Oleh: subuki | April 23, 2010

Diam itu Mas, atau Batu ?

Iman Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rosul SAW bersabda :

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengerjakan yang baik atau diam” (HR. Bukhari & Muslim)

Kualitas seseorang, salah satunya bisa terlihat dari kemampuan menjaga lidahnya. Sebaik-baik perkataan adalah perkataan yang sanggup mengatakan kebenaran.

Prioritas pertama dalam hadits di atas bagi orang beriman adalah berbicara yang haq. Berbicara yang baik-baik atau tentang kebaikan sesuai tuntunan syari’at.

Allah berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan katakanlah yang benar” (QS. Al-Ahzab : 70)

Sebaliknya orang yang rendah dalam berbicara. Biasanya selalu mengeluh, mencela dan menghina. Begitu pula orang yang dangkal dalam berbicara, orang tersebut sibuk menyebutkan kehebatan tentang dirinya dan juga jasanya. hampir mirip dengan gelas yang kosong, sebuah gelas yang kosong maunya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri keinginannya dihargai.

Oleh karena itu bila kita tidak mampu berbicara yang baik-baik maka hadits Nabi SAW memberikan pilihan yang kedua yaitu diam.

Dalam kehidupan sehari-hari. Ada ungkapan yang menyebutkan “diam itu adalah Emas”. artinya dengan diam itu akan menjadi mulia. tetapi faktanya ada pula dengan diam malah menjadi masalah.

Memang, banyak istilah yang melibatkan kata ‘diam’ dengan konotasi yang berbeda-beda. Misalnya : Diam adalah Emas. Diam adalah keterbatasan entelektual. Diam adlah cuek, dan yang paling ringan persoalannya adalah diam karena sakit gigi atau diam karena sariawan.

Kapan diam adalah Emas ….? . Diam dalam arti tidak berbicara. Dalam kondisi tertentu memang diperbolehkan dan bahkan diperintahkan. Yang diperintahkan misalnya : pada saat Khotib Jum’at naik mimbar. ma’mum dilarang berbicara sepatah kata pun. Yang diperbolehkan misalnya : kalu ada seorang pemuda melamar seorang gadis kepada orang tuanya, maka diamnya gadis tersebut adalah emas bagi si pemuda, karena diamnya seorang gadis yang dilamar adalah indikasi dari persetujuannya.

Yang mempunyai implikasi cukup berat dan meluas adalah diam karena keterbatasan intelektual atau diam karena kecuekan. Dan merupakan bencana besar apabila diam jenis ini justru menimpa kaum muslimin. terlebih lagi kalangan elit muslim yaitu para ulama. kaum cendikiawan serta kalangan politikus muslim. Karena mendiamkan apa yang seharusnya tidak didiamkan merupakan awal dari membusuknya berbagai persoalan, tatanan dan aturan.

Demikian pula diam karena ketidakpedulian. Cukup banyak persoalan masyarakat dan negara yang mengharuskan kaum muslimin peduli dan jarang diam.

kemaksiatan yang merajalela, Ekonomi ribawi. Sistem politik tidak Islam dan banyak aturan-aturan Allah dicampakkan sehingga melahirkan kritis multi dimensi. Hal ini menuntut kita lantang menyuarakan kebenaran kemudian wajib memperjuangkan Islam secara total.

Rosulullah SAW menegaskan :

” Siapa saja yang berdiam diri dari kebenaran, maka dia adalah setan bisu”  (AL-Hadits).

Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Ali Imron : 104 :

Memberikan predikat Khoirul Ummah kita kaum muslimin, sebagai umat terbaik karena kita diserahi tugas yang mulia yang harus diwujudkan yaitu sebagai pengemban dakwah yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Maka diam dalam aspek ini bukanlah emas, tetapi Batu……….!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: