Oleh: subuki | Januari 13, 2011

HUKUM – HUKUM DALAM ISLAM

HUKUM – HUKUM DALAM ISLAM

  • Hukum-Hukum Syara’

Ketentuan-ketentuan dari Allah dan RasulNya yang bersifat perintah, larangan, anjuran dan yang seumpamanya, oleh ulama-ulama di istilahkan dengan Hukum-Hukum Syara’ atau Hukum-Hukum Agama.

Dengan ketentuan-ketentuan yang mereka adakan itu, para ‘ulama mengeluarkan beberapa macam hukum yaitu :

  1. Wajib,
  2. Sunnah,
  3. Haram,
  4. Makruh dan
  5. Mubah.

1. Wajib

Tentang wajib ini, ada banyak ta’rif yang dikemukakan oleh para ‘ulama. Diantaranya ialah ta’rif yang berbunyi “Wajib itu satu ketentuan Agama yang harus dikerjakan, kalau tidak berdosalah ia”.

contohnya : “Shalat Isya, Shubuh, Zhuhur, Ashar dan Maghrib hukumnya Wajib, yaitu satu ketentujan yang harus dikerjakan, kalu tidak dikerjakan maka berdosalah ia.

Dalam Surah An-Nur : 63 Allah swt. berfirman :

“Maka hendaklah berhati-hati orang-orang yang melanggar perintah Allah daripada ditimpa fitnah, atau ditimpa adzab yang pedih” (QS.An-Nur : 63).

 

2. Sunnah

“Sunnah yaitu satu perbuatan yang kalau dikerjakan akan mendapatkan pahala dari Allah dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa”

Dalam AlQuran Surah Yunus ayat 26 Allah swt. berfirman :

“Dan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (disediakan) kebaikan dan tambahan” (QS.Yunus : 26).

3. Haram

“Haram yaitu satu ketentuan larang dari Agama (Allah) yang tidak boleh dikerjakan, dan apabila dikerjakan maka berdosalah orang itu”.

contoh :

“Mendatangi tukang-tukang tenung dengan tujuan menanyakan sesuatu hal ghaib, lalu ia percaya. Maka, berdosalah ia”

4. Makruh

“Makruh yaitu satu ketentuan larang yang lebih baik tidak dikerjakan dari pada dikerjakan”.

contoh :

“Makan binatang buas”

Dalam AlQuran surah Al Baqarah, ayat 173, Allah telah membahas yang haram dimakan, hanya satu saja yaitu babi. Maka kalau larngan makan binatang buas itu kita hukumkan haram juga, berarti sabda Nabi saw. yang melarang makan binatang buas itu, menentang Allah. Ini tidak haram, ia berhadapan dengan dua kemungkinan hukum : mubah atau makruh. Mubah tidak kena, karena Nabi saw. melarang, bukan memerintah. jadi, larangan Nabi saw. dalam hadits-hadits tentang binatang buas itu, kta ringankan. Larangna yang ringan tidak lain, melainkan makruh. Kesimpulannya : “Binatang buas itu makruh”.

5. Mubah

“Mubah yaitu satu perbuatan yang tidak ada ganjaran atau siksaan bagi orang mengerjakannya atau tidak mengerjakannya”.

KESIMPULAN :

  1. Perintah-perintah Agama mempunyai hukum : wajib atau sunnah atau mubah.
  2. Hukum wajib dan sunnat ada pada amalan-amalan ibadah dan keduniaan, tetapi hukum mubah hanya ada pada keduniaan saja.
  3. Larangan-larangan Agama mempunyai hukum-hukum : haram dan makruh. Hukum-hukum ini ada dalam ibadah dan keduniaan.

 

Hukum Islam, Syariah

Jelas, maksud Nabi adalah bahwa masyarakat harus menjadi sebuah komunitas tunggal dan syariat aturan umum hidupnya. Setelah kematiannya, bagaimanapun, perselisihan pihak pecah di bawah penggantinya, para khalifah, tiga dari empat pertama di antaranya meninggal oleh kekerasan. Di bawah khalifah keempat, `Semua, sepupu Nabi dan suami dari putrinya Fatimah, masyarakat terbelah dua. Para Legitimis, yang menyatakan bahwa suksesi harus tetap di dalam keluarga Nabi dan bahwa ‘Ali seharusnya menjadi khalifah pertama, telah berkembang menjadi sekte-sekte Syiah, yang masih merupakan kelompok minoritas dalam Islam. Massa besar Muslim, bagaimanapun, bentuk sekte Sunni, memerintah atas pada awalnya oleh khalifah dari Dinasti Umayyah berkuasa di Damaskus, dan kemudian oleh ‘Abbasiyah Dinasti memerintah di Baghdad, hingga kekhalifahan diambil alih oleh Turki. ( Islam: Muhammad and His Religion , Arthur Jeffery, 1958, p xi-xiv) ( Islam: Muhammad dan Agama-Nya , Arthur Jeffery, 1958, p xi-xiv)

. Pola historis Islam menunjukkan kepada kita bahwa ketika bangsa keuntungan populasi Muslim cukup besar, mereka akan mulai menghasut untuk Syariah untuk dilaksanakan. Syariah adalah sistem hukum perdata yang didasarkan pada Alquran dan hadis dan karya sarjana Muslim di dua abad pertama IslamSyariah meluas sekedar hukum perdata. Diterapkan sepenuhnya, Syari’ah adalah kode untuk hidup yang umat Islam harus mematuhi, termasuk doa, puasa dan sumbangan kepada orang miskin.. Syariah adalah totalitas kehidupan beragama, politik, sosial, negeri dan swasta.. Syariah terutama dimaksudkan bagi semua Muslim, tetapi berlaku untuk batas tertentu juga bagi orang yang hidup di dalam masyarakat Islam.

. Muslim merasa bahwa Syariah telah disalahpahami oleh orang Kristen, yang cenderung berkonsentrasi pada tuntutan hukuman keras seperti amputasi tangan atau kaki untuk pencurian dan cambuk publik untuk menangkap orang minum alkohol.

Berdasarkan hukum Syariah di Afghanistan, polisi keagamaan Taliban, secara resmi dikenal sebagai Departemen Pencegahan Wakil dan Promosi Kebajikan, menegakkan hukum Syariah.

Sebagai contoh, janggut seorang laki-laki harus cukup lama untuk menonjol dari tangan terkepal di dasar dagu.. Jika tidak, ia dikenakan hukuman.

. Dalam Syariah di Afghanistan, wanita tidak diizinkan untuk bekerja di bidang apapun kecuali sektor medis. Hukum Islam Afghanistan tidak mengizinkan kerja perempuan di departemen pemerintah atau lembaga internasional. Perempuan tidak boleh pergi ke luar tempat tinggal mereka dengan pengecualian mereka yang bekerja di sektor medis.

Ia melarang perempuan dari memakai perhiasan dan make-up dan dari membuat kegaduhan dengan sepatu mereka ketika mereka berjalan. Jika seorang wanita tidak bekerja di luar rumah, dia dilarang untuk duduk di samping pengemudi ketika bepergian ke dan dari tempat kerja. Stylish gaun dan dekorasi perempuan adalah dilarang.

Ada telah melaporkan kasus pemukulan dokter perempuan dan staf medis perempuan di rumah sakit dimana mereka bekerja.

melembagakan undang-undang nasional yang mencakup baik hukum perdata dan spiritual adalah salah satu prinsip yang membuat sulit bagi Amerika untuk memahami negara-negara Islam. Hal ini bahkan lebih sulit bagi orang-orang di negara-negara Islam untuk memahami pemerintah yang tidak menegakkan moralitas serta hukum perdata. Karena mereka tidak mengerti prinsip pemisahan pemerintah dari agama, ketika orang di negara-negara Islam melihat majalah bangsa Barat dengan ketelanjangan atau ketelanjangan dekat, mereka percaya bahwa apa yang mereka lihat adalah Kristen! Setelah semua, mereka diberitahu bahwa Amerika Serikat adalah negara Kristen. Ketika mereka melihat sebuah program satelit yang berasal dari Playboy, mereka berpikir bahwa adalah Ketika mereka melihat televisi komersial untuk setiap jenis minuman beralkohol, mereka berpikir bahwa adalah Kristen! Mereka tidak memahami pemisahan pemerintah dan agama. Mereka tidak bisa memahami mengapa mereka yang memproduksi bahan-bahan tersebut tidak dihukum oleh pemerintah.

Muslim percaya bahwa Syariah bukan sesuatu kecerdasan manusia dapat membuktikan salah, itu hanya dapat diterima oleh manusia, karena didasarkan pada kehendak Allah. uslim memandang agama mereka dan pemerintah yang ditahbiskan oleh Allah.Ini adalah keyakinan mereka bahwa Islam dimaksudkan untuk menjadi agama seluruh umat manusia.Ini adalah menjadi agama universal untuk menggantikan Yudaisme, Kristen, dan semua yang lain.Sementara Muslim mungkin menyangkalnya, mereka bersedia untuk menggantikan agama-agama lain pertama oleh konversi, maka penekanan dan bahkan konflik bersenjata. Di Filipina, ada populasi Muslim tumbuh yang mengagitasi untuk lembaga hukum Islam. Mereka tidak ragu-ragu untuk menggunakan kekerasan untuk mencoba menerapkan keyakinan mereka.

Muslim mengklaim bahwa ada kebebasan beragama di bawah Syariah. Islam Ketika Islam Keuntungan representasi yang kuat dalam populasi, mereka ingin memaksakan Syariah di setiap orang, karena mereka percaya bahwa itu adalah hukum-satunya yang datang langsung dari Allah.

Kesetaraan Hukum dalam Islam

Permasalahan persamaan atau kesetaraan penerapan hukum merupakan masalah yang senantiasa menarik perhatian. Betapa banyak upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mewujudkannya agar hukum-hukum yang berlaku dapat diterapkan kepada siapa saja. Sejumlah tokoh negarawan telah berusaha semaksimal mungkin untuk menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk undang-undang demi tercapainya sebuah cita-cita yang diidam-idamkan.

Agama Islam yang datang sebagai rahmat untuk seluruh alam semesta telah menetapkan prinsip kesetaraan dalam hukum. Bahkan dalam masalah ini, Islam telah mendahului para penyeru kesetaraan hukum dari kalangan tokoh-tokoh negarawan di berbagai masa. Sudah barang tentu, kesetaraan yang ditawarkan oleh Islam bukan semata-mata bersifat teoritis sebagaimana yang terjadi di berbagai negara. Hukum buatan manusia seakan-akan sangat sulit untuk diterapkan secara merata untuk seluruh lapisan. Hanya sedikit saja yang bisa diterapkan secara merata, itupun tidak terlepas dari pihak-pihak yang mempunyai kepetingan-kepentingan tertentu. Kesetaraan hukum dalam Islam telah dibuktikan secara nyata oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kemudian dilanjutkan oleh para sahabat beliau dan terus dilaksanakan oleh masyarakat muslimin di seluruh dunia. Kita akan melihat sekelumit contoh-contoh nyata kesetaraan hukum dalam Islam yang telah diterapkan dan akan senantiasa diterapkan di negeri-negeri muslim.

Contoh pertama adalah masalah obyek pembebanan syari’at Islam. Pembebanan syari’at berlaku untuk semua kalangan yang tidak mempunyai udzur baik berupa shalat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya.

Contoh kedua adalah Shalat, yang merupakan rukun Islam kedua, menunjukkan sebuah kesetaraan yang dapat terlihat jelas. Kaum muslimin berdiri berjajar dalam satu barisan tanpa membedakan status sosial, usia, dan warna kulit. Demikian pula dalam hal pakaian ihram yang menyatukan muslimin dari seluruh penjuru dunia.

Hukum-hukum had ditegakkan bagi siapa saja yang memang semestinya menerimanya tanpa ada pengecualian. Berbeda halnya dengan apa yang terjadi di umat-umat lain yang hanya menerapkan hukuman kepada orang lemah saja. Telah terjadi sebuah peristiwa pencurian yang dilakukan oleh seorang wanita dari Bani Makhzum di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian keluarga wanita inipun meminta bantuan kepada Usamah bin Zaid, yaitu orang yang sangat dicintai oleh Nabi, untuk memohon kepada Nabi agar diringankan hukumannya. Ketika Usamah menyampaikan maksudnya kepada Nabi, beliau bereaksi dengan sikap marah seraya berkata, “Apakah engkau hendak memohon keringanan kepadaku dalam masalah hukum-hukum had yang telah ditetapkan oleh Allah?” Kemudian beliau berkhutbah sambil berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya yang menyebabkan tersesatnya umat-umat sebelum kalian adalah sikap mereka di mana jika ada seseorang yang berkedudukan mencuri, mereka membiarkannya (tidak menerapkan hukuman), namun jika pelakunya adalah orang lemah maka hukuman ditegakkan. Demi Allah seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, maka sesungguhnya Muhammad sendiri yang akan memotong kedua tangannya.”

Penerapan qishash kepada semua pihak meskipun terdapat perbedaan kedudukan. Ada seorang lelaki yang bermaksud untuk mengadu suatu permasalahan kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab, yang saat itu sedang sibuk. Umar pun berkata dengan nada marah, “Mengapa orang-orang jarang mengadu kepadaku ketika aku longgar, namun ketika aku sibuk mereka selalu mengadu kepadaku?”, kemudian beliau memukul orang tadi dengan tongkat karena marah. Lelaki itupun hanya bisa pasrah kemudian pulang dalam keadaan sedih. Beberapa saat kemudian Umar menyadari kekeliruannya karena menzhalimi orang itu. Beliaupun memanggilnya untuk menawarkan qishash atas dirinya seraya menyerahkan tongkat untuk dipukulkan ke tubuhnya. Namun lelaki tadi menolak dan mengikhlaskannya. Umar pun kemudian masuk ke dalam rumahnya lalu shalat dua rakaat. Beliau kemudian berkata kepada dirinya sendiri, “Wahai Ibn Al-Khattab, dahulu engkau hina kemudian Allah mengangkat derajatmu. Dahulu engkau sesat, kemudian Allah memberikan hidayah kepadamu. Dahulu engkau lemah, kemudian Allah memberikan kekuatan kepadamu, bahkan menjadikanmu sebagai khalifah. Lalu datang seorang lelaki hendak mengadu kepadamu namun engkau malah menzhaliminya. Apa yang akan engkau katakan di hadapan Allah kelak?” Beliaupun terus menyesali perbuatannya dan menangis hingga orang-orang mengkhawatirkan keadaan dirinya. Kita dapat mengambil kesimpulan dari kisah ini, betapa Islam benar-benar menjunjung tinggi kesetaraan hukum, sampai-sampai seorang khalifah mau melakukan hal seperti ini.

Terwujudnya kesetaraan hukum dalam masalah pengadilan suatu perkara tanpa membedakan apakah dia tua atau muda, muslim atau kafir. Ada dua contoh dalam masalah ini:

  • Contoh pertama, ketika datang seorang lelaki kepada Umar bin Khattab untuk mengadukan Ali bin Abi Thalib. Umar berkata kepada Ali, “Berdirilah wahai Abu Al-Hasan dan duduklah di samping orang yang bersengketa denganmu.” Maka berdirilah Ali dengan wajah masam kemudian duduk di sebelah lelaki tersebut. Setelah mengemukakan masalah, Umar kemudian memutuskan perkara di antara mereka berdua. Kemudian setelah masalah selesai dan lelaki tersebut pergi, Umar berkata kepada Ali, “Ada apa sebenarnya engkau ini, mengapa wajahmu berubah ketika aku menyuruhmu duduk di sebelah lelaki tadi? Apa ada hal yang tidak engkau sukai?” Ali kemudian menjawab, “Benar, memang aku tidak suka. Mengapa engkau memanggilku dengan nama kunyah di depan lelaki tadi. Pemanggilan dengan nama kunyah termasuk bentuk pemuliaan terhadap orang yang dipanggil. Mengapa engkau tidak mengatakan saja “Berdirilah wahai Ali dan duduklah di samping lelaki ini” ? Kemudian Umar pun mencium kening Ali bin Abi Thalib karena kagum akan sikapnya.
  • Contoh kedua, yaitu apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab ketika menegakkan hukuman qishash kepada putra Amr bin Al-’Ash karena pengaduan seorang penduduk Mesir. Pada saat itu, putra Amr bin Al-’Ash kalah dalam lomba berkuda dengan seorang penduduk Mesir. Kemudian dia berbuat zhalim terhadap orang Mesir tersebut dengan menggunakan ketinggian kedudukan ayahnya yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Mesir. Umar pun memanggil putra Amr bin Al-’Ash dan sekaligus bapaknya. Seraya menegakkan qishash, Umar berkata kepada Amr bin Al-’Ash dengan perkataan yang sangat masyhur, “Wahai Amr, sejak kapan engkau memperbudak manusia, padahal mereka terlahir dari rahim-rahim ibu mereka dalam keadaan merdeka.”

Inilah agama Islam yang senantiasa menyerukan kepada keadilan dan kesetaraan hukum dalam berinteraksi dengan sesama. Dan demikian pula kaum muslimin yang dipelopori oleh generasi terbaik mereka, dengan keikhlasan mereka menerapkan prinsip-prinsip kesetaraan dengan sebaik-baiknya. Karena memang dengan inilah kenikmatan akan dirasakan oleh manusia, dengan kesetaraan hukum yang tanpa membedakan warna kulit, bahasa, dan negara.

(Sumber Rujukan: Al-Musaawaatu Al-Haqqatu, diterjemahkan secara bebas oleh Al-Akhi Rizal Alifi)

 

By : Subuki kiki


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: