang lupa akibat terbelenggu urusan duniawi. Yang lebih celaka lagi, belum sempat bertaubat, sudah dijemput ajal. Setelah badan terbujur kaku, Penyesalan tidak akan berarti, apakah mereka akan menjadi orang-orang yang beruntung ataukah menjadi orang-orang yang merugi…? Beruntunglah bagi hamba-hamba yang taat pada perintah Alloh Ta’ala dan RasulNya, sebaliknya SAKARATUL MAUT akan menjadi MALAPETAKA BESAR bagi orang-orang yang belum sempat bertaubat.

Maksud ayat: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(Attahrim : 6)

Peringatan Alloh Ta’la dan Rasul-Nya sudah jelas, hanya orang orang yang mau bertaubat dan sadar dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu, mereka akan mendapat AMPUNAN dan RAHMAT dari Alloh Ta’ala. BERTQWALAH kepada Alloh Ta’ala, jagalah SHALAT lima waktu, janganlah berbuat DZALIM, hindarilah harta yang HARAM dan janganlah memutus SILATURAHIM dengan orang-orang MU’MIN, niscaya engkau akan selamat di DUNIA mau pun AKHIRAT, Amin Ya Robbal ‘Aalamiin.

Wallohu A’lam Bi Shawaab

Oleh: subuki | September 1, 2012

Haid & Istihadhah

Haid & Istihadhah

Allah Ta’ala berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ
“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Aisyah -radhiallahu anha- berkata:
كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ
“Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 321 dan Muslim no. 335)
Juga dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَسَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي
“Fatimah binti Abi Hubaisy mengalami istihadhah (mengeluarkan darah penyakit). Maka aku bertanya kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan beliau menjawab, “Itu hanyalah urat yang pecah dan bukanlah darah haid. Jika haid datang maka tinggalkanlah shalat dan jika telah selesai maka mandilah lalu shalatlah.” (HR. Al-Bukhari no. 320)

Penjelasan ringkas:
, dan haid adalah darah kotor yang keluar dari rahim. Jika seorang wanita mengalami haid maka dia mempunyai hukum tersendiri berkenaan dengan ibadahnya dan hubungan dia dengan suaminya, yang berbeda hukumnya dengan wanita yang suci. Tatkala haid ini dialami oleh setiap wanita maka wajib atas dirinya untuk mempelajari hukum-hukum haid ini. Adapun istihadhah maka dia adalah darah biasa yang keluar karena penyakit dan biasanya karena urat yang pecah, yang mana keluarnya berlangsung terus-menerus atau berhenti tapi sebentar. Hukumnya berbeda dengan haid karenanya dia juga butuh dipelajari, walaupun keluarnya darah ini hanya pada sebagian wanita.uAllah Ta’ala telah menetapkan adanya haid bagi anak-anak wanita Nabi Adam

Mengenal Darah Nifas

Definisi Nifas
Nifas secara bahas mempunyai tiga makna: Darah (an-nafs), lepas dari kesulitan (an-nafas) dan keluar dari lobang (at-tanfis).
Adapun secara istilah, maka Ibnu Muflih dari kalangan Al-Hanabilah mengatakan, “Dia adalah darah yang dikeluarkan oleh rahim ketika akan melahirkan dan setelahnya sampai pada waktu yang tertentu.”
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Nifas adalah darah yang keluar dari rahim disebabkan kelahiran, baik bersamaan dengan kelahiran itu, sesudahnya atau sebelumnya (2 atau 3 hari) yang disertai rasa sakit.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata, “Darah yang dilihat seorang wanita ketika mulai merasa sakit adalah darah nifas.” Maksudnya yaitu rasa sakit yang kemudian disertai kelahiran. Jika tidak, maka itu bukan nifas.
Faidah:
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berkata dalam Risalah Ad-Dima`, “Nifas tidak dapat ditetapkan, kecuali jika si wanita melahirkan bayi yang sudah berbentuk manusia, seandainya ia mengalami keguguran dan janinnya belum jelas berbentuk manusia maka darah yang keluar itu bukan darah nifas, tetapi dihukumi sebagai darah penyakit. Karena itu yang berlaku baginya adalah hukum wanita mustahadhah.
Minimal masa kehamilan sehingga janin berbentuk manusia adalah 80 hari dihitung dari mulai hamil, dan pada umumnya 90 hari.”

Hukum Darah Nifas
Hukumnya sama seperti darah haid berdasarkan ijma’ di kalangan ulama. Ijma’ ini dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Asy-Syarh Al-Kabir (1/157) dan Asy-Syirbini dalam Mughni Al-Muhtaj (1/120). Hanya saja ada beberapa perkara yang dikecualikan oleh dalil dari ijma’ ini, yang menjadi letak perbedaan antara haid dan nifas. Insya Allah akan kami sebutkan pada pembahasan selanjutnya.
Karenanya, sebagaimana darah haid, darah nifas juga najis karena tidak ada dalil yang mengecualikannya dari ijma’ di atas.

Durasi Minimal Keluarnya Darah Nifas
Tidak ada batasan minimal bagi darah nifas. Bahkan Imam At-Tirmizi menukil ijma’ dalam As-Sunan (1/429) bahwa kapan saja si wanita melihat tanda suci -walaupun keluarnya darah nifas belum 40 hari-, maka dia wajib untuk mandi, mengerjakan shalat dan suaminya boleh menggaulinya.

Durasi Maksimal Keluarnya Darah Nifas
Durasi maksimal keluarnya darah nifas adalah 40 hari, berdasarkan hadits Ummu Salamah dia berkata, “Para wanita yang nifas di zaman Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, mereka duduk (tidak shalat) setelah nifas mereka selama 40 hari atau 40 malam.” (HR. Abu Daud no. 307, At-Tirmizi no. 139 dan Ibnu Majah no. 648)
Ini adalah pendapat Umar, Ali, Ibnu Abbas, Utsman bin Abi Al-Ash, Anas, Aisyah, dan Ummu Salamah dari kalangan sahabat -radhiallahu anhum-. Juga pendapat dari Atha`, Ats-Tsauri, Asy-Sya’bi, Ibnu Al-Mubarak, Ishaq, Abu Ubaid, Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan At-Tirmizi. Al-Khaththabi menyatakan bahwa ini adalah pendapat mayoritas ulama dan ini yang dikuatkan oleh Asy-Syaukani.

Hukum Air Ketuban
Air ketuban yang pecah lalu keluar tidak mempunyai hukum apa-apa. Dia bukan haid, bukan pula nifas, bukan pula istihadhah. Dia tetap suci dan tetap wajib mengerjakan ibadah yang diwajibkan atasnya.

Hukum Menggunakan Obat Pencegah Kehamilan
Ada dua macam penggunaan alat pencegah kehamilan:
a.    Penggunaan alat yang dapat mencegah kehamilan untuk selamanya.
Ini diharamkan karena dapat menghentikan kehamilan sehingga mengakibatkan berkurangnya jumlah keturunan. Dan hal ini bertentangan dengan anjuran Nabi -shallallahu alaihi wasallam- agar memperbanyak jumlah umat Islam. Bahkan bisa saja anak-anaknya yang ada semuanya meninggal dunia sehingga ia pun hidup seorang diri tanpa anak.
b.    Penggunaan alat yang dapat mencegah kehamilan sementara.
Misalnya: Seorang wanita yang sering hamil dan hal itu terasa berat baginya, sehingga ia ingin mengatur jarak kehamilannya menjadi dua tahun sekali. Atau misalnya akan membahayakan dirinya kalau dia hamil lagi dalam waktu dekat. Maka dalam keadaan seperti ini, diperbolehkan menggunakan obat-obatan tersebut dengan syarat: Seizin suami dan tidak membahayakan dirinya.
Dalilnya adalah ucapan Jabir -radhiallahu anhu-, “Kami melakukan azl sementara Al-Qur`an masih turun.” Azl yaitu tindakan -pada saat bersenggama- dengan menumpahkan sperma di luar farji (vagina) istri.

Hukum Menggugurkan Kandungan
Berikut nukilan dari Risalah Ad-Dima` Ath-Thabi’iyah pada fasal ketujuh mengenai masalah ini:
Adapun penggunaan alat penggugur kandungan ada dua macam:
a.    Penggunaan alat penggugur kandungan yang bertujuan membinasakan janin, jika janin sudah mendapatkan ruh, maka tindakan ini tak diragukan lagi adalah haram, karena termasuk membunuh jiwa yang dihormati tanpa dasar yang benar. Membunuh jiwa yang dihormati haram hukumnya menurut Al Qur’an, sunnah dan ijma’ kaum muslimin.
Namun jika janin belum mendapatkan ruh, maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama membolehkan, sebagian lagi melarang. Ada pula yang mengatakan boleh sebelum berbentuk segumpal darah, artinya sebelum berumur 40 hari. Ada pula yang membolehkan jika janin belum berbentuk manusia. Pendapat yang lebih hati-hati adalah tidak boleh melakukan tindakan menggugurkan kandungan, kecuali jika ada kepentingan. Misalnya, seorang ibu dalam keadaan sakit dan tidak mampu lagi mempertahankan kehamilannya, dan sebagainya. Dalam kondisi seperti ini ia boleh menggugurkan kandungannya, kecuali jika janin tersebut diperkirakan telah berbentuk manusia maka hal ini tidak diperbolehkan. Wallahu a’lam.
b.    Penggunaan alat penggugur kandungan yang tidak bertujuan membinasakan janin. Misalnya, sebagai upaya mempercepat proses kelahiran pada wanita hamil yang sudah habis masa kehamilannya dan sudah waktunya melahirkan.
Maka hal ini boleh hukumnya, dengan syarat: tidak membahayakan bagi si ibu maupun anaknya yang tidak memerlukan operasi. Kalaupun memerlukan operasi, maka dalam masalah ini ada empat keadaan:
1.    Jika ibu dan bayi yang dikandungnya dalam keadaan hidup, maka tidak boleh dilakukan operasi kecuali dalam keadaan darurat, seperti sulit bagi si ibu untuk melahirkan sehingga perlu dioperasi. Demikian, karena tubuh adalah amanat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dititipkan kepada manusia, maka dia tidak boleh memperlakukannya dengan cara yang mengkhawatirkan kecuali untuk maslahat yang amat besar. Selain itu, dikiranya bahwa mungkin tidak berbahaya operasi ini, tetapi ternyata membawa bahaya.
2.    Jika ibu dan bayi yang di kandungnya dalam keadaan meninggal, maka tidak boleh dilakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya. Sebab, hal ini tindakan sia-sia.
3.    Jika si ibu hidup, sedangkan bayi yang dikandungnya meninggal. Maka boleh dilakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya, kecuali jika dikhawatirkan dapat membahayakan si ibu. Sebab menurut pengalaman -wallahu a’lam- bayi yang meninggal dalam kandungan hampir tidak dapat dikeluarkan kecuali dengan operasi.
Kalaupun dibiarkan terus dalam kandungan, dapat mencegah kehamilan ibu pada masa mendatang dan merepotkannya pula, selain itu si ibu akan tetap hidup tak bersuami jika ia dalam keadaan menunggu iddah dari suami sebelumnya.
4.    Jika si ibu meninggal dunia, sedangkan bayi yang dikandungnya hidup. Dalam kondisi ini, jika bayi yang dikandung diperkirakan tak ada harapan untuk hidup, maka tidak boleh dilakukan operasi. Namun jika ada harapan untuk hidup, seperti sebagian tubuhnya sudah keluar, maka boleh dilakukan pembedahan terhadap perut ibunya untuk mengeluarkan bayi tersebut. Tetapi jika sebagian tubuh bayi belum ada yang keluar maka ada yang berpendapat bahwa tidak boleh melakukan pembedahan terhadap perut ibu untuk mengeluarkan bayi yang dikandungnya, karena hal itu merupakan tindakan penyiksaan.
Pendapat yang benar, boleh dilakukan pembedahan terhadap perut si ibu untuk mengeluarkan bayinya jika tidak ada cara lain. Dan pendapat inilah yang menjadi pilihan Ibnu Hubairah. Dikatakan dalam kitab Al Inshaf, “Pendapat ini yang lebih utama.”
Apalagi pada zaman sekarang ini, operasi bukanlah merupakan tindakan penyiksaan. Karena setelah perut dibedah, ia dijahit kembali. Dan kehormatan orang yang masih hidup lebih besar dari pada orang yang sudah meninggal. Juga menyelamatkan jiwa orang yang terpelihara dari kehancuran adalah wajib hukumnya dan bayi yang dikandung adalah manusia yang terpelihara, maka wajib menyelamatkannya. Wallahu a’lam.
Catatan:
Dalam hal diperbolehkannya menggunakan alat penggugur kandungan sebagaimana di atas (untuk mempercepat proses kelahiran) harus ada izin dari pemilik kandungan yaitu suami.

[Lihat: Risalah fi Ad-Dima` Ath-Thabi’iyah karya Ibnu Al-Utsaimin, Nail Al-Authar: 1/393-394 dan Subul As-Salam: 1/109]

Oleh: subuki | September 1, 2012

Mengenal Darah Istihadhah

Mengenal Darah Istihadhah

Definisi Istihadhah
Secara bahasa, dikatakan: “Wanita itu terkena istihadhah,” kalau darahnya terus keluar padahal adat haidnya telah berakhir. [Mukhtar Ash-Shihah hal. 90]
Adapun secara istilah, maka ada beberapa definisi di kalangan ulama. Akan tetapi mungkin bisa disimpulkan sebagai berikut: Istihadhah adalah darah yang berasal dari urat yang pecah/putus, yang keluarnya bukan pada masa adat haid dan nifas -dan ini kebanyakannya-, tapi terkadang juga keluar pada masa adat haid dan saat nifas. Karena dia adalah darah berupa penyakit, maka dia tidak akan berhenti mengalir sampai wanita itu sembuh darinya.
Karena itulah, darah istihadhah ini kadang tidak pernah berhenti keluar sama sekali dan kadang berhentinya hanya sehari atau dua hari dalam sebulan.
[Lihat: Al-Ahkam Al-Mutarattibah ala Al-Haidh wa An-Nifas wa Al-Istihadhah hal. 16-17]

Ciri-Ciri Darah Istihadhah
Berbeda dengan darah haid, darah istihadhah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Warnanya merah, tipis, baunya seperti darah biasa, berasal dari urat yang pecah/putus dan ketika keluar langsung mengental.

Hukum Wanita Yang Terkena Istihadhah.
Hukumnya sama seperti wanita yang suci (tidak haid dan nifas) pada semua hal-hal yang diwajibkan dan yang disunnahkan berupa ibadah. Ibnu Jarir dan selainnya menukil ijma’ ulama akan bolehnya wanita yang terkena istihadhah untuk membaca Al-Qur`an dan wajib atasnya untuk mengerjakan semua kewajiban yang dibebankan kepada wanita yang suci. Lihat nukilan ijma’ lainnya dalam Al-Majmu’ (2/542), Ma’alim As-Sunan (1/217) dan selainnya.
Dari penjelasan di atas, kita juga bisa menarik kesimpulan bahwa darah istihadhah bukanlah najis, karena akan diterangkan bahwa wanita yang terkena istihadhah tetap wajib mengerjakan shalat walaupun saat darahnya tengah mengalir keluar.
Waktu Keluarnya Istihadhah.
a.    Kalau keluarnya istihadhah bukan pada waktu haid atau nifas, dalam artian waktu keduanya tidak bertemu. Misalnya darah istihadhah keluar bukan saat masa adat haidnya, atau darah istihadhah keluar setelah berlalunya masa nifas.
Maka di sini tidak ada masalah, masa adat haid dihukumi haid dan setelahnya dihukumi istihadhah, demikian pula halnya dengan nifas.
b.    Tapi kalau keluarnya istihadhah bertemu dengan masa adat haid atau masa nifas, maka di sini hukumnya harus dirinci. Kami katakan:
Wanita yang terkena haid (atau pada masa adat haidnya) sekaligus terkena istihadhah, tidak lepas dari empat keadaan:
1.    Dia sudah mempunyai masa adat haid sebelum terjadinya istihadhah. Maka yang seperti ini dia tinggal menjadikan masa adatnya sebagai patokan. Kalau adatnya tiba maka dia dihukumi terkena haid, dan kalau adatnya sudah berlalu maka darah yang keluar setelahnya -apapun ciri-cirinya- dihukumi istihadhah.
Misalnya: Seorang wanita biasanya haid selama enam hari pada setiap awal bulan, tiba-tiba mengalami istihadhah dan darahnya keluar terus-menerus tanpa bisa dibedakan mana yang haid dan mana yang istihadhah (misalnya karena hari pertama keluar dengan ciri-ciri haid sedang hari yang kedua dengan ciri-ciri istihadhah dan seterusnya). Maka masa haidnya dihitung enam hari pada setiap awal bulan, sedang selainnya merupakan istihadhah, sehingga dia wajib untuk mandi lalu shalat walaupun darahnya keluar terus.
Ini berdasarkan sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam- kepada Ummu Habibah binti Jahsy tatkala dia terkena istihadhah, “Diamlah (tinggalkan shalat) selama masa haid yang biasa menghalangimu, lalu mandilah dan lakukan shalat.” (HR. Muslim)
2.    Tidak mempunyai adat sebelumnya -baik karena itu awal kali dia haid (al-mubtada`ah) ataukah dia lupa adat haidnya karena sudah lama dia tidak haid-, tapi dia mempunyai tamyiz, yaitu darah yang keluar bisa dibedakan mana haid dan mana istihadhah, berdasarkan ciri-ciri haid dan nifas yang telah disebutkan.
Misalnya: Seorang wanita pada saat pertama kali mendapati darah dan darah itu keluar terus-menerus. Akan dia dapati selama 10 hari dalam sebulan darahnya berwarna hitam, berbau busuk, dan tebal (kental) kemudian setelah 10 hari itu darah yang keluar berwarna merah, tidak berbau dan encer (tipis). Maka masa haidnya adalah 10 hari tersebut, sementara sisanya dihukumi darah istihadhah.
Berdasarkan sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam- kepada Fathimah binti Abi Hubaisy -tatkala dia terkena istihadhah-, “Jika suatu darah itu darah haid, maka ia berwarna hitam diketahui, jika demikian maka tinggalkan shalat. Jika selain itu maka berwudhulah dan lakukan shalat karena itu darah penyakit.” (HR. Abu Dawud dan An Nasai).
Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Hadits ini, meskipun perlu ditinjau lagi dari segi sanad dan matannya, namun telah diamalkan oleh para ulama’. Dan hal ini lebih utama daripada dikembalikan kepada kebiasaan kaum wanita pada umumnya.”
3.    Dia mempunyai adat dan tamyiz sekaligus. Maka di sini ada dua keadaan:
a. Adat dan tamyiznya tidak bertentangan.
Misalnya: Dia mempunyai adat haid tanggal 1-6 tiap bulan. Ternyata darah yang keluar pada masa adatnya mempunyai ciri-ciri haid, sedang sisanya mempunyai ciri-ciri darah istihadhah. Maka ini tidak ada masalah.
b. Adat dan tamyiznya bertentangan.
Misalnya: Dia mempunyai adat haid 6 hari di awal bulan, akan tetapi darah yang keluar saat itu kadang dengan ciri haid dan kadang dengan ciri istihadhah. Manakah yang dijadikan patokan? Apakah adat ataukah tamyiznya? Yang kuat dalam masalah ini adalah bahwa adatnya lebih didahulukan. Sehingga yang menjadi masa haidnya adalah yang 6 hari, apapun warna darah yang keluar, sedangkan sebelum dan setelah ke 6 hari ini bukanlah haid, walaupun cirinya darah haid. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Al-Auzai, satu pendapat dari Asy-Syafi’i, dan juga pendapat Imam Ahmad, dan yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah, Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dan Syaikh Muqbil -rahimahumullah-.
4.    Tidak mempunyai adat -baik karena baru pertama kali haid (al-mubtada`ah) maupun karena lupa adat haidnya- dan tidak pula tamyiz.
Contoh: Ada seorang wanita yang pertama kali haid dan juga terkena istihadhah dengan ciri-ciri darah yang tidak beraturan. Pada hari ini berwarna hitam (ciri-ciri haid), besoknya berwarna merah dan demikian seterusnya, dan ini terjadi sebulan penuh atau kurang dari itu. Apa yang harus dilakukan wanita ini?
Jawab: Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Dalam kondisi ini, hendaklah ia mengambil kebiasaan kaum wanita pada umumnya. Maka masa haidnya adalah enam atau tujuh hari pada setiap bulan dihitung mulai dari saat pertama kali mendapati darah. Sedang selebihnya merupakan darah istihadah.
Misalnya: Seorang wanita pada saat pertama kali melihat darah pada tanggal 5 dan darah itu keluar terus menerus tanpa dapat dibedakan secara tepat mana yang darah haid, baik melalui warna ataupun dengan cara lain. Maka haidnya pada setiap bulan dihitung selama enam atau tujuh hari mulai dari tanggal lima tersebut.”
Kami katakan: Sebagian ulama berpendapat lebih utama kalau dia melihat adat kerabat wanita terdekatnya, misalnya ibunya atau saudarinya lalu dia berpatokan kepada adat mereka.

[Lihat: Al-Muhalla: 2/181-186, Nailul Authar: 1/373-380, Ad-Dima` Ath-Thabi’iyah karya Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dan Shahih Fiqh As-Sunnah: 1/216-217]

Oleh: subuki | September 1, 2012

Mengenal Hukum-Hukum Haid (2)

Mengenal Hukum-Hukum Haid (2)

Sebagai lanjutan dari pembahasan haid yang telah berlalu, berikut beberapa masalah yang belum sempat kami bawakan pada dua edisi sebelumnya:

Hukum ash-shufrah (cairan kuning yang bercampur merah) dan al-kudrah (cairan keruh yang menyerupai nanah).
Dari Ummu Athiyah -radhiallahu anha- dia berkata, “Kami (di zaman Nabi) sama sekali tidak menghukumi ash-shufrah dan al-kudrah sebagai haid, kalau keduanya keluar setelah masa suci.” (HR. Abu Daud no. 307, An-Nasai: 1/186 dan Ibnu Majah no. 647)
Maka hadits ini tegas menunjukkan bahwa: Kalau keduanya keluar pada masa adat haid maka keduanya dihukumi haid. Tapi kalau keluarnya setelah berlalunya masa adat haid, maka dia tidak dianggap haid sama sekali, bahkan dia suci dan tetap wajib mengerjakan shalat serta kewajiban lainnya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, di antaranya: Aisyah -radhiallahu anha-, Said bin Al-Musayyab, Atha`, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auzai, Abu Hanifah, Ishaq bin Rahawaih, Abdurrahman bin Mahdi dan selainnya.

Apakah Wanita Hamil Bisa Haid?
Kita katakan: Hukum asal dan kaidah umum yang biasanya terjadi adalah bahwa wanita yang hamil tidak bisa haid. Akan tetapi pada sebagian wanita yang keluar dari hukum umum ini sehingga dia tetap mengeluarkan darah di masa-masa hamilnya. Masalahnya apa hukum darah yang keluar ini?
Jawabannya: Kalau darah yang keluar saat hamil ini mempunyai ciri-ciri darah haid dan keluarnya juga pada masa adat haid, maka darah itu dihukumi haid dan berlaku pada wanita itu hukum-hukum haid.
Kalau darah yang keluar tidak sesuai dengan ciri-ciri haid atau keluarnya bukan pada masa adat haid maka dia tidaklah dihukumi haid, bahkan wanita itu tetap dianggap suci dan berlaku padanya hukum-hukum wanita yang suci.
Inilah pendapat yang benar, yaitu wanita yang hamil memungkinkan untuk haid. Sebab, pada prinsipnya, darah yang keluar dari rahim wanita adalah darah haid selama tidak ada sebab yang menolaknya sebagai darah haid. Dan tidak ada keterangan dalam Al Qur’an maupun Sunnah yang menolak kemungkinan terjadinya haid pada wanita hamil. Dan juga kita katakan: Kalau -misalnya- pada suatu bulan darah haid keluar pada masa adat haid dalam keadaan dia tidak hamil, lantas bulan depannya darah dengan ciri-ciri yang sama dan keluar pada waktu yang sama, tapi dalam keadaan dia hamil. Maka sungguh suatu keanehan kalau darah pada bulan pertama dihukumi haid sedang pada bulan berikutnya tidak dihukumi haid, padahal ciri-ciri dan waktu keluarnya sama.
Inilah pendapat Qatadah, Malik (dalam satu riwayat), pendapat terbaru Asy-Syafi’i, Ishaq bin Rahawaih dan Bakr bin Abdillah Al-Muzani. Bahkan disebutkan dalam kitab Al-Ikhtiyarat Ibnu Taimiah (hal. 30), “Al-Baihaqi menyatakan bahwa ini adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad, bahkan dinyatakan bahwa Imam Ahmad telah kembali kepada pendapat ini”. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh An-Nawawi, Ibnu Taimiah, Ibnu Al-Qayyim, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Muqbil -rahimahumullahu jamian-.
Dengan demikian, terjadilah sesuatu pada wanita hamil ketika haid, sebagaimana apa yang terjadi pada wanita yang tidak hamil, kecuali dalam dua masalah:
1.    Talak. Diharamkan mentalak (mencerai) wanita tidak hamil dalam keadaan haid, tetapi itu tidak diharamkan terhadap wanita hamil. Sebab talak (perceraian) dalam keadaan haid terhadap wanita yang tidak hamil menyalahi firman Allah Ta’ala, “Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).” (QS. Ath-Thalaq: 1).
Adapun mencerai wanita hamil dalam keadaan haid tidak menyalahi firman Allah Ta’ala. Sebab, siapa yang mencerai wanita hamil berarti ia menceraikannya pada saat dalam menghadapi masa iddahnya, baik dalam keadaan haid atau suci, karena masa iddahnya adalah dalam kehamilan. Untuk itu, tidak diharamkan mencerai wanita hamil, sekalipun setelah melakukan jima’ (senggama), dan berbeda hukumnya dengan wanita tidak hamil.
2.    Iddah. Bagi wanita hamil iddahnya berakhir pada saat melahirkan, meski pernah haid ketika hamil ataupun tidak. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath Thalaq: 4).

Beberapa Masalah Seputar Darah Haid.
1.    Seorang wanita mempunyai adat 5 hari. Pada hari ke-5 darah sudah tidak keluar tapi dia belum melihat tanda suci, apa yang dia lakukan?
Jawab: Dia sudah dihukumi suci dan wajib untuk mandi, walaupun tanda suci tidak keluar.
2.    Kalau ada wanita mempunya adat 6 hari, lantas pada 2 hari pertama keluar darah, tapi pada 2 hari berikutnya tidak keluar darah, dan dua hari terakhirnya darah keluar lagi. Apa hukum 2 hari yang tidak keluar darah padanya?
Jawab: Tetap dihukumi sebagai masa haid walaupun darah tidak keluar, karena dia masih berada dalam masa adatnya. Kecuali kalau pada hari ketiga itu ada tanda suci, maka berarti dia dianggap suci pada kedua hari itu (hari 3 dan 4), lantas haid lagi pada dua hari berikutnya. Wallahu a’lam. Rincian ini disebutkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- dan beliau menisbatkannya kepada mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanafiah, serta yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah.
3.    Seorang wanita mempunyai adat 7 hari, tapi pada sebagian bulan darah keluar selama 10 hari. Apa hukum darah yang keluar pada tiga hari terakhir?
Jawab: Kalau darah yang keluar pada tiga hari terakhir itu masih mempunyai ciri-ciri darah haid maka berarti dia masih dalam masa haid, kecuali kalau tanda suci sudah keluar pada hari ke-7 maka berarti setelahnya bukan lagi darah haid.
Kalau darah pada 3 hari terakhir itu tidak mempunyai ciri-ciri haid maka berarti wanita ini terkena istihadhah, dan tidak berlaku padanya hukum haid. Insya Allah akan datang pembahasan khusus mengenai istihadhah.

Ini yang dahulu kami pandang. Tapi belakangan kami berpendapat bahwa darah yang keluar pada 3 hari setelah masa adat bukanlah haid secara mutlak walaupun ciri-cirinya sama dengan haid. Jadi yang dia jadikan patokan adalah adatnya, selama adatnya masih bagus.
4.     Kebalikannya, seorang wanita mempunya adat 7 hari, tapi pada hari ke-5 sudah keluar tanda suci. Apakah dia sudah dianggap suci ?
Jawab: Ya, dia sudah suci dengan keluarnya tanda suci, walaupun adatnya belum selesai. Kedua masalah di atas disebutkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Al-Ustaimin -rahimahullah-.
5.    Hukum memakai obat-obatan perangsang atau penunda haid.
Jawab: Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Walaupun secara hukum dibolehkan, namun lebih utama untuk tidak menggunakan alat pencegah haid kecuali jika dianggap perlu. Karena membiarkan sesuatu secara alami akan lebih menjamin terpeliharanya kesehatan dan keselamatan.”
Karenya para ulama memberikan tiga syarat dalam pembolehan penggunaan obat-obatan ini:
1.    Tidak membahayakan dan memudharatkan dirinya. Kalau memberikan mudharat pada dirinya, maka dia tidak diperbolehkan untuk memakainya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195).
Di antara mudharat yang mungkin timbul adalah: Membahayakan dirinya, mengacaukan adat (siklus) haidnya dan beresiko menjadi mandul. Kalau ketiga ini dipastikan tidak adanya maka boleh memakai obat-obatan tersebut.
2.    Tentunya dengan seizin suami.
3.    Niat yang benar. Maka tidak dibolehkan seorang wanita memakai obat perangsang haid dengan tujuan agar dia tidak mengerjakan shalat dan puasa, dan semacamnya.

[Referensi: Risalah fi Ad-Dima` Ath-Thabi’iyah li An-Nisa` karya Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin, Shahih Fiqh As-Sunnah karya Abu Malik: 1/206-209]

Oleh: subuki | September 1, 2012

Mengenal Hukum-Hukum Haid (1)

Mengenal Hukum-Hukum Haid (1)

Pembahasan fiqhi kita pada edisi ini sudah sampai pada bab terakhir dari kitab tentang thaharah (bersuci), yaitu bab tentang haid, nifas dan istihadhah. Bab ini termasuk bab terpenting dalam masalah thaharah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abidin -rahimahullah- dalam Radd Al-Muhtar (1/282), “Mengetahui masalah-masalah yang ada di dalamnya termasuk dari perkara-perkara penting yang terbesar, karena banyak sekali hukum-hukum yang dibangun dari masalah (haid) ini.” Karenanya wajib atas seorang wanita atau yang bertanggung jawab terhadapnya untuk mempelajari masalah haid ini. Asy-Syarbini  -rahimahullah- berkata dalam Mughni Al-Muhtaj (1/120), “Wajib atas wanita untuk mempelajari ilmu yang dia butuhkan berupa hukum-hukum haid, istihadhah, dan nifas. Kalau suaminya berilmu tentangnya maka dia harus mengajari istrinya, dan kalau tidak maka boleh bagi wanita tersebut untuk keluar rumah guna bertanya kepada ulama, bahkan itu wajib atasnya. Dan diharamkan bagi suaminya (dalam hal ini) untuk melarangnya keluar, kecuali kalau dia (suami) yang bertanya lalu mengabarkan jawabannya kepada istrinya sehingga istrinya tidak perlu keluar.”
Dan sudah masyhur di kalangan ulama bahwa bab haid ini termasuk dari bab tersulit dalam bab-bab fiqhi, sampai-sampai masyhur dari Imam Ahmad -rahimahullah- bahwa beliau berkata, “Saya duduk mempelajari masalah haid selama 9 tahun sampai akhirnya saya bisa memahaminya.” Karenanya untuk mendekatkan pemahaman masalah ini kepada kaum muslimin sekalian -terkhusus kaum muslimah-, kami mencoba untuk meringkas masalah-masalah yang terdapat dalam bab haid ini, wallahul muwaffiq.
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa darah yang keluar dari kemaluan wanita ada tiga jenis: Darah haid, darah nifas, dan darah istihadhah.

Definisi Haid.
Haid secara bahasa bermakna mengalir.
Adapun secara istilah, Al-Bahuti berkata, “Dia adalah darah kebiasaan wanita yang berasal dari dasar rahim, pada waktu-waktu tertentu.” (Ar-Raudh Al-Murbi’ -Hasyiah Ibni Qasim-: 1/370) Dan sebagian ulama ada yang menambahkan definisinya: Bukan dikarenakan sebab melahirkan.
Ucapan Al-Bahuti, “Darah kebiasaan,” maka bukan tergolong haid, darah yang keluar karena adanya penyakit dan semacamnya.
Kalimat ‘dalam rahim, menunjukkan darah istihadhah bukanlah haid karena dia berasal dari urat yang pecah yang bernama al-adzil.
‘Pada waktu-waktu tertentu’ maksudnya: Darah haid ini keluar pada waktu-waktu tertentu saja, yang mana waktu tertentu tersebut sudah diketahui oleh setiap wanita dan mereka menamakannya sebagai adat keluarnya haid.
‘Bukan dikarenakan sebab melahirkan’, keluar darinya darah nifas, karena dia keluar akibat melahirkan.
[Lihat: Al-Ahkam Al-Mutarattibah ala Al-Haidh wa An-Nifas wa Al-Istihadhah hal. 13-14]

Ciri-Ciri Darah Haid.
Dia adalah darah tebal yang keluar dari rahim, berwarna hitam lagi busuk baunya, dan setelah keluar tetap dalam keadaan cair.
Ciri-ciri di atas harus diperhatikan dengan baik, karena akan diterangkan bahwa darah istihadhah mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengannya. Sementara hukum-hukum haid dan istihadhah itu berbeda. Karenanya barangsiapa yang tidak bisa membedakan antara kedua jenis darah ini maka dia akan terjatuh dalam kesalahan dalam memberikan hukum pada wanita yang terkena haid atau istihadhah.

Najisnya Darah Haid.
Darah haid adalah najis berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran (najis).” (QS. Al-Baqarah: 222). Adapun dari As-Sunnah, maka Rasulullah  bersabda tentang pakaian yang terkena darah haid, “Hendaknya dia mengeruknya lalu menggosoknya dengan air lalu menyiramnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Asma` bintu Abi Bakr) Dan ini jelas menunjukkan najisnya. Dan An-Nawawi menukil ijma’ kaum muslimin akan najisnya darah haid.

Penentuan Masa Haid.
Ada dua perkara yang dijadikan sandaran dalam menentukan masa haid:
1.    Adat. Yaitu lama biasanya darah haid keluar dari seorang wanita setiap bulannya. Misalnya kalau setiap bulan darah haidnya keluar selama 7 hari, maka berarti adat haidnya 7 hari. Kalau biasanya haid keluar setiap akhir bulan selama sekitar 5 atau 6 hari, maka berarti adat dia setiap akhir bulan berkisar antara 5 atau 6 hari. Demikian seterusnya.
Dalilnya adalah sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam- kepada Fathimah binti Jahsy, “… akan tetapi tinggalkanlah shalat selama hari-hari yang biasanya kamu haid pada hari-hari itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)
Perlu diketahui bahwa suatu durasi dikatakan dia sebagai adat dari wanita tersebut kalau durasi itu berulang selama tiga kali berturut-turut. Karenanya wanita yang pertama kali haid belum bisa diketahui berapa adatnya, sampai dilihat kapan darahnya keluar pada bulan pertama haidnya. Kalau pada bulan kedua dan ketiga, darah haid keluar pada waktu yang sama pada bulan pertama maka barulah dikatakan itu adalah adat haidnya, wallahu a’lam. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Qudamah, Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dan Asy-Syaikh Muqbil -rahimahumullah-.
2.    Tamyiz. Yaitu dengan memperhatikan darah yang keluar dari kemaluannya. Kalau yang keluar sesuai dengan ciri-ciri haid yang telah disebutkan di atas maka berarti dia sekarang terkena haid. Tapi kalau tidak sesuai dengan ciri-ciri haid maka berarti dia tetap suci walaupun ada darah yang keluar.
Dalilnya adalah sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam- kepada Fathimah binti Abi Hubaisy yang terkena istihadhah, “Itu hanyalah urat yang pecah dan bukan darah haid. Kalau darah haid sudah datang maka tinggalkanlah shalat dan kalau dia sudah berlalu maka cucilah darah darimu lalu shalatlah.” (HR. Al-Bukhari no. 306 dan Muslim no. 333)
Dalah hadits ini beliau menjadikan tanda datangnya haid adalah dengan datangnya darah yang sesuai dengan ciri-ciri haid.

Tanda Datang dan Selesainya Haid.
Datangnya haid ditandai dengan keluarnya darah hitam lagi busuk, pada waktu-waktu yang biasanya dia haid di situ.
Adapun selesainya haid, maka bisa diketahui dengan dua cara:
1.    Keluarnya al-qashshah al-baidha`, yaitu cairan putih yang keluar dari kemaluannya di akhir masa adat haid.
Aisyah -radhiallahu anha- berkata kepada para wanita, “Janganlah kalian tergesa-gesa (mandi suci) sampai kalian melihat al-qashshah al-baidha`,” yang dia maksudkan adalah tanda suci dari haid. (HR. Malik hal. 59 dan Abdurrazzaq: 1/302)
2.    Dengan al-jufuf, yaitu seorang wanita meletakkan kain katun atau yang semacamnya ke dalam kemaluannya, kalau kainnya kering maka berarti dia telah suci.

Durasi Minimal dan Maksimal Masa Haid.
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan masa atau lamanya haid. Ada sekitar enam atau tujuh pendapat dalam hal ini.
Ibnu Al-Mundzir berkata, “Ada sekelompok ulama yang berpendapat bahwa masa haid itu tidak mempunyai batasan berapa hari minimal atau maksimalnya”.
Pendapat ini seperti pendapat Ad-Darimi di atas dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dan itulah yang benar berdasarkan Al Qur’an, Sunnah dan logika.” Selesai ucapan Asy-Syaikh.
Jadi, tidak ada durasi minimal dan maksimal masa haid, akan tetapi semua ini dikembalikan kepada adat kebiasaan seorang wanita. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”, oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci…” (QS. Al Baqarah: 222).
Dalam ayat ini, yang dijadikan Allah sebagai batas akhir larangan adalah kesucian, bukan berlalunya sehari semalam, atau tiga hari, ataupun lima belas hari. Hal ini menunjukkan bahwa illat (alasan) hukum (larangan menjauhui istri) adalah haid, yakni ada atau tidaknya.
Jadi, jika ada haid berlakulah hukum itu dan jika telah suci (tidak haid) tidak berlaku lagi hukum-hukum haid tersebut. Ini adalah pendapat Ali bin Abi Thalib, Imam Malik, Maimun bin Mihran, Al-Auzai dan Daud Azh-Zhahiri, serta dikuatkan pula oleh Imam Ibnu Al-Mundzir, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiah dan Ibnu Rajab.

Usia Minimal dan Maksimal Wanita Terkena Haid.
Tidak ada keterangan dari Al-Kitab dan As-Sunnah dalam masalah ini, maka yang benarnya dikembalikan kepada adat kebiasaan seorang wanita. Kapan ada darah yang keluar dari kemaluannya pada masa-masa yang biasanya dia haid di situ dan ciri-cirinya adalah darah haid, maka itu dihukumi sebagai haid, berapapun usia wanita tersebut.
Asy-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin berkata, “Usia haid biasanya antara 12 sampai 50 tahun. Dan kemungkinan seorang wanita sudah mendapatkan haid sebelum usia 12 tahun, atau masih mendapatkan haid sesudah usia 50 tahun. Itu semua tergantung pada kondisi, lingkungan dan iklim yang mempengaruhinya. Para ulama, berbeda pendapat tentang apakah ada batasan tertentu bagi usia haid, di mana seorang wanita tidak mendapatkan haid sebelum atau sesudah usia tersebut?
Ad-Darimi, setelah menyebutkan pendapat-pendapat dalam masalah ini, mengatakan: “Hal ini semua, menurut saya keliru. Sebab, yang menjadi acuan adalah keberadaan darah. Seberapa pun adanya, dalam kondisi bagaimanapun, dan pada usia berapapun, darah tersebut wajib dihukumi sebagai darah haid. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu”. Pendapat Ad Darimi inilah yang benar dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Jadi kapanpun seorang wanita mendapatkan darah haid berarti ia haid, meskipun usianya belum mencapai 9 tahun atau di atas 50 tahun. Sebab Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mengaitkan hukum-hukum haid pada keberadaan darah tersebut. Maka dalam masalah ini, wajib mengacu kepada keberadaan darah yang telah dijadikan sandaran hukum. Adapun pembatasan pada masalah di atas tidak ada satupun dalil yang menunjukkan hal tersebut.”
Ini juga adalah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Al-Mundzir, An-Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahumullah-.

Oleh: subuki | Agustus 31, 2012

Kisah 4 Bayi Yang Berbicara

Kisah 4 Bayi Yang Berbicara

Ada 4 bayi yang tersebut dalam hadits bisa berbicara, yaitu:
1. Isa bin Maryam alaihissalam.
2. Bayi dalam kisah Juraij si ahli ibadah.
3. Bayi yang sedang menyusu kepada ibunya.
4. Bayi yang akan dilempar ke dalam api.

Adapun 3 bayi yang pertama, tersebut dalam hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau telah bersabda:
لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ 
وَصَاحِبُ جُرَيْجٍ وَكَانَ جُرَيْجٌ رَجُلًا عَابِدًا فَاتَّخَذَ صَوْمَعَةً فَكَانَ فِيهَا فَأَتَتْهُ أُمُّهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ فَقَالَ يَا رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَانْصَرَفَتْ فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ فَقَالَ يَا رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَانْصَرَفَتْ فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ فَقَالَ أَيْ رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَقَالَتْ اللَّهُمَّ لَا تُمِتْهُ حَتَّى يَنْظُرَ إِلَى وُجُوهِ الْمُومِسَاتِ فَتَذَاكَرَ بَنُو إِسْرَائِيلَ جُرَيْجًا وَعِبَادَتَهُ وَكَانَتْ امْرَأَةٌ بَغِيٌّ يُتَمَثَّلُ بِحُسْنِهَا فَقَالَتْ إِنْ شِئْتُمْ لَأَفْتِنَنَّهُ لَكُمْ قَالَ فَتَعَرَّضَتْ لَهُ فَلَمْ يَلْتَفِتْ إِلَيْهَا فَأَتَتْ رَاعِيًا كَانَ يَأْوِي إِلَى صَوْمَعَتِهِ فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا فَوَقَعَ عَلَيْهَا فَحَمَلَتْ فَلَمَّا وَلَدَتْ قَالَتْ هُوَ مِنْ جُرَيْجٍ فَأَتَوْهُ فَاسْتَنْزَلُوهُ وَهَدَمُوا صَوْمَعَتَهُ وَجَعَلُوا يَضْرِبُونَهُ فَقَالَ مَا شَأْنُكُمْ قَالُوا زَنَيْتَ بِهَذِهِ الْبَغِيِّ فَوَلَدَتْ مِنْكَ فَقَالَ أَيْنَ الصَّبِيُّ فَجَاءُوا بِهِ فَقَالَ دَعُونِي حَتَّى أُصَلِّيَ فَصَلَّى فَلَمَّا انْصَرَفَ أَتَى الصَّبِيَّ فَطَعَنَ فِي بَطْنِهِ وَقَالَ يَا غُلَامُ مَنْ أَبُوكَ قَالَ فُلَانٌ الرَّاعِي قَالَ فَأَقْبَلُوا عَلَى جُرَيْجٍ يُقَبِّلُونَهُ وَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ وَقَالُوا نَبْنِي لَكَ صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ لَا أَعِيدُوهَا مِنْ طِينٍ كَمَا كَانَتْ فَفَعَلُوا 
وَبَيْنَا صَبِيٌّ يَرْضَعُ مِنْ أُمِّهِ فَمَرَّ رَجُلٌ رَاكِبٌ عَلَى دَابَّةٍ فَارِهَةٍ وَشَارَةٍ حَسَنَةٍ فَقَالَتْ أُمُّهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ ابْنِي مِثْلَ هَذَا فَتَرَكَ الثَّدْيَ وَأَقْبَلَ إِلَيْهِ فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى ثَدْيِهِ فَجَعَلَ يَرْتَضِعُ قَالَ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَحْكِي ارْتِضَاعَهُ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ فِي فَمِهِ فَجَعَلَ يَمُصُّهَا قَالَ وَمَرُّوا بِجَارِيَةٍ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ زَنَيْتِ سَرَقْتِ وَهِيَ تَقُولُ حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ فَقَالَتْ أُمُّهُ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهَا فَتَرَكَ الرَّضَاعَ وَنَظَرَ إِلَيْهَا فَقَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا فَهُنَاكَ تَرَاجَعَا الْحَدِيثَ فَقَالَتْ حَلْقَى مَرَّ رَجُلٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهُ فَقُلْتَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ وَمَرُّوا بِهَذِهِ الْأَمَةِ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ زَنَيْتِ سَرَقْتِ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهَا فَقُلْتَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا قَالَ إِنَّ ذَاكَ الرَّجُلَ كَانَ جَبَّارًا فَقُلْتُ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ وَإِنَّ هَذِهِ يَقُولُونَ لَهَا زَنَيْتِ وَلَمْ تَزْنِ وَسَرَقْتِ وَلَمْ تَسْرِقْ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا
“Tidak ada bayi yang dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian kecuali tiga bayi: 
(1)    Isa bin Maryam, 
(2)    dan bayi dalam perkara Juraij.” Juraij adalah seorang laki-laki yang rajin beribadah. Ia membangun tempat peribadatan dan senantiasa beribadah di tempat itu. Ketika sedang melaksanakan shalat sunnah, tiba-tiba ibunya datang dan memanggilnya; ‘Hai Juraij! ‘ Juraij bertanya dalam hati; ‘Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, melanjutkan shalatku ataukah memenuhi panggilan ibuku? ‘ Akhirnya ia pun meneruskan shalatnya itu hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya. Keesokan harinya, ibunya datang lagi kepadanya sedangkan Juraij sedang melakukan shalat sunnah. Kemudian ibunya memanggilnya; ‘Hai Juraij! ‘ Kata Juraij dalam hati; ‘Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, memenuhi seruan ibuku ataukah shalatku? ‘ Lalu Juraij tetap meneruskan shalatnya hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya. Hari berikutnya, ibunya datang lagi ketika Juraij sedang melaksanakan shalat sunnah. Seperti biasa ibunya memanggil; ‘Hai Juraij! ‘ Kata Juraij dalam hati; ‘Ya Allah, manakah yang harus aku utamakan, meneruskan shalatku ataukah memenuhi seruan ibuku? ‘ Namun Juraij tetap meneruskan shalatnya dan mengabaikan seruan ibunya. Tentunya hal ini membuat kecewa hati ibunya. Hingga tak lama kemudian ibunya pun berdoa kepada Allah; ‘Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah dari perempuan pelacur! ‘ Kaum Bani Israil selalu memperbincangkan tentang Juraij dan ibadahnya, hingga ada seorang wanita pelacur yang cantik berkata; ‘Jika kalian menginginkan popularitas Juraij hancur di mata masyarakat, maka aku dapat memfitnahnya demi kalian.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun meneruskan sabdanya: ‘Maka mulailah pelacur itu menggoda dan membujuk Juraij, tetapi Juraij tidak mudah terpedaya dengan godaan pelacur tersebut. Kemudian pelacur itu pergi mendatangi seorang penggembala ternak yang kebetulan sering berteduh di tempat peribadatan Juraij. Ternyata wanita tersebut berhasil memperdayainya hingga laki-laki penggembala itu melakukan perzinaan dengannya sampai akhirnya hamil. Setelah melahirkan, wanita pelacur itu berkata kepada masyarakat sekitarnya bahwa; ‘Bayi ini adalah hasil perbuatan aku dengan Juraij.’ Mendengar pengakuan wanita itu, masyarakat pun menjadi marah dan benci kepada Juraij. Kemudian mendatangi rumah peribadatan Juraij dan bahkan menghancurkannya. Selain itu, mereka pun bersama-sama menghakimi Juraij tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya. Lalu Juraij bertanya kepada mereka; ‘Mengapa kalian lakukan hal ini kepadaku? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami lakukan hal ini kepadamu karena kamu telah berbuat zina dengan pelacur ini hingga ia melahirkan bayi dari hasil perbuatanmu.’ Juraij berseru; ‘Dimanakah bayi itu? ‘ Kemudian mereka menghadirkan bayi hasil perbuatan zina itu dan menyentuh perutnya dengan jari tangannya seraya bertanya; ‘Hai bayi kecil, siapakah sebenarnya ayahmu itu? ‘ Ajaibnya, sang bayi langsung menjawab; ‘Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala.’ Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Akhirnya mereka menaruh hormat kepada Juraij. Mereka menciuminya dan mengharap berkah darinya. Setelah itu mereka pun berkata; ‘Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu ini dengan bahan yang terbuat dari emas.’ Namun Juraij menolak dan berkata; ‘Tidak usah, tetapi kembalikan saja rumah ibadah seperti semula yang terbuat dari tanah liat.’ Akhirnya mereka pun mulai melaksanakan pembangunan rumah ibadah itu seperti semula. 
(3)    Dan bayi ketiga, Ada seorang bayi sedang menyusu kepada ibunya, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang gagah dan berpakaian yang bagus pula. Lalu ibu bayi tersebut berkata; ‘Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah anakku ini seperti laki-laki yang sedang mengendarai hewan tunggangan itu! ‘ Ajaibnya, bayi itu berhenti dari susuannya, lalu menghadap dan memandang kepada laki-laki tersebut sambil berkata; ‘Ya Allah ya Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu! ‘ Setelah itu, bayi tersebut langsung menyusu kembali kepada ibunya. Abu Hurairah berkata; ‘Sepertinya saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan susuan bayi itu dengan memperagakan jari telunjuk beliau yang dihisap dengan mulut beliau.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meneruskan sabdanya: ‘Pada suatu ketika, ada beberapa orang yang menyeret dan memukuli seorang wanita seraya berkata; ‘Kamu wanita tidak tahu diuntung. Kamu telah berzina dan mencuri.’ Tetapi wanita itu tetap tegar dan berkata; ‘Hanya Allah lah penolongku. Sesungguhnya Dialah sebaik-baik penolongku.’ Kemudian ibu bayi itu berkata; ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti wanita itu! ‘ Tiba-tiba bayi tersebut berhenti dari susuan ibunya, lalu memandang wanita tersebut seraya berkata; ‘Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah aku sepertinya! ‘ Demikian pernyataan ibu dan bayinya itu terus berlawanan, hingga ibu tersebut berkata kepada bayinya; ‘Celaka kamu hai anakku! Tadi, ada seorang laki-laki yang gagah dan menawan lewat di depan kita, lalu kamu berdoa kepada Allah; ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti laki-laki itu! Namun kamu malah mengatakan; ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu! Kemudian tadi, ketika ada beberapa orang menyeret dan memukuli seorang wanita sambil berkata; ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti wanita itu! ‘ Tetapi kamu malah berkata; ‘Ya Allah, jadikanlah aku seperti wanita itu! ‘ Mendengar pernyataan ibunya itu, sang bayi pun menjawab; ‘Sesungguhnya laki-laki yang gagah itu seorang yang sombong hingga aku mengucapkan; ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu! ‘ Sementara wanita yang dituduh mencuri dan berzina itu tadi sebenarnya adalah seorang wanita yang shalihah, tidak pernah berzina, ataupun mencuri. Oleh karena itu, aku pun berdoa; ‘Ya Allah, jadikanlah aku seperti wanita itu!” (HR. AL-Bukhari no. 3181 dan Muslim no. 4626)

Sementara bayi keempat tersebut dalam hadits Shuhaib bin Sinan radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
كَانَ مَلِكٌ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ فَلَمَّا كَبِرَ قَالَ لِلْمَلِكِ إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ فَابْعَثْ إِلَيَّ غُلَامًا أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ فَبَعَثَ إِلَيْهِ غُلَامًا يُعَلِّمُهُ فَكَانَ فِي طَرِيقِهِ إِذَا سَلَكَ رَاهِبٌ فَقَعَدَ إِلَيْهِ وَسَمِعَ كَلَامَهُ فَأَعْجَبَهُ فَكَانَ إِذَا أَتَى السَّاحِرَ مَرَّ بِالرَّاهِبِ وَقَعَدَ إِلَيْهِ فَإِذَا أَتَى السَّاحِرَ ضَرَبَهُ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى الرَّاهِبِ فَقَالَ إِذَا خَشِيتَ السَّاحِرَ فَقُلْ حَبَسَنِي أَهْلِي وَإِذَا خَشِيتَ أَهْلَكَ فَقُلْ حَبَسَنِي السَّاحِرُ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَتَى عَلَى دَابَّةٍ عَظِيمَةٍ قَدْ حَبَسَتْ النَّاسَ فَقَالَ الْيَوْمَ أَعْلَمُ آلسَّاحِرُ أَفْضَلُ أَمْ الرَّاهِبُ أَفْضَلُ فَأَخَذَ حَجَرًا فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَّةَ حَتَّى يَمْضِيَ النَّاسُ فَرَمَاهَا فَقَتَلَهَا وَمَضَى النَّاسُ فَأَتَى الرَّاهِبَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ لَهُ الرَّاهِبُ أَيْ بُنَيَّ أَنْتَ الْيَوْمَ أَفْضَلُ مِنِّي قَدْ بَلَغَ مِنْ أَمْرِكَ مَا أَرَى وَإِنَّكَ سَتُبْتَلَى فَإِنْ ابْتُلِيتَ فَلَا تَدُلَّ عَلَيَّ وَكَانَ الْغُلَامُ يُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَيُدَاوِي النَّاسَ مِنْ سَائِرِ الْأَدْوَاءِ فَسَمِعَ جَلِيسٌ لِلْمَلِكِ كَانَ قَدْ عَمِيَ فَأَتَاهُ بِهَدَايَا كَثِيرَةٍ فَقَالَ مَا هَاهُنَا لَكَ أَجْمَعُ إِنْ أَنْتَ شَفَيْتَنِي فَقَالَ إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِي اللَّهُ فَإِنْ أَنْتَ آمَنْتَ بِاللَّهِ دَعَوْتُ اللَّهَ فَشَفَاكَ فَآمَنَ بِاللَّهِ فَشَفَاهُ اللَّهُ فَأَتَى الْمَلِكَ فَجَلَسَ إِلَيْهِ كَمَا كَانَ يَجْلِسُ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَنْ رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ قَالَ رَبِّي قَالَ وَلَكَ رَبٌّ غَيْرِي قَالَ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الْغُلَامِ فَجِيءَ بِالْغُلَامِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ أَيْ بُنَيَّ قَدْ بَلَغَ مِنْ سِحْرِكَ مَا تُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَتَفْعَلُ وَتَفْعَلُ فَقَالَ إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِي اللَّهُ فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الرَّاهِبِ فَجِيءَ بِالرَّاهِبِ فَقِيلَ لَهُ ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ فَأَبَى فَدَعَا بِالْمِئْشَارِ فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَشَقَّهُ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ ثُمَّ جِيءَ بِجَلِيسِ الْمَلِكِ فَقِيلَ لَهُ ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ فَأَبَى فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَشَقَّهُ بِهِ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ ثُمَّ جِيءَ بِالْغُلَامِ فَقِيلَ لَهُ ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ فَأَبَى فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى جَبَلِ كَذَا وَكَذَا فَاصْعَدُوا بِهِ الْجَبَلَ فَإِذَا بَلَغْتُمْ ذُرْوَتَهُ فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِينِهِ وَإِلَّا فَاطْرَحُوهُ فَذَهَبُوا بِهِ فَصَعِدُوا بِهِ الْجَبَلَ فَقَالَ اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ فَرَجَفَ بِهِمْ الْجَبَلُ فَسَقَطُوا وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ قَالَ كَفَانِيهِمُ اللَّهُ فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ اذْهَبُوا بِهِ فَاحْمِلُوهُ فِي قُرْقُورٍ فَتَوَسَّطُوا بِهِ الْبَحْرَ فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِينِهِ وَإِلَّا فَاقْذِفُوهُ فَذَهَبُوا بِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ فَانْكَفَأَتْ بِهِمْ السَّفِينَةُ فَغَرِقُوا وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ قَالَ كَفَانِيهِمُ اللَّهُ فَقَالَ لِلْمَلِكِ إِنَّكَ لَسْتَ بِقَاتِلِي حَتَّى تَفْعَلَ مَا آمُرُكَ بِهِ قَالَ وَمَا هُوَ قَالَ تَجْمَعُ النَّاسَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ وَتَصْلُبُنِي عَلَى جِذْعٍ ثُمَّ خُذْ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِي ثُمَّ ضَعْ السَّهْمَ فِي كَبِدِ الْقَوْسِ ثُمَّ قُلْ بِاسْمِ اللَّهِ رَبِّ الْغُلَامِ ثُمَّ ارْمِنِي فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتَنِي فَجَمَعَ النَّاسَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ وَصَلَبَهُ عَلَى جِذْعٍ ثُمَّ أَخَذَ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِهِ ثُمَّ وَضَعَ السَّهْمَ فِي كَبْدِ الْقَوْسِ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ رَبِّ الْغُلَامِ ثُمَّ رَمَاهُ فَوَقَعَ السَّهْمُ فِي صُدْغِهِ فَوَضَعَ يَدَهُ فِي صُدْغِهِ فِي مَوْضِعِ السَّهْمِ فَمَاتَ فَقَالَ النَّاسُ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ فَأُتِيَ الْمَلِكُ فَقِيلَ لَهُ أَرَأَيْتَ مَا كُنْتَ تَحْذَرُ قَدْ وَاللَّهِ نَزَلَ بِكَ حَذَرُكَ قَدْ آمَنَ النَّاسُ فَأَمَرَ بِالْأُخْدُودِ فِي أَفْوَاهِ السِّكَكِ فَخُدَّتْ وَأَضْرَمَ النِّيرَانَ وَقَالَ مَنْ لَمْ يَرْجِعْ عَنْ دِينِهِ فَأَحْمُوهُ فِيهَا أَوْ قِيلَ لَهُ اقْتَحِمْ فَفَعَلُوا حَتَّى جَاءَتْ امْرَأَةٌ وَمَعَهَا صَبِيٌّ لَهَا فَتَقَاعَسَتْ أَنْ تَقَعَ فِيهَا فَقَالَ لَهَا الْغُلَامُ يَا أُمَّهْ اصْبِرِي فَإِنَّكِ عَلَى الْحَقِّ
“Dulu, sebelum kalian ada seorang raja, ia memiliki tukang sihir, saat tukang sihir sudah tua, ia berkata kepada rajanya: ‘Aku sudah tua, kirimlah seorang pemuda kepadaku untuk aku ajari sihir.’ Lalu seorang pemuda datang padanya, ia mengajarkan sihir kepada pemuda itu. (Jarak) antara tukang sihir dan si raja terdapat seorang rahib. Si pemuda itu mendatangi rahib dan mendengar kata-katanya, ia kagum akan kata-kata si rahib itu sehingga bila datang ke si penyihir pasti dipukul, Pemuda itu mengeluhkan hal itu kepada si rahib, ia berkata: ‘Bila tukang sihir hendak memukulmu, katakan: ‘Keluargaku menahanku, ‘ dan bila kau takut pada keluargamu, katakan: ‘Si tukang sihir menahanku.’ Saat seperti itu, pada suatu hari ia mendekati sebuah hewan yang besar yang menghalangi jalanan orang, ia berkata, ‘Hari ini aku akan tahu, apakah tukang sihir lebih baik ataukah pendeta lebih baik.’ Ia mengambil batu lalu berkata: ‘Ya Allah, bila urusan si rahib lebih Engkau sukai dari pada tukang sihir itu maka bunuhlah binatang ini hingga orang bisa lewat.’ Ia melemparkan batu itu dan membunuhnya, orang-orang pun bisa lewat. Ia memberitahukan hal itu kepada si rahib. Si rahib berkata: ‘Anakku, saat ini engkau lebih baik dariku dan urusanmu telah sampai seperti yang aku lihat, engkau akan mendapat ujian, bila kau mendapat ujian jangan menunjukkan padaku.’ Si pemuda itu bisa menyembuhkan orang buta dan berbagai penyakit. Salah seorang teman raja yang buta lalu ia mendengarnya, ia mendatangi pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak, ia berkata: ‘Sembuhkan aku dan kau akan mendapatkan yang aku kumpulkan disini.’ Pemuda itu berkata: ‘Aku tidak menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah, bila kau beriman padaNya, aku akan berdoa kepadaNya agar menyembuhkanmu.’ Teman si raja itu pun beriman lalu si pemuda itu berdoa kepada Allah lalu ia pun sembuh. Teman raja itu kemudian mendatangi raja lalu duduk didekatnya. Si raja berkata: ‘Hai fulan, siapa yang menyembuhkan matamu? ‘ Orang itu menjawab: ‘Rabbku.’ Si raja berkata: ‘Kau punya Rabb selainku? ‘ Orang itu berkata: ‘Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.’ Si raja menangkapnya lalu menyiksanya hingga ia menunjukkan pada pemuda itu lalu pemuda itu didatangkan, Raja berkata: ‘Hai anakku, sihirmu yang bisa menyembuhkan orang buta, sopak dan kau melakukan ini dan itu.’ Pemuda itu berkata: ‘Bukan aku yang menyembuhkan, yang menyembuhkan hanya Allah.’ Si raja menangkapnya dan terus menyiksanya ia menunjukkan kepada si rahib. Si raja mendatangi si rahib, rahib pun didatangkan lalu dikatakan padanya: ‘Tinggalkan agamamu.’ Si rahib tidak mau lalu si raja meminta gergaji kemudian diletakkan tepat ditengah kepalanya hingga sebelahnya terkapar di tanah. Setelah itu teman si raja didatangkan dan dikatakan padanya: ‘Tinggalkan agamamu.’ Si rahib tidak mau lalu si raja meminta gergaji kemudian diletakkan tepat ditengah kepalanya hingga sebelahnya terkapar di tanah. Setelah itu pemuda didatangkan lalu dikatakan padanya: ‘Tinggalkan agamamu.’ Pemuda itu tidak mau. Lalu si raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya, raja berkata: ‘Bawalah dia ke gunung ini dan ini, bawalah ia naik, bila ia mau meninggalkan agamanya (biarkanlah dia) dan bila tidak mau, lemparkan dari atas gunung.’ Mereka membawanya ke puncak gunung lalu pemuda itu berdoa: ‘Ya Allah, cukupilah aku dari mereka sekehendakMu.’ Ternyata gunung mengguncang mereka dan mereka semua jatuh. Pemuda itu kembali pulang hingga tiba dihadapan raja. Raja bertanya: ‘Bagaimana kondisi kawan-kawanmu? ‘ Pemuda itu menjawab: ‘Allah mencukupiku dari mereka.’ Lalu si raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya, raja berkata: ‘Bawalah dia ke sebuah perahu lalu kirim ke tengah laut, bila ia mau meninggalkan agamanya (bawalah dia pulang) dan bila ia tidak mau meninggalkannya, lemparkan dia.’ Mereka membawanya ke tengah laut lalu pemuda itu berdoa: ‘Ya Allah, cukupilah aku dari mereka sekehendakMu.’ Ternyata perahunya terbalik dan mereka semua tenggelam. Pemuda itu pulang hingga tiba dihadapan raja, raja bertanya: Bagaimana keadaan teman-temanmu? ‘ Pemuda itu menjawab: ‘Allah mencukupiku dari mereka.’ Setelah itu ia berkata kepada raja: ‘Kau tidak akan bisa membunuhku hingga kau mau melakukan yang aku perintahkan, ‘ Raja bertanya: ‘Apa yang kau perintahkan? ‘ Pemuda itu berkata: ‘Kumpulkan semua orang ditanah luas lalu saliblah aku diatas pelepah, ambillah anak panah dari sarung panahku lalu ucapkan: ‘Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini.’ Bila kau melakukannya kau akan membunuhku.’ Akhirnya raja itu melakukannya. Ia meletakkan anak panah ditengah-tengah panah lalu melesakkannya seraya berkata: ‘Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini.’ Anak panah di lesakkan ke pelipis pemuda itu lalu pemuda meletakkan tangannya ditempat panah menancap kemudian mati. Orang-orang berkata: ‘Kami beriman dengan Rabb pemuda itu.’ Kemudian didatangkank kepada raja dan dikatakan padanya: ‘Tahukah kamu akan sesuatu yang kau khawatirkan, demi Allah kini telah menimpamu. Orang-orang beriman seluruhnya.’ Si raja kemudian memerintahkan membuat parit di jalanan kemudian disulut api. Raja berkata: ‘Siapa pun yang tidak meninggalkan agamanya, pangganglah didalamnya.’ Mereka melakukannya hingga datanglah seorang wanita bersama anaknya, sepertinya ia hendak mundur agar tidak terjatuh dalam kubangan api lalu si bayi itu berkata: ‘Ibuku, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada diatas kebenaran. (HR. Muslim no. 5327)…

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.