Oleh: subuki | Juni 18, 2012

Antara Sabar Dyukur

Antara Sabar Dyukur

Pasang surut yg mewarnai kehidupan sebuah rumah tangga tdk hanya dlm hal hubungan pribadi antara suami dan istri namun juga menyangkut anak dan rizki. Kesabaran dan sikap syukur menjadi modal yg mesti dimiliki dlm hal ini.

Setiap insan yg hidup di muka bumi ini pasti pernah mengalami suka dan duka. tdk ada insan yg diberi duka sepanjang hidup krn ada kala kemanisan hidup menghampirinya. Demikian pula sebalik tdk ada insan yg terus merasa suka krn mesti suatu ketika duka menyapanya. Bila demikian tidaklah salah pepatah yg mengatakan “Kehidupan ini ibarat roda yg berputar” terkadang di atas terkadang di bawah. Terkadang bangun dan sukses terkadang jatuh dan bangkrut kadang kalah kadang menang kadang susah kadang bahagia kadang suka dan kadang duka Begitulah kehidupan di dunia ini kesengsaraan dapat berganti bahagia namun kebahagian tidaklah kekal.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِيْنَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah sesungguh kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yg melalaikan perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian serta berbangga-bangga dlm banyak harta dan anak seperti hujan yg tanam-tanaman mengagumkan para petani kemudian tanaman itu menjadi kering dan kalian lihat warna kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yg keras/pedih dan ada pula ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia itu tdk lain kecuali hanya kesenangan yg menipu.”
Suka duka pun suatu kemestian yg dialami sepasang suami istri dlm mengarungi bahtera rumah tangga krn kesempitan atau kelapangan kesulitan atau kemudahan datang silih berganti. Ketika diperoleh apa yg didamba mereka bersuka. Tatkala luput apa yg diinginkan atau hilang apa yg dicintai mereka berduka.
Sebagai seorang yg beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengimani takdir-Nya sudah semesti suka dan duka itu dihadapi dgn syukur dan sabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan dua sifat ini di dlm firman-Nya:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّاٍر شَكُوْرٍ

“Sesungguh pada yg demikian itu terdapat tanda-tanda bagi tiap orang yg banyak bersabar lagi bersyukur.”
Qatadah rahimahullahu menafsirkan ayat di atas dgn mengatakan “Dia adl hamba yg bila diberi bersyukur dan bila diuji bersabar.”
Rasul yg mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa mukmin yg sabar atas musibah/duka yg menimpa dan bersyukur atas ni’mat/suka yg diterima akan mendapatkan kebaikan. Kabar gembira ini tersampaikan kepada kita lewat sahabat beliau yg mulia Shuhaib Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu. Shuhaib berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ لَهُ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkara adl kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur mk yg demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kemudaratan/kesusahan1 ia bersabar mk yg demikian itu baik baginya.”
Ketika menjelaskan hadits di atas Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menyatakan bahwa tiap manusia tdk lepas dari ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takdir-Nya. Bisa jadi ia dlm kelapangan dan bisa jadi dlm kesempitan. dlm hal ini manusia terbagi dua: mukmin dan selain mukmin. Seorang mukmin senantiasa dlm kebaikan pada tiap keadaan yg Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan baginya. Bila ditimpa kesusahan ia bersabar dan menanti datang kelapangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mengharapkan pahala mk ia pun meraih pahala orang2 yg bersabar. Bila mendapatkan kelapangan berupa ni’mat agama seperti ilmu dan amal shalih ataupun ni’mat dunia berupa harta anak dan istri ia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn taat kepada-Nya krn yg nama bersyukur tdk sebatas mengucapkan “Aku bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Adapun selain mukmin mendapat kesempitan ataupun kelapangan sama saja bagi krn ia selalu berada dlm kejelekan. Bila ditimpa kesempitan/kesusahan ia berkeluh kesah mencaci maki dan mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila mendapat kelapangan ia tdk bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat yg telah memberikan ni’mat.
Seorang mukmin dan mukminah dlm menjalani kehidupan rumah tangga harus berada di antara kesyukuran dan kesabaran. Karena ia tdk luput dari takdir yg baik ataupun yg buruk. Mungkin ia belum dikaruniai anak mk ia harus bersabar krn anak adl pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia memberikan kepada siapa yg Dia kehendaki dan terkadang Dia menguji hamba-Nya dgn tdk segera atau tdk sama sekali memberi keturunan.

لِلَّهِ مُلْكُ السَّماَوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُوْرَ. أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيْمًا إِنَّهُ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa saja yg Dia kehendaki. Dia menganugerahkan anak perempuan kepada siapa yg Dia kehendaki dan memberikan anak laki2 kepada siapa yg Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki2 dan perempuan . Dia pun menjadikan mandul siapa saja yg Dia kehendaki. Sesungguh Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
Anak diperoleh bukan krn kemahiran seseorang bukan krn kejantanan kekuatan atau kepandaiannya. Berapa banyak orang yg kuat dan memiliki keutamaan lagi kemuliaan namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk memberi keturunan. Lihatlah istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka tdk beroleh keturunan dari pernikahan mereka dgn Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali Khadijah radhiyallahu ‘anha dan budak beliau Mariyah radhiyallahu ‘anha. Lihat pula Nabi Ibrahim dan Nabi Zakariyya ‘alaihimassalam kedua dikaruniai anak tatkala usia telah senja tulang-tulang telah melemah rambut telah dipenuhi uban dan istri pun telah tua lagi mandul2. Lihat pula Maryam ibunda ‘Isa ‘alaihissalam dikaruniai anak tanpa pernah menikah dan tanpa pernah disentuh oleh lelaki3. Dengan demikian beroleh anak atau tdk perkara kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia yg memberi dan Dia yg menahan.
Bila seseorang diberi ni’mat berupa anak hendaklah ia bersyukur kepada Dzat yg telah memberikan anugerah. Namun bila tdk mk tdk ada yg bisa dilakukan oleh seorang mukmin kecuali tunduk sabar ridha dgn ketetapan-Nya dan berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala krn Dia tdk pernah berbuat dzalim kepada hamba-hamba-Nya. Dia Maha Tahu apa yg terbaik bagi hamba-hamba-Nya sementara hamba-hamba-Nya tdk tahu apa yg baik bagi mereka.

وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Allah Maha Mengetahui sementara kalian tdk mengetahui.”
Dalam masalah rizki juga demikian. Ketika seorang mukmin dlm kehidupan rumah tangga tdk memperoleh rizki yg lapang dlm kemiskinan tiada berharta ia pun harus bersabar. Karena kelapangan dan sempit rizki kaya atau miskin seseorang telah dicatat dan ditetapkan dlm catatan takdir dgn keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia memberi rizki kepada siapa yg dikehendaki-Nya dan Dia menyempitkan kepada siapa yg Dia kehendaki sementara Dia tdk berbuat dzalim kepada hamba-hamba-Nya.
Ingatlah keni’matan kemegahan dan kekayaan dunia bukan jaminan keselamatan di akhirat nanti. Kalaulah kekayaan itu suatu keutamaan dan keadaan yg paling afdhal niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan kekasih-Nya manusia pilihan-Nya junjungan anak Adam yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yg terkaya di dunia bergelimang harta dan kemewahan.
Tapi ternyata tdk demikian kenyataannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup dgn penuh kesahajaan dan kesederhanaan. Terkadang tdk ada makanan yg dapat disantap di rumah beliau sehingga beliau berpuasa. Dikisahkan hal ini oleh istri beliau yg shalihah Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟ فَقُلْنَا: لاَ. قَالَ: فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ

Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku lalu berta “Apakah ada makanan pada kalian ?” “Tidak ada” jawab kami. “Kalau begitu aku puasa” kata beliau.
Sampai-sampai utk membeli makanan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berhutang dgn menyerahkan baju besi beliau sebagai jaminan. Masih dari kisah Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

اشْتَرَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُوْدِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيْئَةٍ، فَأَعْطَاهُ دِرْعًا لَهُ رَهْنًا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membeli makanan dgn pembayaran di belakang beliau memberi baju besi kepada si Yahudi sebagai jaminan.”
Betapa sabar istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn kekurangan dunia yg mereka terima selama hidup dgn suami mereka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun wafat tanpa meninggalkan warisan utk mereka. Kata ‘Amr ibnul Harits saudara Ummul Mukminin Juwairiyyah bintul Harits radhiyallahu ‘anha:

ماَ تَرَكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مَوْتِهِ دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَلاَ عَبْدًا وَلاَ أَمَةً وَلاَ شَيْئًا إِلاَّ بَغْلَتَهُ الْبَيْضَاءَ الَّتِي كَانَ يَرْكَبُهَا وَسِلاَحَهُ وَأَرْضًا جَعَلَهَا لاِبْنِ السَّبِيْلِ صَدَقَةً

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala wafat tdk meninggalkan dinar dirham budak laki2 budak perempuan dan tdk meninggalkan harta sedikitpun kecuali seekor bighal yg berwarna putih yg dulu biasa beliau tunggangi dan pedang serta sebidang tanah yg beliau jadikan sebagai sedekah utk musafir.”
Demikian sebagai anjuran utk bersabar dgn kesulitan hidup..
Ketika rizki datang pada si mukmin dan kelapangan hidup menyertai mk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus diwujudkan. Tidak hanya mengucapkan syukur dgn lisan disertai keyakinan hati namun harus pula diiringi dgn amalan yaitu membelanjakan harta tersebut di jalan yg diridhai oleh Sang Pemberi Nikmat dgn infak dan sedekah.
Memiliki rasa syukur ini sungguh suatu keutamaan dan anugerah krn sedikit dari hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yg mau bersyukur sebagaimana dinyatakan dlm Tanzil-Nya:

وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

“Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yg mau bersyukur.”
Siapa yg bersyukur Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menambah ni’mat-Nya. Adapun orang yg enggan utk bersyukur ia akan diazab:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ

“Apabila kalian bersyukur Aku sungguh-sungguh akan menambah keni’matan bagi kalian dan sebalik bila kalian kufur ni’mat mk sungguh azabku sangat pedih.”
Hadapilah liku-liku kehidupan berumah tangga dgn sabar dan syukur niscaya kebaikan akan diperoleh. Memang “Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Kemudaratan di sini sifat umum baik yg menimpa tubuh ataupun menimpa keluarga anak atau hartanya.
2 Nabi Zakariyya ‘alaihissalam ketika berdoa minta keturunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

“Wahai Rabbku sesungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dlm berdoa kepada-Mu wahai Rabbku.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa Nabi Zakariyya ‘alaihissalam dgn memberi kabar gembira kepada akan beroleh seorang putra. Nabi Zakariyya ‘alaihissalam pun takjub dgn berita tersebut hingga beliau berkata dgn heran:

قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُوْنُ لِي غُلاَمٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا

“Wahai Rabbku bagaimana aku akan beroleh anak padahal istriku adl seorang yg mandul dan aku sendiri sudah mencapai umur yg sangat tua.”
3 Ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam menemui Maryam dlm bentuk seorang manusia guna memberi kabar gembira kepada Maryam bahwa ia akan beroleh seorang putra Maryam pun berkata dgn heran:

قَالَتْ أَنَّى يَكُوْنُ لِي غُلاَمٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

“Maryam berkata ‘Bagaimana aku akan beroleh anak sementara tdk ada seorang lelaki pun yg pernah menyentuhku dan aku sendiri bukan seorang pezina?’.”

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: