Oleh: subuki | September 24, 2010

Cinta dan Kekerasan, Benci dan Kelembutan

Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga mencintai untuk saudaranya apa-apa yang dia cintai untuk dirinya”

“maa” adalah isim maushul berarti apa-apa sebagai maf’ul bihi (objek) dari yuhibba. Kalau “sebagaimana” dalam bahasa arab dengan kata “kamaa”.

Hadis ini –sebagaimana kadang-kadang disalah fahami– tidak bicara cinta kepada saudaranya tapi mencintai (sesuatu) untuk saudaranya. Artinya berbeda antara cinta
kepada saudara dengan mencintai (sesuatu) untuk saudara.

Contoh cinta kepada saudara: aku cinta kepada dia karena dia ibadahnya bagus.

Contoh cinta untuk saudara (apa-apa yang dia cintai untuk dirinya):

aku cinta punya mobil maka aku juga suka saudaraku punya mobil.

aku cinta mengikuti kebenaran maka aku juga cinta saudaraku mengikuti kebenaran.

Sehingga kelaziman atau konsekuensi cinta untuk saudaranya itu adalah mengajarinya, menasihatinya, menegurnya kalau melenceng dari kebenaran sampai menghukumnya kalau diperlukan supaya tetap di atas kebenaran.

Cinta tidak selalu identik dengan lembut walaupun asal dari cinta adalah lembut, kadang-kadang bahkan seringkali cinta itu menjadi harus keras. Contoh ketika Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam melihat tumit para sahabat tidak terkena air wudhu, apa teguran beliau?

ويل للأعقاب من النار

“Celakalah tumit-tumit dari neraka” (HR Bukhari dan Muslim)

Pertanyaan saya, ini sikap keras atau lembut?
Ini beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan karena cinta atau bukan?

Contoh yang kedua: Saat seorang sahabat memakai cincin emas, apa yang Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam?

beliau mencopot paksa dan mebuangnya sambil berkata:

يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ

“Salah seorang kalian bermaksud dengan kerikil (bara) dari api kemudian dia jadikan di tangannya” (HR Muslim)

Pertanyaan saya, ini sikap keras atau lembut?
Ini beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan karena cinta atau bukan?

Contoh yang lain banyak banyak sekali baik dan juga dicontohkan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Salah satu contoh ada di tafsir QS At-Taubah: 118 dan kisah asbabun nuzulnya tentang Kisah Ka’ab bin Malik yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim serta disebut an-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin dalam Bab Taubat.

Bagaimana di situ sedih dan sampai menangisnya Ka’ab bin Malik diboikot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh sahabat, bahkan oleh istrinya sendiri karena tidak ikut perang Tabuk, padahal orang-orang munafik yang berbohong dengan meyampaikan ‘udzur tidak ikut perang malah disikapi baik dan dimohonkan ampun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena melihat dzahirnya, bukan melihat hatinya). Kalau mau cari kebenaran silakan dibaca, kalau tidak punya bisa saya kirimi.

Sikap keras luar biasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat kepada Ka’ab bin Malik dan dua sahabatnya ini karena cinta atau bukan?

Sikap lembut dan memohonkan ampun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang munafik ini apakah berarti cinta pada orang munafik? tentu saja tidak sebab orang-orang munafik ini ma’ruf dan dikenal di kalangan sahabat.

Sebaliknya sikap lembut tidak selalu identik dengan cinta, contoh:
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:
Datang seseorang minta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau berkata: “Sejelek-jelek saudara kerabat(kabilah)!”, ketika orang itu duduk beliau berseri-seri wajahnya dan ramah kepadanya….” (HR Bukhari dan Muslim)

Apakah lemah lembutnya itu karena cinta atau bukan? padahal orang itu di-“ghibah” dengan sejelek jelek saudara kerabat (kabilah). Ini menunjukkan bahwa ghibah juga tidak selalu terlarang sebagaimana Imam Nawawi menjelaskan ghibah yang dibolehkan dalam Riyadhush Shalihin.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menukil al-Imam al-Khattabi berkaitan dengan “ghibah” yang dilakukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: Justru wajib atas beliau untuk menjelaskan hal tersebut (kejelekan orang itu) dan membuka dan memperkenalkan pada orang banyak keadaan orang tersebut (kejelekannya) karena itu termasuk bab nasihat dan kasih sayang kepada ummat ini.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juga menukil perakatan al-Imam al-Qurthubi:

Dalam hadis ini terdapat bolehnya ghibah kepada orang yang terang-terangan melakukan kefasikan atau kekejian dan semacamnya seperti dzalim dalam hukum, penyeru bid’ah bersama kebolehan mudarah (bersikap lembut karena alasan agama) karena takut kejelekan mereka selama tidak mengarah kepada mudahanah (bersikap lembut karena alasan duniawi dengan mengorbankan agama) di dalam agama ALLAH Ta’ala.

Kemudian mengomentari hadis di atas sana (hadis tentang cinta pada saudara muslim), Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari menukil ucapan al-Hafidz al-Kirmani:

“Dan termasuk keimanan juga adalah membenci untuk saudaranya apa-apa yang dia benci untuk dirinya sendiri dari kejelekan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutnya sebab cinta pada sesuatu melazimkan benci pada sebaliknya, maka beliau meninggalkan nash atasnya (atas benci) karena telah mencukupi.”

Lihatlah jelinya para Ulama dalam memahami hadis, jadi membenci itu termasuk kelaziman dari mencintai. Kalau mau beriman dengan sempurna maka bencilah untuk saudaranya apa-apa yang dia benci untuk dirinya sendiri. Kalau saudaranya berbuat salah, bid’ah dan maksiat ya jangan biarkan tapi ya diingatkan tapi tentu saja semata-mata karena ALLAH Ta’ala. Caranya bisa lembut bisa keras tergantung situasi dan kondisi.

Dan hal yang penting benci tidak identik dengan lembah lembut juga tidak identik dengan kasar dan keras. Benci bisa jadi lemah lembut kalau diperlukan, bisa jadi keras kalau diperlukan.

Benci dan cinta karena ALLAH ada pembahasannya tersendiri sedang sikap lembut dan keras ada pembahasannya sendiri. Semua ada timbangan syar’inya dan dasar ilmunya.

Apakah benci dan cinta serta keras dan lembut kita sudah berdasar ilmu atau hanya perasaan? silakan dijawab sendiri-sendiri.

ALLAH A’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: